Dihujam Pandemi, Industri Jamu Justru Menggeliat

DALAM musibah, selalu saja ada berkah. Ungkapan itu tepat menjadi gambaran geliat industri jamu ataupun obat-obatan herbal di masa pandemi COVID-19. Seiring upaya preventif atau pencegahan dengan meningkatkan imunitas,  bisnis ini menjadi alteratif dengan harga yang relatif terjangkau.

“Awalnya,  Pemkab Tabanan memesan teh jahe instan produksi kami kemudian dibagi-bagi secara gratis kepada orang-orang di pasar, dengan harapan imunitas masyarakat bisa meningkat,”begitu ungkap Ni Putu Elida Rayani Pande, salah satu pengusaha obat-obatan jamu, mengenai kisah suksesnya di masa pandemi.

Kini, penghasilannya selama virus corona merebak di Bali selama enam bulan terakhir melonjak tajam hingga kisaran 40-50 juta perbulan. “Kalau pas sebelum covid, akhir 2019 mencapai kisaran 20-30 juta saja,”ungkapnya.

Putu dengan usaha bermerk  ‘Padma Herbal’ menjual berbagai macam jamu, teh herbal, rempah-rempah minyak-minyakan yang senantiasa menjaga imunitas tubuh. Ia bekerja sama dengan para petani tumbuhan herbal. Mulai dari membeli bahan baku produk hingga pemberdayaan kedua pihak itu saling bersinergi.

Simbiosis mutualisme pun terjadi di sana. “Kami membeli bahan baku yang sesuai dengan harga di pasar, sehingga tidak lebih jujur dengan petani,”ungkapnya.

Para petani dedaunan seperti Pegagan, Kumis Kucing, Sirih serta rempah macam Jahe merah, Cengkih, bunga Rosella pun, kata dia mendapat untung yang lebih baik. Setidaknya terhindar dari para tengkulak. “Setiap dua pekan sekali para petani panen, jadi tidak langsung bersamaan, tetapi berkala,”terangnya.

Beruntung, usaha Putu Elida dengan brand produknya, telah mendapat naungan Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah sejak tahun 2018. Ia kini dapat memasarkan produknya ke jaringan lebih luas, seperti event ataupun gelaran MICE lainnya. “Kita diberi banyak pemahaman baru dari pemerintah seperti desain kemasan ataupun penjualan, intinya biar berkelanjutan dan ramah lingkungan,” terangnya.

Wanita itu, sebetulnya telah memulai usaha ini dari tahun 2012. “Awalnya saya bersama suami memulai dari jualan teh herbal instan, berangsur-angsur kami kembangkan ke minyak,”ungkapnya.

Sebagai lulusan tenaga medis, ia awalnya menciptakan produk untuk bayi dan ibu menyusui. “Yang laku cukup banyak diantaranya minyak happy tummy oil, untuk mengurangi ketidaknyamanan bayi saat perut kembung dan memberikan rasa hangat,”ungkapnya

Mereka terus berinovasi sembari melihat selera pasar. Kini, produk terbaru, yang berhasil dikembangkan ialah nasi kuning dan nasi bulung kombu instan. “Kami berpikir untuk mengenalkan kuliner Bali ke luar negeri,”ungkap wanita lulusan kebidanan itu.

Pada kemasan nasi kuning dan nasi kombu instan itu, disertakan dekskripsi mengenai Daya Tarik Wisata (DTW) di Bali salah sataunya Tanah Lot.”Mengolahnya gampang, tinggal dimasukan di magickom atau penanak nasi, dan tambahkan sedikit air, sudah tersedia bumbunya juga,”terangnya.

Berbicara tentang sasaran, sebetulnya Putu Elida menyasar para wisatawan domestik maupun mancanegara. Namun ditengah musiam virus corona, ia belum bisa berharap banyak kepada wisatawan mancanegara. “Selama ini lebih banyak ke wisatawan domestik sih, tapi saat pandemi ini, banyak masyarakat Bali yang jadi konsumennya,”terangnya.

“Kita tidak pernah memasarkan ke luar negeri, cuma banyak wisatawan mancanegara yang membeli sebagai oleh-oleh,”ujarnya. Bagaimanapun, ia tetap berharap agar pandemi COVID-19 segera berlalu. Geliat ekonomi di sektor lain pun harus segera bangkit, sehingga Bali bisa seperti dulu lagi. “Semoga cepet berlalu virus corona ini,”ungkapnya singkat. ( kanalbali/WIB )