Dinas Kominfo Denpasar Imbau Masyarakat Beli Set Top Box Bersertifikat

Masyarakat Bali khususnya Kota Denpasar diimbau untuk membeli STB yang sudah bersertifikasi dari Kementerian Kominfo. #kanalbali

Ilustrasi Set Top Box (STB)/ Foto: Kementerian Kominfo

DENPASAR, kanalbali.id – Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Denpasar menghimbau masyarakat agar menyediakan Set Top Box (STB) yang telah bersertifikat dari Kementerian Kominfo, sehingga aman dan mampu menangkap siaran TV digital. Hal ini juga sebagai upaya mempercepat migrasi TV analog ke digital atau Analog Switch Off (ASO) yang telah dimulai sejak April 2022.

“Masyarakat Bali khususnya Kota Denpasar diimbau untuk membeli STB yang sudah bersertifikasi dari Kementerian Kominfo untuk memastikan keamanan dan kenyamanan migrasi ke siaran digital,” kata Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Kota Denpasar IB Alit Adhi Merta saat ditemui, Rabu, (22/6/2022)

Adapun STB diperlukan untuk dapat mengubah sinyal hasil tangkapan antena televisi menjadi bentuk suara dan gambar. Sehingga dengan alat STB tersebut, TV analog bisa menjadi TV digital yang bisa menyajikan hiburan dan tayangan.

BACA JUGA: Siaran TV Digital Menjadi Solusi Bagi Wilayah di Bali yang Mengalami Blank Spot Sinyal 

Staf Khusus Kementerian Kominfo, Rosarita Niken Widiastuti dalam pertemuan secara virtual turut mengimbau masyarakat yang tidak mendapatkan STB secara gratis agar  segera menyediakan STB yang telah bersertifikat Kementerian Kominfo. Sedangkan STB gratis hanya diperuntukan bagi rumah tangga miskin yang terdaftar dalam Daftar Terpadu Kesejahteraan Sosial di Kementerian Sosial yang jumlahnya sebanyak 6,7 juta orang.

“Jangan menunggu sampai 2 November 2022 atau tahap terakhir pelaksanaan ASO, sebaiknya masyarakat mulai saat ini sudah menyiapkan STB guna mendukung pelaksanaan ASO,” tambahnya.

Ia menjelaskan, untuk mengetahui STB bersertifikat, masyarakat dapat memilih STB yang bertuliskan DVB-T2 di dalam kemasan, atau dicari yang ada tulisan ‘Siap Digital’. Bahkan ada juga tambahan gambar MODI.

“STB dipasarkan secara online maupun offline, bisa memilih yang mana saja. Asalkan pastikan sudah bersertifikat Kementerian Kominfo agar aman,” jelasnya.

Pelaksanaan ASO di Bali :

Koordinator Divisi Kelembagaan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Bali Nyoman Adi Sukerno menuturkan bahwa Pulau Dewata seharusnya menjadi salah satu wilayah siaran yang masuk dalam daftar ASO tahap pertama, meliputi Kabupaten Jembrana, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Badung, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Klungkung, Kabupaten Bangli, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Buleleng, serta Kota Denpasar.

Namun ia menyatakan bahwa peralihan siaran televisi analog ke siaran televisi digital yang seharusnya dimulai pada 30 April 2022 ditunda. Hal ini karena mempertimbangkan berbagai aspek, salah satunya pembagian STB gratis ke rumah tangga miskin masih berjalan.

“Bali belum masuk tahap kedua di 25 Agustus ini, artinya Bali akan masuk tahap ketiga pelaksanaan ASO,” jelasnya.

Manfaat ASO : 

Direktur Penyiaran Direktorat PPI Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Geryantika Kurnia turut mengungkapkan bahwa selain memiliki fitur EPG, siaran TV digital juga memiliki berbagai keunggulan lain dibandingkan TV analog.

“Yang paling luar biasa, jika semua tahapan Analog Switch Off (ASO) telah selesai. Maka dalam TV digital juga ada early warning system, atau peringatan kebencanaan dimanapun berada. Jadi misalnya radius 1 Km dari tempat kita, itu akan memberi peringatan di TV, HP dan radio akan terhubung,” jelasnya.

Ia menambahkan, ASO membawa efisiensi dalam penggunaan pita frekuensi di Indonesia. Sehingga, sisa frekuensi hasil kebijakan tersebut dapat dipergunakan untuk menggelar layanan akses telekomunikasi berkualitas seluler 5G yang sudah di mulai pada 2021.

Efisiensi yang dimaksud adalah penggunaan pita frekuensi yang diperuntukkan bagi seluruh stasiun televisi dapat dipangkas hingga mencapai 176 Megahertz dari yang sebelum memakan pita frekuensi sebanyak 328 Megahertz.

“Migrasi ke digital dari kebutuhan frekuensi yang tadinya mencapai 328 Megahertz hanya dibutuhkan sebanyak 176 Megahertz. Sisanya 112 Megahertz dipergunakan sektor lainnya,” ungkapnya. (Kanalbali/LSU)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.