DENPASAR, kanalbali.id- Musisi kreatif dari Bali Octav Sicilia kembali meluncurkan single terbarunya bertajuk ““Bukan Berarti”.
“Sebuah kejujuran karya yang berujung tajam terbungkus dengan nusana musik bluesy ringan, santai dan manis terdengar,” sebutnya Kamis (26/3/3036).
Karya itu sudah dapat dinikmai melalui seluruh platform digital pada Jumat (27/3/2026).
Single ini, menurut Octav, merupakan sebuah karya yang menandai perbedaan signifikan dari rilisan-rilisan karya sebelumnya.
Dalam karya terbarunya, dia merakit unsur notasi nada dengan formula yang jarang ditemui pada umumnya. Perpaduan tersebut diperkuat oleh lirik yang jujur, gamblang, sederhana, namun menyimpan makna yang tajam dan provokatif di balik setiap kata. Sebuah karya yang terasa unik, eksentrik, sekaligus menggugah.
Beberapa penggalan lirik dari lagu “Bukan Berarti” menegaskan keberanian tersebut: Berkah hidup bukan materi.
Hey kok Tuhanmu setan Alam neraka rasa surga Iblis cantik pangku paha Sapi tua euforia hey yeah
Dari zaman batu hingga perang Siang malam jalan-jalan
Punya otak nggak dipakai
Kemampuan Octav Sicilia dalam meramu nada dan lirik telah teruji oleh waktu. Dengan pengalaman puluhan tahun berkiprah di dunia musik, ia tetap konsisten menghadirkan karya-karya yang penuh kejutan dan tidak pernah kehilangan identitasnya.
Namun kali ini terasa berbeda. Seolah Octav Sicilia membuka sisi terdalam dirinya—sebuah idealisme yang selama ini jarang tersentuh dan hampir tak pernah disuguhkan secara terbuka kepada publik luas. Karya ini menjadi medium pengakuan, refleksi, sekaligus pernyataan sikap.
Terpengaruh oleh deretan nama besar dunia seperti Led Zeppelin, The Doors, Pink Floyd, The Beatles, Bob Dylan, The Rolling Stones, Bob Marley & The Wailers, serta lingkungan pertemanan dan pengaruh musik dari almarhum orang tuanya, perjalanan musikal Octav Sicilia menjadi sesuatu yang menarik untuk ditelusuri lebih dalam.
Lagu ini terasa seperti isi kepala sang musisi kelahiran Italia, 1 Oktober 1976, yang dituangkan apa adanya.
Tersirat pesan tentang kejujuran, kegelisahan akan makna persahabatan, konflik cinta, hingga krisis kepercayaan rakyat kecil terhadap negerinya—sebuah tanah air yang kaya raya oleh alam dan hasil bumi, namun kerap miskin oleh moral para pemimpinnya.
Lagu ini juga menjadi refleksi bagi generasi penerus bangsa yang harus bersiap menghadapi kerasnya kehidupan. ( kanalbali/RLS )


