Antara Konspirasi dan Pandemi, Robi Pilih Hadapi Tantangan Hari Ini

Bersama gerakan Pasar Rakyat, Robi Navicula membagikan sayuran untuk warga yang membutuhkan - dok.Robi

SENJA segera menjelang. Pada Selasa (30/6/20200) , Robi tergopoh-gopoh hadir di warung Kubukopi, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. “Ini sayurnya, sudah datang,” serunya. Sejenak kemudian, vocalis band grunge, Navicula itu pun turut mengangkat keranjang demi keranjang sayuran dari mobil pick-up yang mengangkutnya.

“Selain disini, aku akan menaruhnya di Kuta dan Penggak Mersi Kesiman serta Bumi sehat di Ubud,” jelasnya yang bersama gerakan ‘Pasar Rakyat’  membagikan sayuran itu untuk kemudian akan diberikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan. “Dengan makan banyak sayuran, semoga daya imun akan meningkat,” kata pemilik nama lengkap Gede Robi Supriyanto itu.

Sejak merebaknya COVID-19 di akhir bulan Februari, Robi terhitung sebagai figur yang langsung meresponnya. Himbauan pemerintah untuk melakukan Work From Home misalnya, disambutnya dengan menggelar konser virtual bertajuk ‘Corona Concert’ pada 19 Maret 2020,  bersama narasi.tv milik presenter kondang Najwa Sihab dan LSM Kopernik. Konser ini bisa disebut sebagai yang pertama dilakukan artis Indonesia di masa pandemi.

Robi Navicula menunjukkan faceshield yang diproduksi secara mandiri oleh tim Kopernik – IST

Berikutnya, band pembuka konser Super Grup dari Jerman, Scorpions di Yogyakarta ini, menggelar konser kedua pada 9 April 2020. Kali ini dengan target yang lebih jelas. Yakni, mengumpulkan dana untuk Alat Pelindung Diri (APD) bagi pekerja medis yang menangani corona. Bersama Kopernik, Robi memang melakukan pembuatan APD secara mandiri untuk menekan biaya di saat terjadi kelangkaan di pasaran.

“Aku memang lebih suka hal-hal yang kongkrit,” ujarnya. “Seperti soal APD itu, kurasakan sendiri, ketakutan mertuaku yang sebagai bidan harus menolong orang yang melahirkan dan tanpa APD bisa sangat beresiko,” ujar menantu dari Robin Lim, yang pernah menjadi CNN Heroes karena kiprahnya membantu warga miskin melakukan persalinan.

Lalu bagaimana dengan pandangan orang akan adanya konspirasi dibalik musibah ini?. “Aku open mind saja. Silahkan orang berpikir seperti itu. Tapi sumber dayaku, potensiku, jaringanku lebih berguna untuk melakukan hal yang nyata,” tegasnya.

Robi saat bersama Navicula tampil sebagai band pembuka penampilan super group Scorpions dalam event Jogjarockarta 2020 pada 1 Maret 2020 – IST

Ia bukannya tak pernah membaca mengenai persekongkolan orang-orang superkaya untuk melanggengkan kekuasaannya.  Namun, pilihannya sekarang adalah untuk mengabaikannya.  “Kalau pun ada yang berbisnis dibalik pandemi, ya itu pun sesuatu yang mungkin saja terjadi,” sebutnya.

“Sama seperti pengusaha burger , pasti pingin buka cabang di Irak saat ribuan tentara Amerika berada disana dan perutnya kangen makan burger, tetapi bukan berarti si pengusaha ikut merancang perang Irak agar bisa berjualan burger,” tegasnya sambil tertawa.

Sebagai musisi, Robi sendiri sejatinya menjadi korban atas situasi ini. Betapa tidak, sejumlah rencana pagelaran harus dibatalkan. Begitu dengan kegiatan promo album dan aktivitas lain yang biasanya harus mengumpulkan orang banyak. 14 crew band harus dipikirkannya untuk tetap bisa melanjutkan kehidupan bersama keluarga.

 Adapun sebagai aktivis, dia mestinya harus sudah menyelesaikan kampanye penanggulangan sampah melalui serial film dokumenter ‘Pulau Plastik’. “Awalnya bingung juga menghadapi situasi ini,” ujarnya. Tapi kemudian, ia merasakan manfaatnya untuk lebih banyak berkumpul dengan keluarga. Beberapa ‘pekerjaan rumah’ yang sempat luput dari perhatian juga bisa diselesaikan  seperti bersih bersih studio. “Ada kejutan karena kutemukan kembali koleksi-koleksi album dan buku-buku lama yang menginspirasi lagu-lagu Navicula,” ujar pria kelahiran 1979 ini.

https://www.facebook.com/robinavicula/posts/10214593548391688

Menanam menjadi hobi lain yang kembali ditekuni. Ketahanan pangan, sebutnya, mestinya memang dimulai dari rumah dimana semua keluarga bisa memanfaatkan semua medium yang memungkinkan. Jika di jaman normal, hal itu dianggap hanya sebagai pencitraan, kini semestinya menjadi kebutuhan di depan mata.

Adapun untuk tetap menjaga talenta bermusik, Robi kerap melakukan konser solo dengan gitar akustik di facebook live. Setidaknya itu menjadi cara mengobati kerinduan para penggemarnya. “Bagiku, musik adalah ujung dan pangkal dari semua yang kulakukan,” jelas dia.

“Dia tak sekedar bermusik. Tapi juga pecinta lingkungan yang bersuara lewat aktivitas kreatif,” kata aktivis Diana Gultom. “Konser merespon COVID-19 membantu orang memahami hal-hal yang praktis untuk mencegah penularan,” katanya.

“Bli Robi adalah contoh untuk  tetap produktif di masa pandemi.  Komplit pula. Meski dalam medium virtual yang bukan tatap muka langsung,” kata Najwa Sihab. Robi , menurutnya, menghadirkan buah pikir  yang kritis lewat berbagai cara dengan tetap menjaga kesantunan. “Ia sangat menjaga kultur Bali yang dicintainya,” sebutnya.  ( kanalbali/Robinson Gamar/ Rofiqi Hasan)