DENPASAR, kanalbali.id – Sejak awal 2026, Bali masih dihadapkan pada cuaca ekstrem. Kondisi ini berdampak pada berbagai bencana yang menimpa Bali.
Terhitung pada Bulan Januari saja telah terjadi 12 jenis kejadian bencana. Dalam laporan resmi BPBD se-Bali, terdapat 495 kejadian yang telah ditangani.
“Dari sepuluh tahun terakhir memang tren kejadian bencana hidrometeorologi itu memang lebih besar persentasenya dibanding bencana geologis. Pada tahun 2025, 90% lebih adalah bencana hidrometeorologi, baik kering ataupun basah. Ada 2.644 penanganan yang telah kami lakukan,” ungkap Della Ema Nurdiana, Penelaah Teknis Kebijakan dari BPBD Provinsi Bali.
Bali kembali menjadi sorotan atas berbagai bencana hidrometeorologi yang menyambut awal tahun 2026. Kondisi ini pun belum segera surut di bulan pertama.
BMKG menyampaikan curah hujan dengan intensitas ekstrem (216,9 mm/hari) di Bali juga terjadi hingga periode akhir Februari. Fenomena ini dipengaruhi oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) yang telah mempengaruhi kondisi atmosfer, sehingga memperkuat pembentukan awan hujan di Indonesia.
Ancaman semakin terasa, ketika tiga bibit siklon mulai mendekati Indonesia, yaitu Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia, Bibit Siklon Tropis 93S di barat laut daratan Australia, dan Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria–sebelah selatan Papua. Dari tiga yang dilaporkan, Bibit Siklon 90S di Samudra Hindia yang berpotensi mengancam. Kemunculannya semakin memperkuat pembentukan awan hujan dan menghadirkan angin kencang.
Perubahan iklim telah menjadi perhatian berbagai pihak, mengingat dampaknya yang semakin terlihat, menjadi isu lingkungan yang interseksional.
Untuk itu, pemerintah Provinsi Bali melalui dukungan Program SIAP SIAGA (Kemitraan Australia-Indonesia Untuk Manajemen Risiko Bencana), mengupayakan langkah strategis melalui kegiatan “Penyusunan Rancangan Rencana Kerja Perangkat Daerah (Renja OPD) Tematik Resiliensi terhadap Bencana dan Perubahan Iklim Provinsi Bali Tahun 2027”.
Penyusunan Renja ini mengacu pada mandat pembangunan nasional yang tertuang dalam RPJPN 2025-2045 dan selaras dengan kebijakan RPJMN 2025-2029 yang mengedepankan ketahanan iklim dan kebencanaan bagi prasyarat transformasi ekonomi.
“Perubahan iklim saat ini memang ekstrem, namun dari sisi perencanaan harus kita mitigasi. Seluruh perangkat daerah harus berperan, tidak hanya dinas terkait fungsi kebencanaan. Administrasi harus bisa melihat bencana dengan antisipasi, sekaligus mitigasi di dalam dokumen pembangunan kita,” ungkap I Wayan Wiasthana Ika Putra, Kepala Bappeda Provinsi Bali.
Isu perubahan iklim dan upaya penanggulangan bencana pun menjadi agenda prioritas dalam RPJMD Provinsi Bali. Secara khusus tertuang dalam Tujuan 6 “Terwujudnya Stabilitas Keamanan Sosial di Masyarakat” dengan Sasaran 2 “Meningkatkan Ketahanan Daerah terhadap Bencana dan Perubahan Iklim”.
“Berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana, kami melihat tiga isu strategis, yakni kurangnya kesadaran kolektif atas risiko bencana dan perubahan iklim, belum optimalnya sinergitas, serta pembangunan yang belum sepenuhnya menyertai pengelolaan risiko bencana. Jika output dari lokakarya ini tercapai, otomatis tiga isu strategis ini sudah terlaksana, sudah selesai,” jelas Della Ema Nurdiana ketika memaparkan informasi tentang kebutuhan pengurangan risiko bencana berdasarkan dokumen Kajian Risiko Bencana dan Rencana Penanggulangan Bencana Provinsi Bali.
Kegiatan renja yang berlangsung pada 11-13 Maret 2026 ini mempertemukan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provinsi Bali. Harapannya melalui pertemuan dan diskusi kolaboratif ini mampu mendorong pengintegrasian agenda resiliensi bencana dan perubahan iklim ke dalam prioritas pembangunan daerah.
Selian itu, memperkuat kapasitas perangkat daerah terkait perubahan iklim dan penanggulangan bencana; serta mendorong kolaborasi lintas sektor dan kemitraan pembangunan untuk mewujudkan resiliensi terhadap bencana dan perubahan iklim di Provinsi Bali.
Siklon tropis yang mengarah ke daratan Indonesia tidak terlepas dari dampak perubahan iklim. Siklon tropis awalnya terbentuk di laut dengan suhu muka laut yang hangat. Awalnya aktivitas ini menjadi fenomena.
Namun semakin dekat ke daratan, lalu menghadirkan bencana. Siklon dapat dipengaruhi aktivitas atmosfer yang tidak stabil. Sebagian besar wilayah di dunia menghadapi peningkatan bahaya akibat perubahan iklim, termasuk kehadiran siklon tropis yang semakin kuat.
Peningkatan suhu laut akibat perubahan iklim mendorong pembentukan siklon tropis yang frekuensinya semakin besar. Beberapa ilmuwan pun memprediksi aktivitas siklon tropis di dekat pesisir dan yang menembus lebih jauh ke daratan akan meningkat di masa depan karena pengaruh perubahan iklim. ( kanalbali/RLS )


