Balada Me Ngenu dan Kesetiaan Merawat Garam Kusamba

Me Ngenu, petani garam Kusamba berusia 80 tahun - KR7

MENGOLAH air laut menjadi garam menjadi bukti kesetiaan Me Ngenu. Tak peduli masa pandemi COVID-19 yang membuat permintaan konsumen menurun dan tak ada turis yag berkunjung, ia tetap setia bekerja. Perempuan 80 tahun itu sudah akrab dengan teriknya matahari di tepi pantai Tribuana, Kusamba, Klungkung, Bali, sejak masih belia. Berawal membantu orang tua dan sang kakek, kini ia menjadi pewaris usaha tradisional di pantai itu.

  “Garap tiga hari, baru dapat garamnya,” kata Me Ngenu tentang proses panjang pembuatannya.  Sampai sekarang, ia menggunakan tehnik tradisional tanpa sentuhan mesin. Air laut diambil dengan alat jinjingan sederhana, lalu disiramkan ke atas pasir. Lalu, air disaring hingga menjadi garam.

Petani garam Kusamba bekerja sejak dini hari – KR7

Cara tradisional ini bukan tanpa tantangan. “Kalau hujan turun, pasti gagal total,” kata Me Ngenu. Dari lahan sekitar empat are lahan yang digarapnya, ia bisa menghasilkan sekitar 25 kilogram. “Biasanya tamu Perancis yang beli, Rp 25 ribu per kilogram,” ujar Me Ngenu.

Meski ada saja wisatawan asing yang datang untuk membeli langsung,  kuantitas penjualan tergolong masih sedikit. Akibatnya, banyak garam hasil produksinya yang harus disimpan, menanti pembeli. Ini tak hanya dialami Me Ngenu, tapi juga petani garam kusamba lainnya.

Nenek yang masih bersemangat itu hanya satu dari sedikit petani garam Kusamba yang tetap bertahan,  melestarikan tradisi garam Kusamba. Ratusan lainnya  beralih profesi, mulai dari menjadi buruh bangunan, tukang serabutan, dan berbagai pekerjaan lain. Bukan hanya karena kurang menjanjikan, tapi lahan lahan pembuatan garam juga terus menyusut akibat gempuran gelombang tinggi dan abrasi sejak sepuluh tahun terakhir. Kini, tercatat hanya ada puluhan orang saja yang masih aktif.

Garam Kusamba sebenarnya memiliki sejarah yang cukup panjang. Sejak lebih dari seratus tahun lalu telah dihasilkan oleh ratusan petani garam di sepanjang pantai dari Karangdadi, Kusamba hingga Pesinggahan di perbatasan Klungkung dan Karangasem. Sentra petani garam Kusamba bahkan sempat juga menjadi primadona wisata pada tahun 1980 hingga tahun 2000an silam. Itu karena proses produksinya secara tradisional terlihat menarik dan menghasilkan garam yang disebut garam kristal kusamba.

Tak mau kehilangan tradisi itu, kini Pemerintah Kabupaten Klungkung mencoba mengembangkannya agar bisa menembus pasar modern. Dengan brand ‘Uyah Kusamba’, sedikit sentuhan teknologi diberikan untuk memastikan Uyah Kusamba mengandung yodium. Sebab,  untuk bisa dilepas ke pasar modern, produk garam harus mengantongi label garam beryodium.

Setelah melalui beberapa kali proses pengujian selama sekitar tiga tahun, garam beryodium dengan merk Uyah Kusamba akhirnya resmi  diluncurkan pada Rabu (22/7) lalu. Launchuing Uyah Kusamba dilakukan langsung di lokasi pembuatan garam Kusamba di Pantai Tribuana, Kusamba, Klungkung.

Bupati Klungkung Nyoman Suwirta saat peluncuran brand Uyah Kusamba – KR7

“Niat baik pemerintah untuk selamatkan brand garam ini untuk bisa bangkit kembali agar bisa mensejahterakan petani, para warga di sini, terlebih pemudanya agar ikut produktif menggantikan orang tua mereka memproduksi garam Kusamba,” kata kata Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta.

Selain penataan ulang lokasi untuk memaksimalkan produksi, sentuhan teknologi juga diberikan kepada petani garam agar produksinya busaebih cepat. Meski demikian, lokasi pembuata garam secara tradisional tetap dipertahankan, untuk tetap menjadi daya tarik wisatawan.

Untuk tahap awal, uyah kusamba diproduksi dalam satu kemasan saja,  ukuran 250 gram per kemasan. “Harga jualnya Rp 5 ribu, dijual di pasar modern dan dibagikan kepada ASN (aparatur sipil negara) di Klungkung,” ujar Suwirta.

Adalah Lembaga Ekonomi Pemberdayaan (LEP) Pesisir Mina Segara Dana, sebuah lembaga yang bekerja mengolah garam garam tradisional hasil petani Kusamba agar memenuhi standar sebelum dilepas ke pasaran. Sekretaris LEP Mina Segara Dana, Wayan Suartika, menjelaskan, jumlah produksi garam beryodium Uyah Kusamba akan sangat tergantung pada produksi garam oleh petani setempat. “Kapasitas pengolahan bisa mencapai 6 ton sebulan,” kata Suartika.

Garam Kusamba kini telah mendapat sentuhan teknologi dan mengandung yodium – KR7

Untuk sementara, kata Suartika, pihaknya masih fokus pada pemenuhan kebutuhan ASN di  Kabupaten Klungkung. Pihak LEP juga menggandeng pihak ketiga untuk pemasaran  pemasaran produk uyah kusamba itu. Selain untuk para ASN, pihak ketiga juga memasarkan uyah kusamba ke mini market dan toko toko

Gebrakan baru ini menjadi kabar baik bagi Me Ngenu dan sejumlah petani garam lainnya. Meski harga jualnya cenderung lebih murah, namun ia mengaku senang kalau gebrakan itu membuat hasil garam buatannya bisa diserap lebih banyak. “Saya bisa terus produksi, walaupun lebih murah. Itu lebih baik. Saya sudah senang kalau usaha ini bisa diteruskan,” ujarnya lirih. ( kanalbali/Putu Budi Krista)