Bagaimana Cara Mendeteksi Kesehatan Jiwa Anda?

Ilustasi - Gangguan Mental - pixabayi
Ilustasi - Gangguan Mental - pixabayi

Skrining bukan diagnosis. Ia merupakan pintu awal untuk mengenali kemungkinan adanya persoalan yang perlu diperhatikan dan, bila diperlukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan jiwa.

Oleh: Angga Wijaya

SETIAP orang memiliki kesehatan jiwa yang berbeda-beda. Kita tidak bisa serta merta mengetahui secara kasat mata, bahkan terhadap kondisi kita sendiri. Skrining menjadi penting karena tidak semua persoalan kesehatan jiwa langsung terlihat.

Kementerian Kesehatan telah menyediakan skrining kesehatan jiwa secara digital melalui SATUSEHAT Mobile sejak 2024.

Untuk pengguna dewasa, skrining menggunakan Self Reporting Questionnaire atau SRQ, sementara kelompok usia 10 sampai 17 tahun menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire.

Pada 2026, skrining tersebut semakin diperluas melalui integrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis. Dengan demikian, teknologi menjadi salah satu pintu masuk untuk mendeteksi lebih awal persoalan kesehatan jiwa.

Namun skrining bukan diagnosis. Ia merupakan pintu awal untuk mengenali kemungkinan adanya persoalan yang perlu diperhatikan dan, bila diperlukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan.

Teknologi, dalam konteks ini, seharusnya tidak hanya menjadi alat untuk mengumpulkan data. Ia bisa menjadi pintu kecil yang mengajak seseorang berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri, apakah saya benar-benar baik-baik saja?

Masalahnya, menemukan persoalan kesehatan jiwa belum tentu berarti seseorang mudah mendapatkan pertolongan.

Data Kementerian Kesehatan per 1 September 2026 mencatat Indonesia memiliki 1.495 psikiater, atau sekitar satu psikiater untuk setiap 180 ribu penduduk. Dari 3.513 psikolog klinis yang terdata, hanya 213 orang yang bertugas di puskesmas.

Kesenjangan layanan itu menjadi semakin penting ketika kita melihat persoalan depresi.

Data Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang kembali disampaikan Kementerian Kesehatan pada 2026 menunjukkan prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen atau sekitar 2,5 juta sampai 3 juta orang. Namun baru 12,7 persen dari mereka yang mendapatkan pengobatan.

BACA JUGA: Lali Jiwa, Ketika Diri Tersesat

Artinya, hampir sembilan dari sepuluh orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi berada pada kelompok usia 15 sampai 24 tahun.

Di balik kesenjangan tersebut ada persoalan biaya, jarak, keterbatasan tenaga kesehatan, pengetahuan, dan tentu saja stigma.

Gangguan jiwa masih sering dianggap sebagai kelemahan. Orang yang mengalami depresi dianggap kurang bersyukur. Orang yang mengalami kecemasan dianggap terlalu banyak berpikir. Orang yang mengalami psikosis bisa disebut kerasukan, terkena guna-guna, kutukan leluhur, atau karma.

Kepercayaan budaya tidak selalu harus dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Yang perlu dihindari adalah ketika penjelasan budaya membuat seseorang kehilangan kesempatan memperoleh pertolongan yang tepat.

Budaya dapat membantu seseorang memahami pengalaman. Ilmu pengetahuan membantu menjelaskan mekanismenya. Keduanya dapat berdialog selama manusia yang sedang mengalami penderitaan tetap ditempatkan sebagai pusat perhatian.

Sebab ketika seseorang sudah tidak mampu membedakan antara suara di dalam pikirannya dan kenyataan di luar dirinya, ia tidak membutuhkan ejekan. Ia membutuhkan pertolongan.

Ketika seseorang mengalami depresi, ia tidak membutuhkan ceramah tentang kurang bersyukur. Ia membutuhkan ruang yang aman untuk berbicara dan akses terhadap layanan yang tepat.

Persoalan kesehatan jiwa bahkan dapat sampai pada bentuk yang paling keras, ketika seseorang kehilangan kebebasan atas tubuhnya sendiri.

Data Kementerian Kesehatan pada triwulan III 2026 mencatat 2.365 warga masih mengalami pemasungan akibat gangguan jiwa berat, termasuk psikosis akut dan skizofrenia.

Pemasungan menunjukkan bahwa persoalan kesehatan jiwa bukan hanya persoalan individu. Ia juga menyangkut keluarga, masyarakat, sistem layanan kesehatan, kebijakan publik, dan cara kita memandang orang yang berbeda dari kebanyakan orang.

Saya sendiri membutuhkan waktu untuk memahami bahwa pemulihan tidak hanya berarti hilangnya gejala.

Setelah keluar dari rumah sakit, hidup tidak serta-merta menjadi mudah. Pemulihan bukan sebuah pintu yang sekali dibuka lalu semuanya selesai. Ia lebih mirip jalan panjang yang kadang terang, kadang gelap, dan membutuhkan kesabaran.

Saya kembali menjalani kehidupan di Denpasar. Saya bekerja sebagai wartawan, menulis, membuat buku, dan terlibat dalam komunitas yang memperjuangkan kesehatan mental.

Saya kemudian memahami bahwa pemulihan juga berarti mendapatkan kembali kehidupan.

Mendapatkan pekerjaan. Mempunyai teman. Mempunyai ruang untuk berbicara. Bisa mencintai. Bisa berkarya. Bisa tertawa. Bisa mempunyai cita-cita.

