Hujan mengguyur kawasan Desa Pancasari, Buleleng, siang itu. Udara terasa dingin. Namun saat masuk ke dalam Green House Wiwanda Agro, suasana terasa lebih hangat. Gede Adi Mustika, 43, sedang sibuk disana. Doyok – demikian ia biasa disapa – tengah merawat tanaman stroberi. Yang usianya mulai menua diremajakan kembali, daun-daun yang menguning pun disiangi.
Sejak 2013 lalu, mantan pedagang aneka barang di Denpasar ini, menyulap kebun miliknya. Lahan dulunya ditanami bunga, dipermak menjadi menjadi spesialis hanya buah dengan nama latin Fragaria itu. Istimewanya, seluruhnya ditanam dengan pola organik sehingga menjadi satu-satunya di kawasan itu.
“Istilah kerennya stroberi hidroponik vertigasi tetes. Ini saya pelajari otodidak, juga dibantu teman-teman dari Kementerian Pertanian. Latar belakang saya bukan orang pertanian,” jelasnya saat ditemui, Minggu (5/7/2020).

Total ada 45.000 batang tanaman di perkebunan seluas 35 are itu. Semuanya ditanam pada 9 blok kebun yang berbeda. Varietas yang ditanam beragam. Mulai dari rosalinda, sweetstar, hosogrand, hingga sachinoka. Ketekunan mengembangkan pertanian organik berbuah manis. Kebun miliknya menjadi rujukan kunjungan wisatawan mancanegara. Sebelum pandemi COVID-19 melanda, kebunnya kerap dikunjungi wisatawan dari Timur Tengah, Rusia, maupun negara-negara di kawasan Asia Timur.
Sejak Maret silam, sektor pariwisata di Bali mengalami pukulan telak. Tak terkecuali dengan perkebunannya. Apalagi perkebunan itu banyak difungsikan jadi lokasi agrowisata. Keuangannya pun sempat morat-marit karena jumlah kunjungan merosot drastis sementara tagihan bank terus berjalan.
Kalau toh ada kunjungan, hanya berasal dari warga yang bermukim di sekitar Buleleng dan Tabanan saja. “ Syukurnya dari perbankan memberikan kemudahan dan menjadi lebih ringan,” ungkapnya. Situasi itu membuatnya menjajal peruntungan baru dengan menjual bakso di tempat itu.
Namun kemudian dia tergelitik untuk menjajal cara baru berjualan. Yakni, dengan mengunggah foto-foto stroberi ke media sosial facebook dan menawarkannya. “Biasanya beberapa jam sebelum saya atau anak saya jalan ke Denpasar atau Buleleng,” jelasnya. Orang bisa memesan dengan mengirim pesan di inbok atau melalu whattsapp. Cara ini ternyata efektif karena dia bisa menjual sebanyak 30-40 kilogram sekali jalan.

Malah kemudian ada juga suplier buah yang datang ke kebun miliknya. “Nggak harus setiap hari buka lapak di online. Karena langganan juga ada. Ini cukup membantu keuangan di masa pandemi,” tutur pria yang juga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Pancasari itu.
Kini, jelang pemberlakuan new normal di Provinsi Bali, ia bersiap menyambut wisatawan di kebunnya. Tempat cuci tangan didirikan lebih banyak. Rencana pembatasan jumlah pengunjung pun telah disiapkan.
Dalam sekali kunjungan, ia hanya akan mengizinkan 25 orang pengunjung masuk ke green house. Para pengunjung pun harus melakukan booking lebih dulu, agar waktu kunjungan dapat diatur. Dengan pola itu, ia berharap prinsip social distancing maupun physical distancing dapat terpenuhi.
Adapun sekali kunjungan, satu orang dibatasi hanya boleh maksimal 2 jam saja. “Biasanya tamu dari Asia Timur yang suka berlam-lama,” ujarnya. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah memetik buah stroberi dan makan di tempat atau dibuatkan jus.
Mereka juga boleh memetik untuk dibawa pulang dengan harga Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram. “Yang paling mahal varietas sachinoka itu, 100ribu per kilo. Tapi tidak selalu boleh diibawa bawa pulang. Tergantung ketersediaan stok,” jelasnya.

Yang menarik, untuk jaman normal baru, dia menyiapkan strategi peremajaan tanaman, yakni dengan mengatur agar tanaman akan berbuah ranum pada Agustus hingga September nanti. Bahkan bisa panen raya pada November atau Desember. “Jadi pas dengan rencana pemerintah Bali untuk membuka pariwisata bagi turis asing pada Agustus atau September,” ungkapnya.
Terkait dengan hal itu, dia tak bergerak sendirian. Perbekel Pancasari Wayan Darsana mengungkapkan, pemerintah desa bersama dengan Satgas Gotong Royong COVID-19 di Desa Adat Pancasari telah melakukan sosialisasi secara intensif. Bukan hanya pada pemilik usaha wisata saja, namun juga pada pemilik usaha-usaha lainnya.
“Terutama yang dikelola oleh BUMDes. Seperti objek wisata di Danau Buyan itu kan dikelola BUMDes. Itu kami pastikan betul semua fasilitas yang dibutuhkan harus sudah siap. Begitu juga dengan lokasi-lokasi lain yang selama ini menerima turis. Mereka harus siap dengan protokol kesehatan yang diwajibkan,” tegasnya. ( kanalbali/ Wayan Eka )



Be the first to comment