Bersantai di Air Panas Banjar Saat New Normal

Suasana di pemandian air panas Banjar yang mulai menggeliat kembali setelah ditutup akibat pandemi COVID-19 - KR12

LANGKAH Luh Yuni Artini, 35, tertahan di depan pintu masuk objek wisata Air Panas Banjar. Petugas di objek wisata tersebut meminta Yuni mencuci tangan lebih dulu. Kemudian suhu tubuhnya diperiksa. Begitu suhunya dinyatakan di bawah 37,3 derajat celcius, baru ia diizinkan masuk.

Ini pertama kalinya bagi Yuni melancong kembali. Pagi itu, Sabtu (25/07/2020), ia melancong bersama suami dan kedua anaknya. Rasa jenuh yang melanda selama pandemi, ia coba lampiaskan dengan berwisata di Air Panas Banjar. “Biar refresh aja. Rasanya sih sama seperti sebelumnya,” tutur wanita yang mukim di Kelurahan Banyuning, Buleleng itu.

Objek wisata Air Panas Banjar menjadi destinasi pertama di Buleleng yang mengantongi sertifikat tatanan kehidupan era baru dari Dinas Pariwisata Buleleng. Sertifikat itu diserahkan pada 9 Juli lalu.

Para pengunjung harus mematuhi protokol kesehatan seperti mencuci tangan – KR12

Direktur Objek Wisata Air Panas Banjar, Ida Made Tamu mengatakan, persiapan protokol kesehatan menghadapi tatanan kehidupan era baru sudah dilakukan sejak Juni lalu. Khusus masker pengelola bekerjasama dengan warga sekitar yang bisa menjahit. “Jadi kalau ada pengunjung yang tidak bawa masker, kami bisa berikan,” jelasnya.

Toko souvenir yang tutup selama tiga bulan terakhir, buka kembali. Geliat ekonomi mulai terasa. Meski jumlah toko yang buka tak terlalu banyak. Di masa new normal, tingkat kunjungan juga masih sedikit. Kini kunjungan tak lebih dari 50 orang per hari. Padahal dulunya, kunjungan sedikitnya mencapai 200 orang per hari. Dalam kondisi peak season, tingkat kunjungan bisa mencapai 1.000 pengunjung per harinya.

Sejak dibuka kembali pada Kamis (9/7/2020) lalu, hingga kini pengelola belum mengenakan tiket normal pada pengunjung. Normalnya, tiket yang dikenakan ialah Rp 20 ribu untuk dewasa dan Rp 10 ribu untuk anak-anak.“Tapi di awal ini kami masih terapkan sistem donasi. Sambil menunggu kondisi perlahan pulih,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Buleleng Made Sudama Diana mengatakan, hingga 25 Juli 2020 sudah ada 39 sertifikat pariwisata yang diterbtikan. Sebanyak delapan sertifikat diantaranya diterbitkan bagi destinasi wisata. Sisanya diterbitkan bagi akomodasi pariwisata. Entah itu hotel atau restoran.

Pengukuran suhu dilakukan bagi pengunjung. Mereka yang suhunya di tas 37 derajat celcius tidak diperkenankan masuk – KR12

Destinasi yang sudah mengantongi sertifikat yakni Air Panas Banjar, Air Terjun Aling-Aling, Air Panas Banyuwedang, Air Terjun Gitgit, Pemandian Air Sanih, Danau Buyan, Taman Nasional Bali Barat, dan Taman Laut Pulau Menjangan.

Sebelum mengantongi sertifikat para pengelola harus melakukan self assessment. Setidaknya ada 20 poin yang harus mereka penuhi. “Termasuk mereka harus bekerjasama dengan satgas desa dan puskesmas terdekat, bila terjadi kecelakaan di objek wisata. Ini untuk menjamin kondisi keamanan pengunjung,” jelas Sudama.

Setelah menuntaskan self assessment, selanjutnya pengelola mengajukan proses verifikasi pada Dinas Pariwisata Buleleng. Saat pengajuan verifikasi, mereka wajib melampirkan formulir hasil self assessment, berita acara hasil verifikasi, pakta integritas, serta ijin usaha dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Dinas Pariwisata pun telah melakukan sosialisasi dan pelatihan untuk self assessment dan pemenuhan peralatan yang dibutuhkan. Sehingga saat keran kunjungan bagi wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara dibuka pemerintah, seluruh destinasi dan akomodasi siap menyambut wisatawan dengan protokol yang ditentukan. ( kanalbali/ KR12)