Olala, Olahan Sorgum dari Karangasem Ini Istimewa Banget Rasanya

KARANGASEM – Sama seperti mengolah bahan makanan lain, memasak biji sorgum menjadi makanan tidaklah sulit. Hanya saja proses pengolahanya cukup memakan waktu. Itu lantaran, karakter dari biji bernama latin Sorghum bicolor (L) itu cukup keras.

“Biji sorgum direndam selama 2 jam, lalu dimasak 1,5 jam hingga menjadi lembek. Setelah sorgum lembek bisa diaplikasikan jadi apa saja,” kata Rudi Wisnawa, seorang juru masak.

Varian menarik yang disajikan Rudi saat pengenalan menu sorgum pada kelompok tani di Karangasen, Jumat (26/3/2021) adalah masakan sorgum dipadu ikan bakar tongkol kemangi.

“Proses pembuatannya tak jauh beda dengan membuat nasi bakar yang biasanya, hanya saja bahan dasarnya adalah sorgum,” ujarnya. Sorgum yang telah lunak dicampur dengan olahan sambal tongkol kemangi, lalu dibungkus dengan daun pisang dan digoreng selama sekitar 15 menit. Saat dicicipi, rasa sorgum bakar nyaris mirip dengan nasi bakar yang kerap ditemui di warung angkringan atau tempat makan lainnya. Bedanya, tekturnya lebih lembut dan pulen. Apalagi dipadukan dengan sambal kemangi yang khas, semakin menggugah selera, namun cukup mengenyangkan

Satu-satunya kendala saat mengolah sorgum kata Rudi, yaitu waktu pengolahannya yang cukup lama. “Sorgum itu dapat mengembang banget, takaran 1 Kg dapat mengembang jadi 3 Kg,” ungkapnya. Olahan sorgum lainnya yaitu bubur sorgum. Setelah diolah, sorgum tidak hancur lebur, namun masih ada bentuk butirannya. Dengan tambahan vla dari santan kental dicampur gula serta parutan kelapa, tekstur bubur sorgum ini malahan nyaris terasa seperti kacang hijau.

Sorgum merupakan jenis biji-bijian sereal yang bentuk tanamannya tinggi seperti jagung. Tanaman ini dapat bisa dimasak begitu saja layaknya beras. Karena karakteristik rasanya yang hambar, sorgum dapat dipadukan dengan bumbu ataupun bahan makanan dengan rasa yang kuat.

Harga sorgum di pasaran masih tergolong mahal yaitu Rp 30 ribu per kilogramnya. Ketersediaan mesin penggiling yang memisahkan biji sorgum dengan kulit arinya pun masih belum banyak dijumpai. Meski begitu, kata Rudi, pemerintah serta beberapa pihak tengah mengembangkan alat itu sehingga dapat beredar di masyarakat. (Kanalbali/WIB)