Bagi seseorang yang pernah kehilangan kendali atas pikirannya sendiri, hal-hal yang terlihat sederhana itu dapat menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Pemulihan juga tidak selalu berarti melupakan masa lalu. Kadang pemulihan justru berarti belajar berdamai dengan masa lalu tanpa membiarkannya menentukan seluruh masa depan.

Karena itu, kesehatan jiwa tidak hanya membutuhkan rumah sakit dan obat-obatan. Ia juga membutuhkan keluarga yang mau memahami, teman yang mau mendengarkan, lingkungan yang tidak menghakimi, tempat kerja yang lebih manusiawi, dan masyarakat yang bersedia mengurangi stigma.

Kementerian Kesehatan mendorong pendekatan sederhana ketika kita berhadapan dengan seseorang yang mengalami persoalan kesehatan jiwa, yaitu Tanya, Dengarkan, Temani, dan Hubungkan. Empat langkah ini ditujukan agar masyarakat dapat memberikan dukungan awal dan membantu seseorang terhubung dengan keluarga atau tenaga profesional ketika membutuhkan pertolongan lebih lanjut.

Empat kata itu sederhana. Tetapi bagi seseorang yang sedang tersesat, kesederhanaan bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Tanya apa yang sedang terjadi.

Dengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.

Temani agar ia tidak merasa sendirian.

Hubungkan dengan keluarga, komunitas, atau tenaga profesional yang dapat memberikan pertolongan.

Kita tidak harus menjadi psikiater untuk menunjukkan kepedulian. Kita tidak harus memahami seluruh teori psikologi untuk menjadi manusia yang bersedia mendengarkan.

Kita hanya perlu berhenti sejenak dan melihat manusia di hadapan kita sebagai manusia.

Lali jiwa bukan diagnosis dalam psikiatri. Ia adalah ungkapan budaya yang dapat membantu kita berbicara tentang pengalaman manusia.

Ia mengingatkan bahwa manusia dapat kehilangan arah bukan hanya karena tersesat di jalan, tetapi juga karena terlalu lama berjalan menjauh dari dirinya sendiri.

Kita hidup dalam zaman yang meminta manusia terus bergerak. Bekerja lebih cepat. Menghasilkan lebih banyak. Menampilkan kehidupan yang tampak baik di media sosial. Mengejar pengakuan. Membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, seseorang bisa saja sangat sibuk membangun kehidupan sampai lupa bertanya apakah kehidupan yang sedang dibangunnya masih membuatnya merasa hidup.

Saya tidak tahu apakah manusia bisa sepenuhnya terbebas dari kemungkinan lali jiwa. Barangkali tidak. Kehidupan dapat membuat seseorang terlalu sibuk mengejar uang, pekerjaan, pengakuan, cinta, kesuksesan, bahkan kesedihan, sampai lupa bertanya kepada dirinya sendiri apakah ia masih baik-baik saja.

Mungkin karena itu pertanyaan paling sederhana justru menjadi penting. Kapan terakhir kali kita benar-benar bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana kabarmu?” Bukan kepada orang lain, bukan kepada dunia maya, dan bukan kepada kehidupan yang ingin kita tampilkan kepada publik. Tetapi kepada diri sendiri.

Sebab mungkin lali jiwa bukan hanya tentang orang yang mengalami gangguan jiwa. Dalam pengertian yang lebih luas, ia adalah peringatan bagi siapa saja yang terlalu lama berjalan tanpa pernah menoleh kepada dirinya sendiri.

Ketika seseorang tersesat, ia tidak selalu membutuhkan orang yang menyalahkan arah jalannya. Ia membutuhkan seseorang yang bersedia berhenti, mendengarkan, lalu menunjukkan jalan pulang. Dalam kesehatan jiwa, jalan itu bisa berupa keberanian untuk bercerita, kesediaan menerima pertolongan, perawatan profesional, dukungan keluarga, atau sekadar kehadiran seseorang yang tidak pergi ketika keadaan menjadi sulit.

Barangkali itulah makna terdalam dari eling. Bukan sekadar mengingat, melainkan menyadari bahwa kita masih berada di sini. Masih mempunyai tubuh yang perlu dirawat, pikiran yang perlu didengarkan, perasaan yang perlu diterima, dan kehidupan yang layak diperjuangkan.

Dan ketika suatu hari kita menyadari bahwa kita telah terlalu jauh tersesat, mungkin yang paling kita butuhkan bukan penghakiman, melainkan jalan untuk pulang. Pulang kepada diri, pulang kepada kesadaran, pulang kepada kehidupan. Eling. (***)

 

Tentang Penulis

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali, yang menetap di Denpasar. Ia menulis esai kebudayaan, kehidupan urban Bali, puisi, serta isu kesehatan mental di berbagai media. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku.

Angga merupakan salah satu pendiri Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Bali, komunitas yang menjadi ruang dukungan, edukasi, dan advokasi bagi penyintas skizofrenia serta keluarga. Ia juga aktif dalam kegiatan literasi kesehatan jiwa dan menulis dari perspektif pengalaman hidup sebagai penyintas skizofrenia.

Selain menulis untuk berbagai media, Angga mengembangkan Bicarabali.com, media independen yang berfokus pada persoalan sosial dan kebudayaan Bali. Memoarnya, Laki-Laki yang Menata Lukanya di Rak Buku, diterbitkan oleh Brilliant Books, Yogyakarta, pada 2026.

Apa Komentar Anda?