Kisah Ni Luh dan Kripik Ayam yang Taat Protokol Kesehatan

Berawal dari keinginan memiliki penghasilan sendiri dan membantu mengurangi beban suami, Ni luh Sri Wahyuningsih mencoba membuka usaha kecil-kecilan yakni membuat camilan kripik ayam di kawasan Kesiman, Denpasar. 

Kini usahanya berkembang dan dia memiliki 30 karyawan lepas yang didominasi ibu-ibu rumah tangga dan mampu memproduksi sehari 250 kilo camilan kripik ayam. 

Kala pandemi menerpa Bali, usahanya sempat mengalami penurunan pendapatan. Hingga selama 3 bulan dia merugi namun tetap berusaha berproduksi agar pegawainya tetap bekerja.  Saat pandemi Covid-19 ini, bahan baku pembuatan keripik sulit didapatkan karena pemotongan ayam menurun dan limbah sisanya seperti kepala dan cakar ayam menghilang.

Mengenai penerapan protokol kesehatan  di tempat produksinya, dia mengaku menyediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer dan mengingatkan para pegawai untuk wajib masker serta menjaga jarak. 

Semenjak New Normal usahanya perlahan mulai bangkit dan permintaan kripik ayam mulai meningkat. Kripik ayam khas kesiman Denpasar ini sudah tersebar diseluruh kota dan kabupaten di Bali. Harga nya pun sangat terjangkau hanya 1000 rupiah per bungkus.

Para pembeli mulai berdatangan kembali, demikian juga dengan reseller yang akan mengedarkannya ke seluruh penjuru Bali. ( kanalbali/RFA )