New Normal Pariwisata Tabanan: Menyemai Harapan di Tengah Kecemasan

Patroli Polisi Air Polres Tabanan bersama tim penyelamat pantai obyek Wisata Tanah Lot, Minggu, 28 Juni 2020 melakukan persiapan menjelang penerapan new normal (Argawa)

MATAHARI sudah mulai meninggi pagi itu. Putu Andika, 26, masih duduk santai di beranda rumahnya di Desa Sudimara, Tabanan. Ia terlihat asyik memainkan gawainya sambil sesekali menyeruput kopi. “Lagi lihat berita, katanya pariwisata mau dibuka,” katanya Rabu, 24 Juni 2020.
 
Andika adalah staf keuangan di sebuah hotel di kawasan Seminyak, Kuta. Sejak pandemi COVID-19, ia hanya bekerja tujuh hari dalam sebulan. Ini membuatnya lebih banyak bersantai di rumah selama pandemi. Namun, kebijakan pengurangan jam kerja itu otomatis juga berdampak pada penghasilannya. “Sekarang cuma dapat gaji pokok saja. Biasanya dapat tambahan uang kinerja,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, Andika bisa mengantongi hingga Rp 5 juta per bulan. Kini, ia hanya menerima kurang dari sepertiganya. Meski masih bujang, pendapatan yang turun drastis membuat Andika pusing tujuh keliling. Banyak penghematan yang dilakukannya, terutama untuk jajan dan jalan-jalan.

Andika hanyalah satu diantara puluhan ribu karyawan hotel di Bali yang terdampak akibat pandemi COVID 19. Tak hanya mengalami pengurangan jam kerja, yang juga berarti pengurangan pendapatan, banyak juga karyawan hotel yang dirumahkan dan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).“Mudah-mudahan pariwisata bisa segera dibuka,” harapnya.
 
Harapan Andika tak jauh beda dengan Putu Erawan. Kepala divisi humas dari manajemen pengelola obyek wisata Tanah Lot itu juga berharap pariwisata Bali dapat kembali dibuka. “Kami siap buka lagi,” tegas Erawan. Manajemen Tanah Lot telah mempersiapkan protokol pencegahan penularan COVID-19. Erawan menyebutkan, akan disiapkan 16 spot cuci tangan. Selain itu, akan adan pembatasan jarak antar pengunjung, petugas penjaga tiket dilengkapi masker, pelindung wajah dan sarung tangan. Setiap pengunjung yang datang juga akan diperiksa suhu tubuhnya.

Sudah lebih dari tiga bulan lamanya, obyek wisata Tanah Lot berubah menjadi sepi dan hening. Pasalnya, sejak 16 Maret, manajemen memutuskan menutup kawasan wisata yang mengandalkan pemandangan pura di tengah laut itu. Dalam kondisi normal, Tanah Lot dikunjungi sekitar 5.000 hingga 6.000 orang per hari.

Penutupan obyek wisata yang menjadi salah satu ikon pariwisata Bali itu tentu saja membuat denyut perekonomian di sana lumpuh total. Seluruh toko suvenir dan warung di sekitar area tersebut juga terpaksa tutup. Pihak manajemen pengelola pun terpaksa harus melakukan efisiensi gaji bagi para karyawannya.  Meski masa pandemi COVID -19 belum usai, manajemen pengelola menjamin bahwa Tanah Lot tetap aman untuk dikunjungi. “Karena Tanah Lot tempatnya terbuka,” Erawan memastikan.
 

Setali tiga uang dengan Tanah Lot, obyek wisata Ulun Danu Beratan juga bersiap menerima wisatawan. Manajer pengelola obyek wisata pura di tepi danau itu, Wayan Mustika, menyebutkan pihaknya telah menerima panduan tentang standar operasional prosedur pencegahan dan penularan COVID-19 dari Dinas Pariwisata Tabanan.“Pihak dinas juga sempat melakukan pengecekan langsung,” ujar Mustika.
 
Setelah lebih dari 3 bulan tutup, Mustika mengaku anggaran yang dimiliki oleh manajemen Ulun Danu Beratan telah terkuras habis. Selain karena nihilnya pemasukan, itu juga karena sebagian anggaran sudah sempat digunakan untuk membuka obyek wisata baru sebelum pandemi. “Tapi karyawan dan pengurus sudah berkomitmen, untuk sementara kami kerja tanpa dibayar,” ujarnya.

Gubernur Bali Wayan Koster sebelumnya sempat mengumumkan rencana pembukaan obyek wisata untuk internal Bali pada 9 Juli. Artinya, hanya pergerakan masyarakat di dalam wilayah Bali saja diperbolehkan. Baru pada Agustus, wisatawan domestik dari wilayah lain di Indonesia akan diperkenankan. Sedangkan wisatawan internasional diharapkan bisa dterima pada September. Meski demikian, Koster menyebut keputusan akhir akan tergantung pada kondisi pandemi COVID-19 di Bali saat itu.
  

Ketua Pusat Penelitian Kesehatan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Udayana dr. I Made Ady Wirawan meminta pemerintah lebih cermat ketika ingin membuka sektor pariwisata di Bali. Pria yang juga Koordinator Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana itu mengatakan, enam syarat new normal oleh World Health Organization (WHO) masih belum sepenuhnya dipenuhi Bali.

Ia mencontoh, kasus transmisi lokal di Bali yang belum sepenuhnya terkendali. Hal itu terlihat dari terus meningkatnya trasmisi lokal. Hingga 25 Juni, tercatat ada 1.214 kasus COVID 19 di Bali dengan 11 kematian. Transmisi lokal mendominasi kasus sejak satu bulan terakhir. Ady juga menyoroti terbatasnya tempat layanan kesehatan yang tersedia. “Tempat isolasi sudah hampir penuh. Selain itu, tempat karantina juga sama,” kata Ady.
 
Jika nantinya pariwisata tetap dibuka, Ady berharap pemerintah bisa sangat selektif. Ia menyarankan pembukaan pariwisata hanya dilakukan di kawasan terbuka yang memungkinkan penerapan social distancing secara maksimal seperti kawasan pantai. (Made Argawa)