Segelas Es Temulawak di Warung Om Gang (2)

Ilustrasi - Warung kelontong - IST
Ilustrasi - Warung kelontong - IST

Sebuah kota tidak hanya dikenang melalui jalan-jalan besar, gedung-gedung tinggi, atau pusat-pusat perbelanjaannya. Sebuah kota juga hidup di dalam ingatan tentang orang-orang baik yang pernah menghidupinya.

Oleh: Angga Wijaya

TANAH tempat warung itu berdiri ternyata hanyalah tanah sewaan. Setelah Om Gang berpulang pada usia lebih dari delapan puluh tahun, bangunan itu dikembalikan kepada pemiliknya.

Warung yang selama puluhan tahun menjadi tempat singgah banyak orang perlahan menghilang dari wajah Kota Negara.

Cik Ing kemudian pindah ke tempat lain di Kota Negara. Begitu pula Cik Wa yang telah puluhan tahun bekerja bersama keluarga Om Gang. Para karyawan lainnya menjalani kehidupan mereka masing-masing. Seperti para pelanggan yang dahulu memenuhi warung itu, mereka kini tersebar ke berbagai arah, membawa cerita hidup yang berbeda-beda.

Saya sering membayangkan berapa banyak kisah yang pernah singgah di warung itu. Mungkin ada anak sekolah yang belajar menghitung uang jajannya, pegawai yang melepas penat sepulang kerja, sopir yang beristirahat sebelum kembali mengemudi, atau pedagang pasar yang mengawali hari dengan secangkir kopi.

Warung sederhana itu mempertemukan orang-orang yang mungkin tidak akan saling mengenal seandainya tidak duduk di meja yang sama.

Setiap kota memiliki bangunan yang tercatat dalam sejarahnya. Ada kantor pemerintahan, alun-alun, jembatan, atau monumen yang terus dipelihara. Namun sebuah kota juga dibangun oleh tempat-tempat kecil yang nyaris tak pernah masuk arsip.

Warung tanpa nama seperti milik Om Gang adalah salah satunya. Di tempat-tempat seperti itulah hubungan antarmanusia tumbuh secara alamiah, tanpa dirancang, tanpa dipromosikan, bahkan tanpa disadari.

BACA JUGA: Segelas Es Temulawak di Warung Om Gang (1)

Barangkali bukan hanya Warung Om Gang yang telah tiada. Koran-koran cetak yang dahulu tersusun di atas mejanya pun satu per satu menghilang. Berita kini hadir melalui layar telepon genggam.

Kita memperoleh informasi jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Namun, tanpa disadari, kita juga kehilangan sesuatu, yakni, kesempatan berbagi bacaan dan percakapan yang lahir dari selembar koran yang dibaca bergantian.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa masa lalu lebih baik daripada masa kini. Setiap zaman memiliki kebajikan dan kekurangannya sendiri. Angkringan dan coffee shop adalah bagian dari wajah baru Kota Negara, sebagaimana Warung Om Gang pernah menjadi bagian dari wajah lamanya.

Yang saya sesalkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan hilangnya ruang-ruang sederhana yang pernah membuat orang saling mengenal.

Kadang-kadang saya bertanya kepada diri sendiri, seandainya dahulu tidak ada Warung Om Gang dan tumpukan Jawa Pos di atas mejanya, apakah saya akan tumbuh menjadi orang yang mencintai koran, buku, lalu memilih jalan hidup sebagai wartawan dan penulis? Saya tidak pernah benar-benar tahu jawabannya.

Yang saya tahu, setiap orang barangkali memiliki sebuah tempat yang diam-diam ikut membentuk hidupnya. Tempat yang tampak biasa ketika masih ada, tetapi baru terasa begitu penting setelah menghilang.

Bagi saya, tempat itu adalah Warung Om Gang. Kini, setiap kali menyeruput segelas es temulawak atau mencium aroma bubur kacang hijau yang baru matang, ingatan saya kembali ke sebuah warung kecil tanpa papan nama di Kota Negara.

Saya melihat lagi seorang lelaki tua berkemeja lusuh, berkacamata baca, duduk tenang di balik etalase sambil menyapa setiap pelanggan dengan senyum yang sama hangatnya.

Om Gang barangkali tidak pernah menganggap dirinya sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Ia hanya membuka warung setiap hari, memasak bubur kacang hijau, menyediakan koran, dan memperlakukan setiap orang dengan hormat. Namun dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itulah sebuah kehidupan perlahan dibentuk.

Saya percaya, sebuah kota tidak hanya dikenang melalui jalan-jalan besar, gedung-gedung tinggi, atau pusat-pusat perbelanjaannya. Sebuah kota juga hidup di dalam ingatan tentang orang-orang baik yang pernah menghidupinya.

Dan sebelum saya menjadi wartawan, penulis esai, atau penyair, saya lebih dahulu menjadi seorang pembaca di Warung Om Gang. ***

Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan esais. Sejak 2018 ia telah menulis 20 buku, kumpulan puisi dan buku kumpulan esai. Ia dapat dijumpai di akun Instagram: @anggawijaya548.

Apa Komentar Anda?