Gede Ardika: Peletak Dasar Desa Wisata, Sukses Promosikan Tri Hita Karana

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Kemendikbud) Gede Ardika - IST

DENPASAR – Gede Ardika, mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Kemendikbud) Republik Indonesia era Presiden Megawati Soekarno Putri meninggal dunia Sabtu, (20/02/21) di Bandung. Pria kelahiran Buleleng 76 tahun yang lalu itu merupakan sosok penting dalam perkembangan dunia pariwisata di Indonesia, khususnya di Bali.

Diungkapkan oleh mantan Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Kemeparekraf RI, Prof Dr Ir Gede Pitana, konsep desa wisata pertama kali dipelopori oleh Gede Ardika.

“Jasa beliau yang paling penting adalah memperkenalkan istilah Desa Wisata pada tahun 1992. Beliau yang memperkenalkannya sewaktu menjabat Kakanwil Parpostel wilayah Bali,” ungkapnya saat diwawancarai.

Gede Ardika, kenang Prof Pitana merupakan sosok cerdas dengan pemikiran yang maju dan cinta lingkungan. “Beliau adalah orang yang modern, memiliki pemikiran yang maju ketimbang orang-orang di zamannya,” terangnya.

Mantan mentri pariwisata periode tahun 2000-2004 itu ungkap Prof Pitana memperkenalkan konsep pariwisata berlandas Tri Hita Karana ke kancah internasional. ” Beliau juga yang membawa konsep Tri Hita Karana ke pertemuan World Tourism Organization (UNWTO) di Madrid, Spanyol. Tri hita karana adalah pembangunan yang berkelanjutan versi Bali, dan konsep ini masih diterapkan hari ini di pariwisata Bali,” jelasnya.

Desa wisata Panglipuran, salah-satu contoh obyek wisata yang menerapkan Tri Hita Karana – IST

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana. Kepergian beliau menyisakan duka yang mendalam baginya. “Beliau adalah panutan saya, bahkan saya angap orang tua saya sendiri,” ungkapnya.

Pria yang kerap dipanggil Gus Agung itu mengungkapkan, Gede Ardika adalah pendiri Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua. “Semua pihak, kalau menanyakan pariwisata pasti larinya ke Pak Ardika. Karena beliau tidak serta-merta hanya memikirkan bisnis saja tapi memang pikirannya menyeluruh dan jauh ke depan,” ujarnya.

I Gede Ardika di Singaraja, Bali 15 Februari 1945. Ia menikah dengan Indriati dan mempunyai dua putri. Pendidikan yang diikutinya seperti gado-gado. Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, SMAN I di Singaraja, ia melanjutkan pendidikan ke Jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung, kemudian menempuh pendidikan Manajemen Perhotelan di Bandung, Jepang, dan Swiss.

Guna melengkapi pengetahuannya, ia mengikuti pendidikan administrasi negara di Bandung, kemudian melanjutkan pendidikan perencanaan kepariwisataan di Inggris. Kariernya dimulai di bidang perhotelan dan kepariwisataan yang pada saat itu belum populer di Indonesia.

Mantan Deputi Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran Kemeparekraf RI, Prof Dr Ir Gede Pitana – dok.Kemenpar

Memulai karier sebagai pengajar hingga menjadi Direktur National Hotel Institute, sebuah lembaga pendidikan perhotelan dan kepariwisataan milik pemerintah di Bandung, yang dibantu oleh Pemerintah Swiss. Ia kemudian mendirikan sekolah perhotelan dan kepariwisataan milik pemerintah di Bali dengan bantuan UNDP – ILO sebagai direktur yang pertama.

Ia kemudian menjabat berbagai jabatan di Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Parpostel). Dalam periode tersebut, ia mengikuti berbagai kursus, workshop, seminar di dalam negeri maupun di luar negeri, baik sebagai peserta maupun sebagai pembicara.

Pada saat kepariwisataan nasional sedang menghadapi tantangan yang amat berat, ia ditunjuk menjadi Direktur Jenderal Pariwisata. Sebelum tantangan krisis berakhir, ia ditunjuk sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sebanyak dua kali, pada pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, dan pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. (Kanalbali/WIB)