Kuta Jelang Normal Baru : Asa Itu Masih Ada

Belum pulihnya pariwisata Bali yang terdampak pandemi membuat pemerintah memutuskan tidak ada kenaikan UMK di Bali - IST

Puas bermain dengan deburan ombak Kuta, Yusuf, 30 tahun, kembali memanjat pagar pantai. Setelah meletakkan papan selancarnya di atas motor, ia bergegas menghampiri seorang pedagang nasi bungkus keliling di tepi jalan.  Sebungkus nasi dimakannya dengan lahap.

Tak sendiri, beberapa temannya sesama peselancar juga tampak memanjat pagar pantai. Beberapa warganegara asing juga tampak melakukan hal yang sama. Kerinduan mereka pada deburan ombak Kuta tampaknya sudah tak lagi terbendung.“Bosan juga kalau di kos saja,” kata Yusuf santai.

Gara gara pandemi COVID-19, Pantai Kuta secara resmi ditutup sejak akhir Maret lalu. Tidak ada aktivitas apapun yang diperbolehkan di kawasan pantai yang namanya sudah mendunia itu. Meski demikian. Banyak orang tetap nekat masuk ke kawasan pantai untuk berselancar. Sebagian besar diantara mereka memilih memanjat pagar pantai.  

Jalanan lengang di Kuta banyak diisi orang bersepeda menghabiskan waktunya – WYA

Bagi Yusuf yang sehari hari bekerja sebagai instruktur selancar di Pantai Kuta, pandemi COVID1-9 bukan cuma soal kerinduannya pada ombak. Pandemi juga bukan hanya soal penyakit yang mengancam kesehatan. Pandemi juga menjadi masalah ekonomi serius baginya.”Kalau dipikirin (COVID-19) irkan. Malah bikin pusing aja. Jalanin aja. Bertahan ya bertahan hidup,” keluh Yusuf.

Kuta memang sering disebut kawasan yang tak pernah mati di Bali. Tapi itu dulu, sebelum virus COVID-19 menyerang pulau seribu pura ini. Hinggar bingar pariwisata di Bali pun hancur lebur.  Tak hanya pengusaha dan para pekerjanya., para anak pantai yang menggantungkan hidupnya di Pantai Kuta juga terdampak.

Sudah empat bulan lamanya, Yusuf tak bekerja. Tak ada pekerjaan lain yang juga bisa ia kerjakan. Hidupnya pun kini bergantung dari bantuan teman-teman yang lainnya. Sesekali, papan selancarnya pun disewakan. Lumayan, ia dapat Rp 500,000 sebu;an.

Dokar yangmenjadi angkutan wisata tetap berusaha mengais rejeki di Kuta – WYA

“Kami (anak pantai) nggak ada sekolah (sekolah tinggi). Kerja lain pun sibuk bikin surat lamaran, belum lagi (masalah) ijazah. Ya bikin tambah pusing lagi,” ujar pria asal Sumatera itu.

Yusuf menyebut, separuh lebih anak-anak pantai di Kuta sudah kembali ke kampung halaman mereka. Pasalnya, sejak pandemi, praktis tidak ada lagi penghasilan yang bisa didapat dari Pantai Kuta.

Di masa masa sebelum pandemi, Yusuf mengaku pendapatan para anak pantai lumayan tinggi, bisa mencapai puluhan juta sebulan. Untuk melatih selancar satu orang wisatawan misalnya, Yusuf bisa mendapatkan Rp 300,000. Durasinya hanya dua jam. Sayangnya, penghasilan yang besar itu jarang ditabung.

Dalam waktu dekat, Kuta akan kembali dibuka. Pantai Kuta akan secara resmi dibuka pada 9 Juli. Meski demikian, pantai juga akan dibuka terbatas pada 5 Juli besok.Rencana penerapan kenormalan baru di Pantai Kuta rupanya ditanggapi dingin oleh Yusuf. “Dibuka pun, tamu (wisatawan asing) belum ada. Jadi buka sama nggak buka, nggak ada ngaruhnya ke saya,” kata dia.

