DENPASAR, kanalbali.id – Misinformasi telah menjadi ancaman yang nyata bagi disharmoni dan keretakan sosial. Apalagi setelah merebaknya media sosial yang memberi peluang bagi siapa saja menyebarkan informasi.
Terkait hal itu, Tim Riset Universitas Airlangga melakukan penelitian Misinformation inciting Public Panic: Sentiment Analysis of Youth in Indonesia.
Tim yang diketuai oleh Dr. Muhammad Saud BS., MS. telah menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan berbagai media di Bali, Kamis (5/3).
Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kanal Bali, Mafindo Bali, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali, BaleBengong.
Dr. Sudarso, Drs., M.Si. selaku anggota penelitian menjelaskan bahwa Bali menjadi salah satu cakupan tujuan penelitian ini disebabkan oleh pengaruh budaya yang melekat pada masyarakat, terutama mulai tereksposnya Bali di sosial media Internasional.
Bertemu Umbu Landu Paranggi dalam Mimpi
“Kami ingin meneliti penyebaran misinformasi pada masyarakat Bali, yang mana wilayah dengan kondisi budaya, politik, dan agama sedang rentan tersebarnya misinformasi” ujar Dr. Sudarso.
“Apalagi Bali kini kian dikenal oleh masyarakat global melalui media sosial, kami ingin melihat adakah keunikan jika dibanding wilayah besar lain di Indonesia,” tambahnya.
Pada momen FGD tersebut, sejumlah perwakilan media menuturkan bahwa misinformasi masih menjadi persoalan besar di wilayah Bali.
I Nengah Muliarta dari AMSI , menemukan fenomena dimana masyarakat kurang bisa menelaah perbedaan informasi dan berita. Akibatnya, masyarakat tidak bisa membedakan apakah unggahan yang mereka lihat adalah berita dari kanal resmi, atau hanya opini orang tertentu saja.
Diskusi yang dilaksanakan juga fokus kepada kemampuan masyarakat, bahkan wartawan, dalam menelaah suatu informasi atau berita. Sebagian misinformasi justru timbul dari media, melalui ketidakpahaman wartawan dalam membedakan antara informasi dan berita, hingga banyaknya iklan yang menawarkan informasi-informasi palsu tanpa langkah verifikasi. Seluruh peserta FGD sepakat jika misinformasi menjadi ancaman di sosial media.
“Karena memang misinformasi ini cukup membahayakan di sosial media.” Ujar Hendro Margono S.Sos., M.Sc.,Ph.D., selaku anggota penelitian.
Di kalangan wartawan dan jurnalis, umum dipahami adanya fitur adsense. Fitur ini memungkinkan website atau portal berita yang menampilkan iklan dan mendapatkan penghasilan dari pengunjung web. Fitur yang dinilai menguntungkan jurnalis maupun wartawan, terkadang justru menyalahi kebenaran itu sendiri karena menjadi salah satu pemicu tersebarnya berita-berita clickbait yang simpang siur.
Kuasa dan pengaruh media menjadi isu menarik yang dibahas ketika FGD. Jika ditilik ketika maraknya COVID-19, media sosial bergerak menjadi pusat interaksi sosial masyarakat dan menggeser peran media tradisional. Jika pada masa sebelumnya, pemberitaan media tradisional lahir dari informasi yang digali secara langsung oleh para jurnalis, maka saat ini media tradisional banyak mengadopsi berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kredibilitasnya dari media sosial.
“Adanya pergeseran proses pengambilan informasi dan verifikasi dalam pembentukan berita media mainstream. Ketika COVID-19, media sosial lebih berkuasa dalam penyebaran suatu informasi,” Rofiqi hasan, Perwakilan dari Kanal Bali. Beliau juga menambahkan bahwa sejak 2018, media mainstream kerap terbawa arus informasi awal yang didapatkan dari media sosial.
Hal tersebut juga berkaitan dengan kepentingan pribadi yang menjadi salah satu alasan munculnya misinformasi. Banyak informasi yang sengaja dibuat berdasarkan pandangan politik/agama/identitas lainnya sebagai wujud pemenuhan hasrat pribadi/golongan tertentu.
Melihat banyaknya aspek-aspek yang mendorong penyebaran misinformasi di sosial media, hal ini tentu harus dilawan. Perlawanan terhadap penyebaran misinformasi harus dilakukan baik melalui program pemerintah, maupun sosialisasi kegiatan literasi dan cek fakta kepada masyarakat.
Mencari kebenaran dari suatu berita dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti menggunakan AI Fact Checker dan menelaah melalui press release yang dirilis oleh web atau kanal berita yang asli dan terpercaya.
Berbagai pembahasan menarik lainnya turut mengemuka pada ruang diskusi ini. Topik-topik yang disampaikan mencerminkan kepedulian kalangan akademik dan media terhadap peredaran isu misinformasi. Harapannya, kegiatan FGD ini mampu melahirkan kajian dan rekomendasi yang berkontribusi pada upaya penanggulangan misinformasi di ruang publik. ( kanalbali/RLS )


