BULELENG, kanalbali.id – Buleleng. Yayasan Panti Asuhan Destawan, Buleleng, menjadi tempat uji coba sebuah terapi yang digagas oleh para mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.
Tim yang dibimbing oleh Dr. Putu Nanci Riastini, S.Pd., M.Pd., dosen PGSD Undiksha tersebut mencoba membantu para penghuni panti asuhan tersebut untuk mengatasi masalah emosi yang mereka rasakan dan alami.
Menata Ulang Perayaan Saraswati Saat Pandemi
Dari angket yang telah disebar kepada remaja panti asuhan diketahui bahwa, terdapat 15% remaja dengan trauma, 13% depresi, 21% kecemasan, dan yang paling banyak adalah ketidakstabilan emosional sebanyak 51%.
BACA JUGA: Pengalaman Kuliner Unik Tersaji di Canggu, Diinisiasi Chef Para Pesohor
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh tim yang diketuai oleh Ni Made Pradnyan Wulan Andini, Luh Tia Agustini, Ni Kadek Gina Puspita Sari, I Komang Suarhadana K, dan I Wayan Sindu Yamuna bersama Ketut Sutrisna, Ketua Yayasan Panti Asuhan Destawan diketahui bahwa sebanyak 15 remaja dominan memiliki emosi yang tidak stabil seperti murung dan cemas yang berlebihan, salah satunya dialami oleh remaja yang bernama AK yang cenderung diam dan murung ketika terjadi suatu masalah.
“Selain itu, berdasarkan pemaparan yang lebih dalam, kondisi lemahnya kecerdasan emosi yang dimiliki remaja pada Yayasan Panti Asuhan Destawan dapat berdampak buruk bagi mereka, seperti menyakiti diri sendiri, perilaku merusak, bahkan hingga percobaan bunuh diri,” jelas Ni Made Pradnyan Wulan Andini, salah satu ketua tim.

Untuk mengatasi hal tersebut, para mahasiswa Undiksha ini menemukan sebuah terapi yang mereka namakan Terapi Shanti”. Merupakan stimulasi kecerdasan emosi dengan menggunakan musik khas Bali, yaitu rindik. Dipilihnya treatment bermain musik dikarenakan musik dapat mempengaruhi proses saraf di jaringan kortikal dan subkortikal dengan regulasi emosi.
Menurut Suarshadana, musik rindik Bali memiliki ritme yang dinamis disertai dengan permainan kotekan yang berisi sasih sehingga menghasilkan suatu suasana yang senang.
“Rindik juga memiliki ritme yang melankolis dengan berisi sistem kotekan, yaitu pepolosan, maka akan menghasilkan suatu suasana hati yang tenang dan akan memberikan suatu rasa gembira, serta dapat menggugah hati dan membuat suasana hati lebih baik,” katanya.
Disamping, imbuh Suarshadana, itu inovasi ini juga sebagai upaya untuk melestarikan Budaya Bali seperti yang sudah diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali.
I Wayan Sindu Yamuna menjelaskan, mitra utama dalam program ini adalah 15 orang remaja di Yayasan Panti Asuhan Destawan, Buleleng.
“Program ini berlangsung sejak 16 Mei 2024. Setelah pelatihan ini selesai, selanjutnya akan diadakan kegiatan pentas seni dan selanjutnya akan membentuk “Komunitas Shanti” yang beranggotakan remaja panti asuhan yang telah mengikuti pelatihan dan pendampingan. Kedepannya, komunitas inilah yang akan menjadi agen pembinaan kecerdasan emosi remaja di panti asuhan tersebut,” ucapnya. ***



Be the first to comment