Bantu Petani dengan Aplikasi, Dosen UNUD Ini Menolak Hidup di Zona Nyaman

Sebagai dosen di Universitas Udayana, suatu kali IB Mandhara Brasika sempat dicegat petugas keamanan ketika hendak masuk kampus terbesar di Bali. Maklumlah, saat itu dia mengendarai mobil pick up yang penuh dengan sayuran. “Jadi bukan salah bapak Satpam itu, tapi saya memang mirip pedagang sayur,” kata peraih gelar  master lingkungan di Imperial College, London, Inggris itu.

Saat pandemi, ritme hidupnya memang berubah total. Dibayang-bayangi ancaman penularan COVID-19, ia malah berkeliling kesana kemari. Membeli produk nelayan dan petani untuk disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sebagian dengan cara gratis.

IB Mandhara Brasika saat membantu penjualan sayur petani dengan mobil pick upnya – IST

Semuanya berawal saat dia mendapat informasi mengenai mandeknya distribusi produk petani dan nelayan di awal pandemi. Info itu menggambarkan bahwa harga ikan tongkol di Desa Seraya Timur, Karangasem, anjlok. Pria berusia 27 tahun itu kemudian melihat langsung ke lokasi. “Ikan tongkol melimpah dan harganya anjlok, bahkan saat itu satu ikan tongkol besar harganya Rp.1.000,” kata Mandhara, Kamis (23/7).

Dosen Ilmu Kelautan di Fakultas Kelautan dan Perikanan Unud ini kemudian berinisiatif untuk membantu menjual produk laut para nelayan melalui layanan digital. “Itu kemudian yang menjadi latar belakang kenapa aplikasi Daridesaku lahir,” ujarnya.

Daridesaku, merupakan layanan digital yang disediakan Mandhara untuk memasarkan produk produk laut para nelayan itu. Sepekan setelah pasokan dadakan itu, permintaan untuk memasarkan produk pertanian mulai datang dari daerah yang juga menjadi sentra pertanian Bali, seperti Tabanan dan Bangli.

Di pihak lain, ternyata ada pihak-pihak yang membutuhka pembelian sayuran untuk berdonasi. Bak sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, ia akhirnya memilih untuk membuka donasi bagi siapapun yang hendak berbagi di tengah pandemi. Hasil dari donasi itu kemudian, ia gunakan untuk membeli produk petani dan dibagikan kepada kelompok rentan secara gratis.

Berbagai jenis sayuran yang diborong dari petani dan didonasikan kepada warga yang membutuhkan – IST

Bagaimana sistem donasi yang diterapkan? Mandhara menjelaskan pihaknya menggunakan dompet digital. Sistem donasi  dilakukan melalui sistem pembayaran online, yakni OVO atau Gopay dengan nominal sebesar minimal Rp 5.000.

Ide untuk membuka donasi ternyata berdampak positif, Daridesaku bahkan mampu menyalurkan 12-15 ton produk pertanian dalam seminggu untuk dibagikan secara gratis.  “Yang disasar itu 80℅ kelompok rentan seperti panti asuhan, yayasan disabilitas, dan desa-desa yang memang di pelosok. Sisanya ke tempat terbuka seperti lapangan renon saat orang hadir di CFD (car free day) dan lainnya,” tuturnya. 

Kini, kegiatan donasi pangan itu ia rencanakan akan berlangsung hingga bulan depan. Kegiatan masyarakat yang sudah berlangsung normal, kebijakan new normal yang sudah dijalankan, menjadi alasan Daridesaku akan kembali mengalihkan fokus pada program penjualan produk pertanian.”Keuntungan penjualan akan kita salurkan ke tempat-tempat atau kelompok masyarakat yang memang sangat perlu seperti kelompok rentan tadi,” terangnya.

Bagi Mandhara, pandemi COVID-19 telah mengajarkan tentang kepedulian. Di masa ini, ia juga bersyukur bisa ambil bagian untuk membantu masyarakat yang tengah mengalami kesulitan. Bisa membantu orang di kala sulit dan sudah mampu mempekerjakan 4 orang di Daridesaku menjadi hal yang dirasa sangat patut disyukuri, “Apalagi, dari awal saya sekolah sudah dibiayai oleh negara, jadi malu kalau saya tidak bisa berbuat sesuatu kepada negera ini khususnya tempat saya lahir,” tuturnya.

Mandhara Brasika selalu aktif diluar kegiatan utamanya. Seperti saat kuliah di Inggris, dia juga mempromosikan tarian Bali – IST

Kegiatannya akademik yang ia jalani, tak menjadi alasan bagi Mandhara untuk memberikan manfaat ke orang lain. Malah menurutnya, keluar dari zona nyaman di tengah situasi pandemi COVID-19 menjadi sesuatu yang istimewa asal bisa memberikan manfaat kepada orang lain. 

“Kalau hidup hanya diputar di zona itu, saya rasa tidak cukup. Makanya saya terus berpikir, apa yang kemudian bisa saya bantu. Walaupun saya tidak terlalu paham mengenai dunia pertanian dan dunia nelayan, tapi saya terus belajar secara pelan-pelan,” tandasnya.

Pria yang sebentar lagi akan memiliki anak pertama itu sangat optimis masa sulit di tengah pandemi COVID-19 perlahan akan berlalu. Ia pun menegaskan, program Daridesaku masih akan terus berjalan, tujuannya  untuk memotong rantai distribusi agar petani bisa lebih untung dan konsumen bisa mendapat harga yang lebih murah. (Kanalbali/ACH FAWAIDI)