COVID-19 Menerpa, Kampus UNUD Pun Terkesima

Calon mahasiswa Universitas Udayana mengantri sebelum masuk ruang ujian - ACH FAWAIDI

PELATARAN Fakultas Kedokteran Universitas Udayana (UNUD) di Jalan PB Sudirman, Denpasar, dihiasi tanda penyekat yang masing-masing berjarak satu meter. Disitu berdiri sejumlah calon mahasiswa yang akan menjalani Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN 2020.

Hari itu, Minggu (5/7), merupakan hari pertama pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) SBMPTN 2020. Berlangsung di tengah wabah COVID-19, protokol kesehatan diterapkan. Selain meja registrasi, tersedia juga meja khusus untuk pengecekan suhu tubuh para peserta ujian yang hendak masuk. Sesekali, petugas registrasi berdiri sambil menenteng lembaran kertas untuk memastikan jarak peserta yang satu dengan yang lain tetap di atas 1 meter.

Pengecekan suhu tubuh sebelum masuk ruang ujian – ACH Fawaidi

“Suhu tubuh, masker, sarung tangan, itu menjadi syarat mutlak. Kunci keselamatan peserta di tengah wabah COVID-19 ini kan dimulai dari sini (pintu masuk pertama),” kata Made, petugas registrasi di pintu masuk zona pertama.

Tumpukan botol hand sanitizer berjejer rapi di samping tangga. Seluruh peserta UTBK wajib menggunakannya  saat hendak naik ke lantai 3 , tempat ujian digelar. Ruang ujian berbasis komputer juga diatur agar peserta tak saling berdekatan. Sekaligus untuk mencegah  saling intip, tentunya.

“Panik juga rasanya, karena selain harus memikirkan soal ujian, keselamatan kesehatan juga harus dipikirkan.  Masih belum menyangka harus menjalani ujian ditengah pandemi COVID-19,” kata Putu Pratiwi Rahayu (18) sesaat sebelum menjalani ujian. 

UNUD menjadi salah satu dari sekian banyak Universitas di Indonesia yang menjadi panitia UTBK SBMPTN 2020. Sama seperti kampus lain, jumlah peserta yang melangsungkan ujian di Udayana  tahun ini berbeda jauh jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 

Rektor Universitas Udayana A.A. Raka Sudewi – IST

“Tahun ini ada 5.239 orang yang ikut UTBK. Jumlahnya sangat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan 15.000 orang di tahun lalu. Tentu, salah satu faktor utamanya karena ada pandemi COVID-19 ini,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik I Nyoman Gde Antara.

Dampak pandemi COVID-19 tak hanya terjadi pada kegiatan UTBK SBMPTN 2020. Sejak tanggal 23 Maret lalu, kampus terbesar di Bali ini sudah mengambil langkah cepat dengan menerapkan kuliah daring.

 Adaptasi terberat  adalah kesiapan dosen menyiapkan materi daring.”Bukan mendaringkan kuliah konvensional, tapi juga harus memikirkan bagaimana kualitas pembelajaran,” kata Gde Antara. Agar bisa diikuti oleh mahasiswa, kampus memberikan bantuan kuota kepada mahasiswa agar kuliah minimal bisa berjalan lancar.

BACA JUGA :

Proses melalui daring sejatinya bukan hanya berlaku di proses kegiatan belajar mengajar. Bimbingan skripsi, ujian skripsi dan seluruh kegitan lainnya di Universitas Udayana pun menggunakannya.

Adaptasi juga berlaku untuk mengurangi beban ekonomi kelompok rentan. Setelah sempat didemo mahasiswa, akhirnya kampus mengeluarkan kebijakan tentang penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT)  bagiyang memenuhi syarat. “Khan kita tidak bisa sembarangan. Ada syarat dan mekanisme yang harus dilakukan agar ada pertanggungjawaban kami kepada pihak auditor,” jelas Antara.

Terdapat beberapa skema keringanan UKT bagi mahasiswa pada semester ganjil tahun akademik 2020/2021. Pertama, pembebasan sementara UKT bagi mahasiswa yang memenuhi kriteria dan persyaratan seperti tidak mampu secara ekonomi yang dibuktikan dengan pendapatan kotor gabungan orang tua paling tinggi Rp 4 juta yang dibagi jumlah anggota keluarga paling tinggi menjadi Rp. 750 ribu.

Kedua,  pengurangan UKT sebesar 50% bagi mahasiswa yang orang tuanya terdampak COVID-19 mengalami PHK, dirumahkan, atau kehilangan pekerjaan ataupun penurunan penghasilan. Sejumlah syarat yang harus dpenuhi salah satunya, slip gaji orang tua dari tempat bekerja atau surat keterangan dari kepala desa.

Aksi mahasiswa mengkritisi rencana pemotongan UKT. Prosedur pencairan UKT dinilai masih terlalu berbelit – ACH FAWAIDI

Ketiga, pembayaran UKT secara mengangsur. Angsuran pembayaran itu bisa dilakukan sebanyak 3 kali yang masing-masing pada bulan Agustus, Oktober, dan Desember. Slip gaji orang tua dari tempat bekerja dan surat keterangan dari kepala desa juga dibutuhkan dalam skema ini.  “Semoga mahasiswa yang putus kuliah bisa berkurang,” kata Rektor Universitas Udayana A.A. Raka Sudewi dalam suratnya.

Kalangan mahasiswa sendiri masih memperdebatkan soal itu.  Mereka menilai, aturan yang dikeluarkan terlalu berbelit. “Syarat anak ASN, TNI, Polri, Pegawai BUMN atau BUMD tidak boleh mendaftar. Itu harus direvisi,” kata Ketua BEM Mahasiswa UNUD, Dewa Gede Satya Ranasika Kusuma, saat dikonfirmasi .

Dasar revisi itu, kata Satya, mengacu kepada Permendikbud No. 25 Tahun 2020 yang menjelaskan tidak ada pembatasan terkait dengan jenis pekerjaan orang tua dalam menerima bantuan keringanan UKT. Pembatasaanya hanya ada pada tingkatan kemampuan ekonomi.  “Aktifitas kampus masih secara online.  Keringanan UKT dengan  prosedur mudah akan menjadi awal yang baik bagi kami. Apalagi terus terang kami masih khawatir dengan kualitas perkuliahan semacam ini,” jelasnya. (Kanalbali/ACHFAWAIDI)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.