Kupas Strategi Cetak Maestro Tari Klasik, Rumah Budaya Tamansari Gelar Sarasehan di Puri Denpasar

Dari kiri: Indrawati Lukman, Retno Maruti, Ni Ketut Arini, dan Anak Agung Ayu Mirah Maheswari, dalam Sarasehan Budaya Taman Sari yang digelar Rumah Budaya Tamansari di Pendopo Puri Agung Denpasar, Sabtu (12/9) - IST
Dari kiri: Indrawati Lukman, Retno Maruti, Ni Ketut Arini, dan Anak Agung Ayu Mirah Maheswari, dalam Sarasehan Budaya Taman Sari yang digelar Rumah Budaya Tamansari di Pendopo Puri Agung Denpasar, Sabtu (12/9) - IST

DENPASAR, kanalbali.id – Perkembangan tari klasik nusantara berada dalam tantangan berat, khususnya karena kehadiran media sosial yang mendorong pembelajaran secara instan. Situasi ini kurang kondusif untuk melahirkan penari-penari maestro yang berdedikasi dalam menekuni dan mengembangkan seni tari.

Bahasan ini mengemuka dalam Sarasehan Budaya yang digelar Rumah Budaya Tamansari di Pendopo Puri Agung Denpasar, Sabtu (12/9/2026). Acara ini menghadirkan tiga maestro penari klasik yang sudah berkiprah lebih dari 50 tahun.

Yakni, Ni Ketut Arini dari Bali, Retno Maruti dari budaya Jawa, dan Indrawati Lukman dari khasanah budaya Sunda. Hadir pula akademisi yang juga penari senior Prof. Dr. I Made Bandem dan Prof. Dr. I Wayan Dibia.

“Kami gelar sekaligus sebagai peringatan 126 tahun Puputan Badung. Karena para maestro ini adalah juga para pahlawan di bidang kebudayaan,” kata Ketua Yayasan Rumah Budaya Tamansari, Anak Agung Ayu Mirah Maheswari yang akrab disapa Gung Mirah.

Pemilihan tempat di Pendopo Puri Denpasar sekaligus sebagai penghargaan karena pihak Puri telah melestarikan tari klasik melalui sanggar yang didirikan sejak 13 tahun lalu serta menjaga tari klasik Legong Kraton Lasem.

Sementara itu Palingsir Puri Agung Denpasar, Ida Palingsir Agung Putra Jambe Pemecutan mengungkapkan, tempat itu dibangun pada tahun 1927 setelah kepulangan leluhurnya dari masa pengasinngan di Pulau Lombok usai terjadinya peristiwa Puputan pada 1906.

“Kami menjaga pendopo ini agar sesuai pesan leluhur untuk digunakan sebagai sarana perjuangan dan sekarang ini untuk perjuangan kebudayaan,” tegasnya.

Penyerahan tumpeng kepada Palingsir Puri Agung Denpasar, Ida Palingsir Agung Putra Jambe Pemecutan   untuk menandai acara sarasehan - IST
Penyerahan tumpeng kepada Palingsir Puri Agung Denpasar, Ida Palingsir Agung Putra Jambe Pemecutan untuk menandai acara sarasehan – IST

Kesimpulan Sarasehan

Beberapa kesimpulan yang direkomondasikan sarasehan ini antara lain, Pertama, sangat diperlukan penanaman makna dan filosofi setiap gerakan tari saat belajar menari di usia muda sehingga dari kecil penari sudah bisa memahami menjiwai setiap gerakan tari yang dilakukan.

“Sehingga calon maestro tari klasik sudah mulai bisa terbentuk sejak usia dini,” sebutnya.

Kedua, sarasehan juga berharap para orangtua mengarahkan putra-putrinya untuk belajar menari di sanggar yang ‘benar’ tidak hanya melalui sosial media dimana siapapun bisa mengupload kreasi tari masing-masing yang belum tentu sesuai dengan pakem yang sudah diwariskan turun temurun

 Ketiga, masukan dari penanggap akademik, gerak pakem tari klasik seharusnya didokumentasikan dalam bentuk film dokumenter para maestro.menari, sehingga generasi muda ke depannya bisa belajar dengan melihat langsung dari pakar tari melalui film tersebut.

