Aktivis di Masa Pandemi: Tak Bisa Turun ke Jalan, Facebook Pun Jadi

Wayan Gendo Suardana dengan nasi bungkus yang siap dibagikan kepada warga yang membutuhkan - dok.pribadi

 

“@Gubernur.Bali Jika Syarat “New Normal” salah-satunya adalah penerapan rapid sebagai syarat administrasi maka jangan salahkan jika banyak warga yang akan melawan anda!”. Peringatan keras itu disampaikan aktivis Wayan Gendo Suardana di akun instagram dan facebooknya, Sabtu (11/7/2020).

Ia mengkritisi kebijakan Gubernur Bali yang mewajibkan rapid test sebagai syarat untuk melakukan perjalanan dan kembali bekerja. “Padahal akurasi rapid itu diragukan dan tidak berhubungan langsung dengan status positif COVID-19 seseorang,” sebutnya sambil mengutip pernyataan sejumlah ahli.

Pernyataan Wayan Gendo Suardana yang mengkritisi penggunaan rapid test untuk urusan administrasi warga – IST

Ini adalah episode lanjutan dari sikap kritis Alumni Fakultas Hukum Universitas Udayana ini atas kebijakan dalam penanganan pandemi oleh Pemerintah Provinsi Bali. Sebelumnya, dia termasuk yang bersuara keras terhadap penerapan aneka pembatasan sosial yang dilakukan Gubernur melalui berbagai himbauan.  

Ia menyebutnya sebagai Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) setengah hati. Yakni, untuk menutupi ketidakmampuan pemerintah menanggung biaya hidup bila PSBB terang-terangan diterapkan. Dalam soal  ini, dia pun ‘menghajar’  Pemerintah Kota Denpasar yang memberlakukan Pembatasan kegiatan masyarakat (PKM).  Selain tak jelas dasar hukumnya, PKM itu tidak efektif untuk membatasi penularan virus yang senyatanya sudah ada di kota Denpasar dan bukannya dari luar kota.

Baca Juga :

Uniknya, selain untuk mengkritisi, ia pun menggunakan facebook sebagai cara untuk mengapreasi kebijakan yang patut didukung. Pada Minggu, (5/7/2020) misalnya, dia pun memuji kebijakan Gubernur yang membebaskan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Sanksi keterlambatan pembayaran. “Ayo manfaatkan kebijakan ini, Jika melenceng kita serbu lagi Gubernur Bali,” serunya dalam status itu.

Selain aktif mengunggah pernyataan di akunnya, Gendo pun mengeksplorasi sejumlah fasilitas yang disediakan Facebook. Ia misalnya, sempat membuka ruang dialog melalui facebook live dengan mengundang sejumlah narasumber. “Ternyata asyik juga, dan banyak yang mengikuti dengan komentar-komentar mereka,” katanya.

Wayan Gendo Suardana saat memimpin aksi ForBali – dok.ForBali

Mengenai topiknya, dia tak mempersiapkan secara khusus. “Biasanya kalau ada isu yang perlu ditanggapi berdasarkan mood saja,” sebutnya. Dalam sekali live di facebook atau instagram bila dilakukan spontan biasanya ditonton 400-600 orang.

Bila diumumkan sebelumnya akan live dengan mengangkat tema tertentu maka audiens yang yang terlibat bisa lebih dari 1.000 orang. Mayoritas ikut aktif dengan memberikan komentar atau menyampikan data mealui kolom komentar.  

Lalu bagaimana respon dari pejabat yang dikritiknya?. “Ya sama saja, kita demo di kantornya saja jarang ditemui,” ujarnya sambil tertawa. Bedanya, dengan aktif di media sosial, publik pun bisa terlibat dan ikut melakukan pengkajian. “Publik bisa menilai dengan nalarnya sendiri mengenai apa yang saya sampaikan dan bagaimana respon dari pemerintah,” ucap Gendo.

Tapi bukan berarti suara kritisnya tak direspon sama sama sekali. Soal PSBB misalnya, Ketua Gugus Tugas COVID-19 Bali, Dewa Made Indra sempat menyindirnya. “Kalau Burungnya kecil kenapa tembak Pakai Rudal.?”, Begitu kata dia.  Ada juga respon Kepala Bagian Hukum Pemerintah Kota Denpasar atas kritikan Gendo mengenai dasar hukum dan pelaksanaan PKM. Sayang, respon itu ujungnya hanya meminta Gendo untuk mengambil SK tentang PKM ke kantornya agar mendapat data yang lebih valid.

Bagi banyak orang mengenalnya, apa yang dilakukan Gendo itu bukanlah hal yang aneh. Maklum saja, sejak reformasi 1998, dia sudah dikenal sebagai mahasiswa yang berlebih energinya. Aksinya yang masih berlanjut hingga hari ini adalah memimpin Gerakan Forum Bali Tolak Reklamasi (ForBali) Teluk Benoa yang sudah lebih dari lima tahun berjalan. Sebelum masa pandemi, gerakan ini berkali-kali turun ke jalan dan berunjuk rasa di kantor Gubernur.

Saat ini selain aktif di Medsos, dia juga membuat geraka ‘GLO’ Berbagi. GLO adalah singkatan dari Gendo Law Office, kantor pengacara yang digawangi bersama sejumlah rekannya. Gerakan ini membagikan sayuran gratis dan nasi bungkus untuk warga yang membutuhkan di masa pandemi ini. Kegiatan mereka pun terus dipublikasikan di media sosial untuk membangkitkan solidaritas bagi warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Menanggapi sikap kritis itu, Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar Dewa Gede Rai, mengaku tak terganggu. “Tentu semua masukan saran kritik akan jadi pemikiran untuk perbaikan ke depan agar corona ini segera berlalu,” katanya . “Anggap saja vitamin yang dapat melecut semangat tim untuk bekerja lebih baik,” sebutnya. ( kanalbali/Robinson Gamar )