Lain Yusuf, lain juga cerita Agus. Pria yang bekerja sebagai kusir dokar  (delman) itu menaruh harapan besar dari pembukaan Pantai Kuta. Selama pandemi, Agus mencoba bertahan hidup dengan bekerja sebagai kuli bangunan.

Sayangnya, proyek bangunan tempat dia bekerja telah rampung. Daripada jenuh di rumah, saya nyoba turun lagi sekarang. Tapi masih sepi ini, belum ada yang naik,” ujarnya sambil duduk menyender di tembok Pantai Kuta.

Pantai Kuta di kala senja menanti turis datang kembali – WYA

Pada masa masa normal, Agus biasanya dapat meraup Rp 100 ribu sekali  jalan. Agus yang biasa  bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 3 sore hari itu berharap Kuta segera kembali ramai seperti sebelumnya. Dengan begitu, ia dan 20 kusir dokar lainnya bisa kembali bekerja.

Selain Yusuf dan Agus, salah satu pemilik penginapan dari Kuta, Jro Made Supatra Karang pun tak menampik bahwa COVID-19 memang meluluhlantakkan Kuta. Ia pun mengkritisi pemerintah Bali, khususnya pemerintah kabupaten Badung yang dianggap setengah hati untuk membantu Kuta.

“Pandemi ini kayak kita mandi di laut, tapi airnya sudah di mulut. Sebentar lagi kita tenggelam. Bantuan nggak ada ke pengusaha kecil seperti kami. Urusan pajak hotel dan restoran kita apresiasi. Tpi itu saja tidak cukup,” keluhnya.

Disisi lain, pemilik The Bounty Cruise, I Gede Wiratha justru melihat pandemi ini sebagai salah satu momentum untuk kebangkitan pariwisata di Bali. Sebab, dengan penerapan new normal, kunjungan para wisatawan ke Bali dapat terukur dengan baik.

Suasana monumen bom Bali di Legian pada malam Minggu. Warga berkumpul menghabiskan malam panjang – FTA

“New normal di Bali akan menaikkan posisi Bali ke peringkat atas kembali, karena sudah mengikuti aturan. Bali ini akan menjadi destinasi termahal di dunia. Harga menginap di hotel pun melambung tinggi. Kenapa? Karena persiapannya, aturannya diikuti dengan benar oleh masyarakat Bali. Duduk nggak mepet dan kamar hotel pun dibiarkan jeda 2 hari, baru bisa diiisi lagi,” ujar pria yang juga pemilik Double Six Luxury Hotel itu.

Di masa pandemi, kata Wiratha, manajemen hotel juga dipaksa mengeluarkan dana operasional yang jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. “Nggak bisa main-main karena ukurannya kesehatan. Mau gimana? Semua akan mahal, nanti kolam renang hanya boleh diisi 8 orang, semua karyawan di rapid test, ini akan mahal sekali. Tamu berani? Berani. Karena aman tinggal di Bali,” ujarnya optimis.

Bendesa Adat Kuta, Wayan Wasista, mengaku sudah melakukan tindakan yang maksimal untuk mempersiapkan Kuta jelang menyambut kenormalan baru.Selain penyemprotan disinfektan di kawasan pantai, pihaknya juga sudah menyiapkan tempat cuci tangan di kawasan pantai. Para petugas pantai juga akan menjaga pintu masuk dengan thermogun (alat pengukur suhu). Mereka yang memiliki suhu di atas normal tidak akan diperbolehkan masuk ke areal pantai.

Wasista mengaku sangat mengapresiasi warganya sangat patuh dengan imbauan pemerintah. Itu pula sebabnya, kata dia, belum ada satu pun kasus postif COVID-19 di wilayah Kuta. “Kalau bagi tiang (saya), pandemi ini mengajarkan kita yang utama sebenarnya adalah harus hidup bersih. Mudah-mudahan hal ini cepat berlalu, masyarakat kembali hidup normal, membangun usaha kembali,” kata Wasista.  ( Wayan Antara )