Terkait dengan sarasehan itu, Prof. Dr. I Made Bandem menyatakan, pentingnya peran para maestro dalam menjadi model bagi generasi muda. “Mereka itu memiliki kecintaan yang diwujudkan dalam kesedian untuk berlatih dan berkarya terus menerus,” tegasnya.

Ia menekankan perlunya, pimpinan sanggar untuk mulai melakukan talent scouting atau pencarian bakat untuk mencari anak-anak yang memiliki potensi menjadi maestro di masa depan sesuai dengan bakat yang mereka miliki.

Sementara Prof Wayan Dibia menegaskan, perlunya sanggar tari menseleksi bakat-bakat anak didiknya sesuai dengan kecenderungan dan potensi anak tersebut. “Apakah nantinya untuk tari Legong, Baris , Kebyar atau Jauk. Nah itu tempaannya akan berbeda karena tuntutan dari masing-masing tarian memang berbeda,” tegasnya.

Situasi saat ini memang menjadi tantangan karena seniman bisa saja bersikap pragmatis untuk sekedar mendapat penghasilan dari penampilan sebagai penari. Namun untuk menjadi seorang maestro dibutuhkan kecintaan dan semangat mengembangkan dirinya secara terus menerus.

Anak-anak berlatih menari di Puri Denpasr - IST
Anak-anak berlatih menari di Puri Denpasr – IST

Proses Sarasehan

Sarasehan diawali dengan paparan dari para maestro mengenai kisah hidup mereka dalam belajar tari klasik hingga mendapat kesempatan untuk tampil di berbagai pentas, termasuk di panggung internasional. Seiring waktu, mereka juga mengabdikan diri dalam mendidik generasi muda memiliki kemampuan menari melalui pendirian sanggar-sangar tari.

Ni Ketut Arini menceritakan perjalanan yang mengalami tempaan untuk menjadi penari sejak masih kanak-kanak. Kemudian, pada usia 14 tahun, dia adalah angkatan pertama dari sekolah KOKAR Bali (Konservatori Karawitan Indonesia) yang berdiri pada tanggal 30 September 1960.

“Saat itu situasinya belum seperti sekarang, untuk berangkat sekolah harus berjalan kaki,” tegasnya. Namun dengan kecintaannya pada seni tari, dia merasa semua kesulitan itu bisa terlewati dengan senang hati dan bukan beban yang berat.

Maestra tari Jawa Retno Maruti mengaku sejak kecil sudah akrab dengan kebiasaan menari. Terutama karena di sekolahnya di Solo ada kewajiban siswa mengikuti latihan menari. Dukungan keluarga juga sangat besar sehingga membuatnya bersemangat untuk menekuni dunia tari klasik.

Kesempatannya kemudian terbuka setelah adanya pentas kolosal Ramayana di Candi Prambanan pada tahun 70-an dimana dia yang masih berusia belasan tahun berperan sebagai Kidang Kencana. Saat itu, dia harus berkreasi karena tidak ada pakem yang jelas untuk tarian yang menggambarkan kelincahan kidang saat menggoda Dewi Sinta.

Setelah berpindah ke Jakarta pada 1973, dengan lingkungan yang lebih plural maka kreativitasnya makin terpacu. Namun kreativitas itu tetap dijaganya agar tidak melampaui batas-batas seni, khususnya saat mengkreasi seni klasik digabungkan dengan seni modern.

Sementara Indrawati Lukman menyebut, sebutan sebagai maestro itu adalah penghargaan dari publik. Dirinya hanya berjuang untuk menampilkan yang terbaik saat mementaskan suatu tarian dengan tetap menjaga pakem-pakem yang diwariskan.

Dari pengalaman pentas di berbagai negara dan bergaul dengan seniman internasional, dia berusaha memperkaya gerakan-gerakan dalam tarian Sunda. Toh demikian, yang menjadi nafas dari tariannya adalah pesan dari gurunya bahwa sebuah tarian harus memiliki nyawa dan gerakan, ekspresi serta komponen yang lain menjadi perwujudan dari hal itu. (Kanalbali/RFH)

Apa Komentar Anda?