Jalur Niskala Meredam ‘Gering Agung’ Corona

Penari topeng ikut tampil dalam rangkaian upacara Pemahayu Jagad di Pura Besakih - Zul

AROMA dupa tercium wangi di areal Pura Besakih, Karangasem, Bali. Suara genta oleh tiga sulinggih (pemimpin Agama Hindu) terdengar saling bersahutan.  Suara gamelan juga terdengar, mengiringi para penari topeng.

Pagi itu, 5 April 2020, cuaca cukup cerah di areal kompleks pura terbesar di kaki Gunung Agung itu.  Lebih dari seribu orang berpakaian adat warna putih hadir untuk melaksanakan upacara pemahayu jagad. Yakni,  upacara Hindu yang digelar khusus guna meminta perlindungan Tuhan dari pandemi COVID-19 yang disebut sebagai gering (bencana) agung.

Sekitar seribu umat Hindu bergabung bersama pejabat pemerintah dan pemimpin spiritual untuk mengikuti ritual Pemahayu Jagat di Pura Besakih – Zul

Inilah jalan niskala (spiritual-red) umat Hindu di Bali untuk menyampaikan  permintaan agar bumi (jagat) menjadi damai (rahayu). “Supaya kita harmonis dengan mengaturkan suksma (terima kasih) kepada Ida Betara Ida Sanghyang Widhi Wasa.  Tidak saja untuk manusia, tetapi alam semesta,” kata Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana.

Upacara pemahayu jagad itu juga sebagai penanda dimulainya berbagai aktivitas masyarakat setelah beberapa bulan sempat terhenti karena pandemi ini. Upacara besar ini  hanyalah satu bagian dari serangkaian ritual upacara yang telah digelar menghadapi COVID-19 di Bali.

Sebelumnya, upacara Guru Piduka dan upacara Peneduh Jagad juga sudah dilakukan pula  di Pura yang menjadi pusat spiritual umat Hindu itu.  Masing masing upacara memiliki makna berbeda. “Peneduh Jagad supaya rakyatnya teduh atau terlidungi dari COVID -19,” kata Sudiana.

 BACA JUGA :

Sementara itu, Guru Piduka digelar sebagai upacara untuk membayar kesalahan yang mungkin pernah dilakukan pada kehidupan lalu. “Mungkin kita leluhur kita dulu ada yang melakukan kesalahan, sehingga Tuhan memberikan kita cobaan dengan gering agung ini,” Sudiana menjelaskan.

Merujuk pada lontar Bali kuno, istilah gering dimaknai sebagai sebuah penyakit yang menyerang manusia. Sementara istilah Agung bermakna sesuatu yang besar. Pandemi  yang saat ini melanda dianggap gering agung, terutama karena virus ini telah menular ke seluruh dunia dengan infeksi tinggi.

Di masa lalu, gering agung pernah terjadi juga di Bali. Tercatat, pada tahun 1599 masehi, Bali tertimpa gering agung akibat adanya serangan penyakit lepra. Dalam keyakinan masyarakat Bali, wabah penyakit seperti ini merupakan bagian dari siklus alam, yang bisa datang berulang dalam kurun waktu tertentu.

Banten wong wongan, salah-satu sesaji yang dihaturkan umat Hindu untuk menghadapi pandemi COVID-19 – IST

Sejak pandemi COVID-19 melanda, umat Hindu memang memilih melakukan berbagai ritual. Ada yang berdasarkan imbauan pemerintah, ada pula yang digelar berdasarkan adanya pawisik (petunjuk niskala). Misalnya, mengaturkan sesajen berupa pejati di Sanggah Kemulan atau Batara Hyang Guru di pelinggih rumah masing-masing warga.

Tak hanya itu, di lebuh perkarangan (dekat pintu masuk rumah), umat juga menaruh nasi wong-wongan. Yakni, sesaji berupa nasi yang dibentuk seperti manusia di atas daun pisang. Pada bagian kepala dibentuk dari nasi warna putih, tangan kanan nasi merah, tangan kanan nasi kuning, badannya dari nasi campuran beberapa warna dan kakinya nasi warna hitam. Lalu, di sekitar bentuk wong-wongan itu ditaruh ulam bawang, jahe, dan uyah (garam).

Sesajen nasi wong-wongan ini dimaknai agar dimakan oleh sang butha kala sebagai sebuah simbol raksasa. Umat menaruh harapan, dengan memangsa nasi ini, ia tidak memasang si pemilik rumah. Persembahan nasi wong wongan itu didasarkan pada Lontar Rogha Sanghara Bumi yang secara keseluruhan berisi beberapa upacara serta sesajinya guna menetralisasi bencana di bumi.

Tak hanya di rumah, ritual juga dilaksanakan oleh desa adat di Pura Kahyangan Tiga yang ada di wilayahnya. Seluruh Desa Adat di seluruh Bali mengaturkan sesajen berupa pejati yang dilengkapi dengan kelapa hijau dan kelapa gading.

Kanan-kiri : Bendesa Agung Desa Adat Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet bersama Ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia IGN Sudiana dan dan Gubernur Bali Wayan Koster – IST

Bendesa Adat Besakih, Mangku Widiartha, meyakini upaya secara niskala tetap menjadi hal penting. ” Kalau kita sebagai umat Hindu merasa yakin dengan tatanan upacara upakara itu bisa meredam bencana. Kalau secara konkrit dampaknya, kami belum bisa menjawabnya,” ujarnya. Ia mencontohkan letusan Gunung Agung beberapa waktu silam akhirnya mereda setelah dilakukan berbagai ritual.

Selain cara itu, Bali juga mengandalkan kekuatan desa adat dalam menghadapi COVID-19. Menghadapi era normal baru,  desa adat kembali didorong untuk meningkatkan peran. Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet selaku Bendesa Agung Majelis Desa Adat  pun menyebut, seluruh desa adat di Bali telah siap.

“Di desa adat sudah ada pelonggaran. Artinya upacara adat dan agama sudah bisa berjalan, tetapi tetap jaga jarak. Karena jaga jarak berefek pada kapasitas. Misalnya yang tadinya 300 orang, bisa jadi 100 orang,” ujarnya. Sebelumnya, berbagai upacara keagamaan hanya diperbolehkan melibatkan maksimal 25 orang.

Pelonggaran aktivitas masyarakat itu juga dituangkan dalam perarem (aturan adat) di masing masing desa.  “Siapa pun di wilayah desa adat ini melanggar, akan diberikan peringatan-peringatan dan pembinaan. Tetapi kalau kesekian kali masih bengkung (bandel), akan didenda sebanyak 25 kilogram  beras atau setara Rp 250 ribu,” tegasnya.  ( kanalbali/Wayan Widya )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.