Tradisi Tenun Bali Menggeliat Saat Pandemi

Sejumlah perajin menenun kain di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. (Johannes P. Christo)

Selalu ada berkah dibalik wabah. Tradisi yang sempat mati suri kini bangkit kembali akibat dari dampak ekonomi pandemi COVID-19. Aktivitas menenun warga di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin mulai bergeliat setelah hampir 25 tahun redup.

Ide ini berawal dari menganggurnya ibu-ibu yang dulu bekerja di pariwisata. Berniat mencari kesibukan lain, terpikirkan untuk kembali menghidupkan tradisi menenun. Bermodal sisa dana donasi dari pihak swasta digunakan untuk membuat alat tenun dan membeli bahan.

Kini gelombang pertama sudah bisa menghasilkan total 5 juta Rupiah dari hasi penjualan kain tenun perdananya. Hasilnya mungkin belum seberapa namun ada kebersamaan dan kebahagiaan yang mereka rasakan saat membangkitkan tradisi leluhur di zaman ini. Mereka berharap pekerjaan ini dapat berkesinambungan ditengah industri pariwisata yang masih rapuh.

Tradisi tenun di Pejeng Kangin sudah dilakukan para leluhur zaman dahulu dan menemui masa keemasannya pada era Presiden Soeharto antara tahun 1985-1995. Namun meredup sering dengan pesatnya dunia pariwisata. Hanya tinggal segelintir saja yang masih bertahan menenun. Itupun sebagai hobi semata. (Johannes P. Christo)
Ni Wayan Murtini (39) menyatukan dan menyusun benang atau biasa disebut Ngyinan di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Murtini alias Apel adalah satu dari sedikit wanita yang masih menekuni tradisi menenun sejak kecil meski sehari-hari ia bekerja di villa. Ilmu tenun-menenun yang masih terjaga dalam ingatannya membuat dirinya dijadikan guru oleh para warga lain yang mulai terjun kembali ke tradisi ini. (Johannes P. Christo)
Made Lestari (38) menenun kain bermotif kekinian di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Setalah di PHK dari villa tempatnya bekerja akibat pandemi Covid-19, Lestari mulai mengingat-ingat cara menenun yang pernah ia tekuni semasa sekolah dasar. Baginya tradisi ini akan terus ia jalankan walau jadi sampingan ketika nanti pariwisata mulai bergeliat lagi. (Johannes P. Christo)
Ni Putu Widiasih (23) salah satu penenun termuda yang baru belajar di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Awalnya ide ini dicetuskan oleh para ibu-ibu yang menganggur karena sepinya pariwisata dampak dari pandemi Covid-19. Sebagian dana donasi yang didapat dari pihak swasta dijadikan modal untuk membuat alat tenun dan membeli bahan baku. Dengan uang 5 juta 10 set alat tenun pun tersedia. Tujuannya untuk pemberdayaan masyarakat sekaligus membangkitkan tradisi yang sedang mati suri. (Johannes P. Christo)
Ni Wayan Murtini (39) mengajarkan seorang perajin muda cara menenun di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Bagi Murtini selain mengisi waktu luang para wanita, kegiatan ini juga sebagai bentuk regenarasi penenun di Desa Pejeng Kangin. Ia berharap kebangkitan tenun di zaman sekarang juga dibarengi dengan pemasaran yang lebih luas dan bagus. (Johannes P. Christo)
Ni Putu Widiasih (23) menenun kain selendang bermotif wajik di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Widiasih salah satu perajin termuda. Lahir di era milenial, dirinya harus belajar dari nol cara menenun. Namun hanya dalam waktu dua minggu, tangannya sudah terampil membuat kain selendang. Sebagai terapis spa di hotel berbintang dirinya hanya digaji 25 persen sejak pandemi melanda. Berawal dari penasaran ia mengaku kedepannya tradisi ini akan ditekuni sebagai penghasilan tambahan. (Johannes P. Christo)
Tangan renta Wayan Kelemik (65) merangkai benang ketika menenun motif gegambiran di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Motif gegambiran adalah salah satu motif yang sering dibuat sejak dahulu kala di Desa Pejeng Kangin. Kain dengan motif menyerupai bentuk olahan getah gambir itu biasa digunakan sebagai kain dalam ritual potong gigi umat Hindu Bali. (Johannes P. Christo)
Beberapa jenis kain tenun hasil dari kelompok tenun di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Kelompok yang baru dibentuk pada 12 Mei ini sudah mendapatkan penghasilan sekitar 5 juta Rupiah penjualan kain tenun untuk dekorasi hiasan meja dan alas piring makan. Motif yang dibuat pun beragam baik motif tradisional Desa Pejeng Kangin maupun motif-motif dari luar desa. Harganya bervariasi mulai 150 ribu hingga 500 ribu Rupiah. (Johannes P. Christo)
Beberapa ibu-ibu melihat tayangan berita di telefon genggam disela-sela aktivitas menenun di Banjar Pesalakan, Desa Pejeng Kangin, Gianyar, Bali, 29 Juni 2020. Setiap penjualan kain tenun akan dipotong 25 ribu Rupiah untuk kas kelompok dan sisanya untuk penenun. Dengan kemajuan teknologi dan media sosial harapannya tenun hasil warga Banjar Pesalakan ini bisa dipasarkan secara luas dan menjadi penghasilan yang berkesinambungan selain dari industri pariwisata.(Johannes P. Christo)