Di masa lalu, perayaan terasa lebih dekat dengan kehidupan lingkungan. Orang-orang saling berkunjung, keluarga berkumpul, dan suasana keagamaan hadir dalam percakapan serta aktivitas sehari-hari.
Oleh Angga Wijaya*
PAGI itu, Rabu, 4 November 2026, sebagian orang di Denpasar sudah bersiap menjalani aktivitas seperti biasa. Ada yang membuka warung, mengantar anak ke sekolah, berangkat bekerja, atau terjebak kemacetan di jalan. Di rumah-rumah dan sejumlah pura, umat Hindu sedang melaksanakan persembahyangan Hari Raya Pagerwesi.
Mendunia ‘berbekal’ Uang Kepeng . Kok Bisa?
Bagi sebagian orang, hari itu mungkin terasa seperti Rabu lainnya. Pekerjaan tetap menunggu, kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi, dan waktu berjalan mengikuti kesibukan masing-masing. Sementara itu, bagi umat Hindu, Pagerwesi merupakan hari suci untuk memperkuat pengetahuan, keyakinan, dan keteguhan batin.
Pemandangan serupa juga terlihat di sejumlah kawasan Kabupaten Badung. Aktivitas ekonomi tetap berjalan. Tidak semua orang dapat mengambil waktu untuk merayakan hari raya bersama keluarga atau mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan tempat tinggalnya.
Saya kemudian teringat suasana hari raya yang pernah saya jumpai pada masa lalu. Perayaan terasa lebih dekat dengan kehidupan lingkungan. Orang-orang saling berkunjung, keluarga berkumpul, dan suasana keagamaan hadir dalam percakapan serta aktivitas sehari-hari. Kini, pengalaman itu tampaknya tidak selalu mudah ditemukan di tengah kehidupan kota.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa masyarakat Bali mulai meninggalkan tradisinya. Pagerwesi tetap memiliki tempat dalam kehidupan spiritual umat Hindu. Namun, perubahan demografi, mobilitas penduduk, dan tuntutan pekerjaan membuat cara manusia menjalani hari raya ikut mengalami pergeseran. Dari suasana Pagerwesi tahun ini, saya mencoba membaca perubahan yang berlangsung dalam kehidupan sosial masyarakat Bali.
Sebagai seseorang yang pernah mempelajari antropologi budaya dan telah lama tinggal di Denpasar, saya tertarik mengamati bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Kota bukan sekadar kumpulan bangunan dan jalan raya. Di dalamnya berlangsung perjumpaan berbagai kepentingan, kebiasaan, keyakinan, dan cara hidup.
Hari Raya di Tengah Kesibukan Kota
Dalam masyarakat Bali, hari raya bukan sekadar persoalan persembahyangan. Perayaan keagamaan juga merupakan peristiwa sosial dan kebudayaan.
Hari suci menghadirkan hubungan antarkeluarga, interaksi antarwarga, persiapan upacara, serta berbagai kegiatan komunal. Pengalaman bersama itulah yang membentuk atmosfer sebuah perayaan.
Dalam lingkungan dengan ikatan sosial yang kuat, hari raya menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan keluarga dan tetangga. Orang-orang saling berkunjung, membantu persiapan upacara, atau sekadar berbincang setelah persembahyangan.
Namun, ritme perkotaan memiliki logika berbeda.
Tidak semua orang dapat menghentikan pekerjaannya ketika hari raya tiba. Mereka yang bekerja di sektor pariwisata, perdagangan, transportasi, kesehatan, dan pelayanan publik tetap harus menjalankan tugas. Sebagian pekerja bahkan menghadapi jadwal yang tidak mengenal hari libur keagamaan.
Bagi mereka, perayaan berlangsung di sela-sela kesibukan. Seseorang mungkin bersembahyang sebelum berangkat bekerja. Orang lain menyempatkan diri pulang untuk menghaturkan persembahan. Sebagian baru dapat melaksanakan ritual setelah menyelesaikan kewajibannya.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan harus berhadapan dengan tuntutan kehidupan modern. Masyarakat berusaha mempertahankan praktik keagamaan sembari menyesuaikan diri dengan pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari.
Karena itu, berkurangnya suasana hari raya di ruang publik tidak otomatis menunjukkan melemahnya keyakinan. Bisa jadi, perubahan tersebut lebih berkaitan dengan cara masyarakat membagi waktu, menggunakan ruang, dan membangun hubungan sosial.
