Nyanyian Rindu Ibu Guru Saat Musim Corona

HARI masih sangat pagi. Sekitar pukul 07.30 Wita, Ni Komang Ayu Tri Astiti, sudah rapi berpakaian seragam guru. Sambil menjinjing tas, dia naik sepeda motor menyusuri jalan pedesaan di Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, Jembrana.

Sekitar 15 menit kemudian, ia telah tiba di rumah Windu Surya Perdana, muridnya yang masih duduk di kelas 2 SD. Ia disambut ramah Windu bersama neneknya. Di rumah yang sangat sederhana dengan nuansa alam dikelilingi pohon-pohon besar, Windu mulai membuka buku pelajarannya di dipan depan rumah.

Sementara Astiti juga membuka buku dan mulai memberikan penjelasan. Windu nampak sangat serius menerima pelajaran dari gurunya, sambil sekali-sekali menoleh ke arah neneknya. “Ini kegiatan rutin di masa pandemi. Terutama murid-murid yang kesulitan akses internet dan tidak memiliki HP adroid,” terang Astiti.

Dalam sehari dia biasanya bisa mengunjungi 10 bahkan lebih muridnya untuk dibimbing. Jaraknya juga berjauhan antara satu hingga tiga kilo meter. ‘Saya senang karena bertemu langsung dengan murid dan orang tuanya,” katanya.

“Khusus Windu, dia sudah tidak memiliki orang tua. Dia hanya diasuh oleh neneknya yang tidak memiliki penghasilan tetap. Makanya saya lebih sering mengunjunginya untuk memberi pelajaran,” ujarnya.

“Dibandingkan belajar tatap muka di kelas, belajar di rumah lebih cepat menangkap. Itu karena suasananya kekeluargaan. Jika sekolah tingkat kelelahan murid lebih tinggi karena ada waktu bermain dengan teman-temannya,” tuturnya.

Demikian halnya jika menerapkan belajar online jauh lebih susah karena hampir 70 persen murid tidak memiliki HP android. Belajar dengan program guru kunjungan menurut Astiti jauh lebih bagus diterapkan di masa pandemi covid 19 saat ini.

“Saya senang bisa bertemu ibu guru. Rasanya lebih disayang,” kata Windu. Windu yang mengaku sudah hampir lima bulan tidak sekolah mengaku sangat senang dengan program guru kunjungan karena dia bisa lebih cepat mengerti apa yang disampaikan oleh guru.

Namun demikian, dia juga berharap bisa belajar di sekolah seperti sebelum COVID- 19 karena dia juga rindu dengan teman-teman sekolahnya. “Jika menerapkan belajar online, jelas saya tidak bisa ikuti karena tidak punya HP,” imbuhnya.

Sementara bagi teman-temannya yang memiliki HP juga mengaku tidak begitu suka belajar online, karena disamping dalam sehari menghabiskan pulsa hingga Rp 20 ribu, juga sulit mengerti materi pelajaran. Namun jika guru kunjungan lebih cepat mengertinya.

“Saya sehari ngabisin pulsa dua puluh ribu rupiah jika belajar online. Tapi rugi saya tidak bisa mengerti,” tambah Yoga, teman sekelas Windu.

Program guru berkunjung juga dilaksanakan Ni Komang Dewi Antari Yani, guru SMP Negeri 5 Negara asal Desa Baluk, Negara. Dia rutin mengunjungi 10 hingga 15 muridnya tiap hari untuk memberikan bimbingan belajar.

Mengajar dengan mendatangi langsung muridnya jauh lebih baik dan nyaman jika dibandingkan belajar online. Selain murid bisa lebih cepat mengerti, guru juga bisa ketemu langsung murid dan orang tuanya serta mengetahui kehidupan sehari-harinya.

Ni Luh Putu Prami Lestari, siswa kelas VIII, SMP Negeri 5 Negara yang pernah dikunjungi gurunya merasa sangat senang dengan program guru kunjungan. “Saya senang dan bangga jika dikunjungi guru. Suasana belajar jadi tenang penuh kekeluargaan, seperti belajar dengan orang tua sendiri dan saya juga lebih cepat mengerti,” tuturnya.

Dia mengaku tidak bisa mengikuti belajar secara online karena tidak memiliki HP. Program guru kunjungan menurut siswi asal Desa Air Kuning, Jembrana ini sangat membantu dirinya memahami pelajaran yang diberikan oleh guru dan bisa mengejar ketinggalan materi pelajaran setelah hampir lima bulan tidak sekolah.

“Tapi saya berharap pandemi covid 19 segera berlalu dan saya bisa kembali belajar di sekolah bersama teman-teman karena kami sudah rindu dengan teman-teman di sekolah,” tutupnya yang mengaku sudah 5 kali dikunjungi gurunya. ( kanalbali/Dewa Darmada )

Apa Komentar Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.