Kesenjangan Literasi Digital di Wilayah 3T

pixabay by coyot

INDONESIA memiliki karakteristik geografis yang beragam. Hal ini bisa menjadi sebuah kekayaan tetapi juga permasalahan ketika kita tidak mampu mengelola dan membangunnya dengan baik. Keragaman tersebut juga masuk ke ranah teknologi, kalau itu dituntut sama akan terasa ketimpangan di dalamnya.

Dalam tingkat literasi saja, Indonesia menempati urutan ke 62. Minat baca literasi orang Indonesia hanya 0,001 persen yang berarti dari 1000 orang masyarakat Indonesia hanya 1 yang suka membaca.

“Tentu saja ini menjadi PR kita bersama untuk mendorong terus semua elemen bangsa untuk gotong royong meningkatkan literasi baca, numerik, dan digital,” ujar Lalu Nurul Yaqin, Direktur LPPM UGR dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Lombok Timur, NTB, Senin (15/11/2021).

Ia menjelaskan, daerah 3T sendiri merupakan daerah tertinggal, terdepan, dan terluar. Ketika sebuah masyarakat sudah keluar dari wilayah 3T, pemerintah harus memberikan hal-hal yang unggul pada masyarakat tersebut. Dalam dunia digital, kesenjangan di masyarakat terletak pada kemampuan mengakses teknologi dan komunikasi.

Kesenjangan ini terdiri atas konektivitas dan aksesibilitas yang tidak merata. Kemudian, pelayanan dasar yang tidak merata, sumber daya alam dan pembangunan yang tidak optimal karena dipengaruhi karakteristik wilayah, serta perkembangan wilayah pusat dan daerah yang tidak merata.

Berita Hoaks Bisa Menimbulkan Intoleransi

Hasil dari survey Katadata dan Kominfo, kendala terbesar pengaksesan internet ialah jaringan yang tidak stabil sehingga menyebabkan koneksi mudah terputus. Sementara itu, indeks literasi digital di wilayat 3T lebih unggul daripada skala nasional.

“Di sini perlu diberikan semacam lebih banyak perhatian di wilayah-wilayah 3T. Tetapi sekarang kesenjangan itu masih ada pada ranah e-commerce, e-government, dan e-learning,” ungkap Yaqin.

Contoh kasusnya ketika awal masa pandemi ada sekolah online. Di daerah 3T masyarakatnya belum terbiasa menggunakan device-device e-learning. Meski saat ini, beberapa masyarakat telah bisa menggunakannya. Ketiga hal tersebut (e-commerce, e-government, e-learning) belum maksimal penggunaannya di daerah 3T.

Di samping itu, agar kemampuan masyarakat 3T dalam literasi digital tetap meningkat, kita perlu memfasilitasi pelatihan-pelatihan pada masyarakat 3T, menyediakan fasilitas dompet digital untuk meningkatkan pendapatan asli daerah, dan pengembangan produk ekonomi lokal berbasis ekonomi digital. Yaqin menuturkan, dari segi SDMnya, masyarakat 3T perlu dilatih agar bisa berpikir kritis untuk menerapkan keempat pilar literasi digital, kemampuan mengidentifikasi hoaks perlu diperkuat, hingga edukasi mengenai bahayanya menaruh informasi pribadi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Lombok Timur, NTB, Senin (15/11/2021) juga menghadirkan pembicara, Josephine Brigtnessa (Marketing Manager), Andrew Paulo (Forex Trader), dan Marizka Juwita (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.