Pagerwesi dan Makna Sebuah Pagar
Pagerwesi memiliki makna filosofis yang menarik. Secara harfiah, pager berarti pagar, sedangkan wesi berarti besi. Pagerwesi menjadi perlambang perlindungan yang kuat.
Dalam tradisi Hindu Bali, hari suci ini berkaitan dengan pemujaan Sang Hyang Pramesti Guru. Pagerwesi mengingatkan manusia untuk memperkuat diri dengan pengetahuan, keteguhan iman, dan kebijaksanaan agar tidak terjerumus dalam kegelapan atau awidya.
Makna tersebut terasa relevan ketika Pagerwesi dibaca dalam konteks kehidupan perkotaan.
Kota menyediakan banyak hal bagi manusia. Kesempatan ekonomi, pendidikan, pekerjaan, hiburan, dan berbagai kemudahan hidup. Namun, di balik semua itu, terdapat kesibukan, persaingan, perubahan hubungan sosial, serta kecenderungan manusia untuk hidup dalam dunianya sendiri.
Di tengah ritme yang serba cepat, manusia membutuhkan pegangan agar tidak kehilangan arah.
Pagar dalam Pagerwesi bukan semata-mata pembatas ruang fisik. Ia dapat dimaknai sebagai kekuatan batin, pengetahuan, dan nilai-nilai yang menjaga manusia dari kehilangan orientasi hidup.
Muncul pertanyaan yang layak direnungkan pada hari suci ini. Ketika kota semakin padat dan hubungan sosial cenderung individual, sejauh mana manusia masih memiliki ruang untuk merawat kedekatan dengan keluarga, tetangga, lingkungan, dan tradisinya?
Perubahan tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi kebudayaan. Bali telah melewati berbagai dinamika sejarah. Masyarakatnya memiliki kemampuan beradaptasi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan akar tradisi.
Namun, adaptasi membutuhkan kesadaran bersama. Tradisi tidak cukup dipertahankan sebagai jadwal ritual dalam kalender. Nilai-nilainya memerlukan ruang sosial agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kota yang Tetap Membutuhkan Ingatan
Menjelang siang, jalanan Denpasar masih ramai. Kendaraan bergerak di antara deretan toko dan bangunan. Orang-orang melanjutkan pekerjaan. Di sejumlah rumah, keluarga mungkin masih mempersiapkan persembahyangan. Di tempat lain, umat Hindu telah menyelesaikan ritual sejak pagi.
Dua suasana berlangsung bersamaan.
Kehidupan kota tidak berhenti, sementara Pagerwesi tetap dirayakan. Di antara keduanya terdapat dinamika sosial yang tidak selalu mudah dikenali apabila kita hanya melihat permukaan.
Barangkali yang berubah bukan semata-mata cara masyarakat merayakan Pagerwesi, melainkan wajah sosial masyarakat yang menjalaninya.
Denpasar dan Badung tumbuh sebagai ruang urban dengan penduduk yang semakin banyak dan beragam. Pertumbuhan tersebut membawa konsekuensi terhadap hubungan sosial, pola keseharian, dan pengalaman kebudayaan.
Pagerwesi tahun ini memberikan kesempatan untuk membaca dinamika tersebut secara lebih dekat.
Sebuah hari raya sesungguhnya tidak hanya hidup di dalam pura, merajan, atau kalender keagamaan. Ia juga bersemayam dalam ingatan kolektif, hubungan antarwarga, kebiasaan keluarga, dan atmosfer lingkungan tempat manusia tinggal.
Kota boleh terus tumbuh. Jalanan semakin padat. Bangunan menjulang tinggi. Penduduk datang dan pergi membawa pengalaman serta kebudayaan masing-masing.
Namun, di tengah arus perubahan itu, masyarakat tetap membutuhkan ruang untuk merawat ingatan dan akar kebudayaannya.
Mungkin, di tengah kota yang tidak pernah benar-benar berhenti, Pagerwesi mengingatkan manusia tentang sesuatu yang perlu dijaga: keteguhan iman, kebijaksanaan, dan hubungan dengan sesama yang menjadi bagian dari kehidupan bersama.
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya lahir di Negara, Jembrana, Bali. Ia merupakan penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar. Ketertarikannya pada kehidupan sosial dan kebudayaan tumbuh sejak menempuh studi Antropologi Budaya di Universitas Udayana. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku, baik puisi maupun esai. Karya-karyanya banyak merekam kehidupan manusia, kebudayaan, dan berbagai perubahan sosial di Bali.


