Pekerja Migran Saat Pandemi: Burung Rantau Menunda Impian

Dewa Putu Deni Aditya, 25 tahun kini memelihara kambing untuk mengisi waktu luang setelah dipulangkan dari kapal pesiar - KR11

Dewa Putu Deni Aditya, 25 tahun, terlihat memikul seikat besar potongan ranting dan daun gamal di pundaknya sore itu. Ranting ranting hijau itu dipangkasnya dari pagar di sekeliling kebun belakang rumahnya untuk  pakan lima ekor kambing yang peliharaannya.

Warga Desa Yeh Kuning, sebuah desa di Jembrana , Bali bagian barat itu, kini terpaksa beternak kambing . Ia juga menanam terong di pekarangan yang lumayan luas. “Ini untuk mengisi kesibukan dan tambahan bekal,” tutur Deni, seorang pekerja migran indonesia (PMI).

Selain beternak Dewa Putu Deni Aditya, 25 juga berkebun – KR11

Pria lajang itu baru saja kembali ke Indonesia pada April lalu, setelah bekerja di kapal pesiar Carnival Cruise Line, sebuah perusahaan kapal pesiar yang berbasis di Amerika Serikat. Di kapal pesiar yang berlayar keliling dunia itu, ia bertugas sebagai pelayan restoran.

Namun pandemi COVID-19 telah membuat ia harus meninggalkan pekerjaan yang sudah dicita citakannya sejak di bangku sekolah itu untuk sementara waktu. “Saya dari dulu bercita cita bekerja di kapal pesiar karena ingin memperbaiki ekonomi keluarga,” ujar Deni.

Kontrak kerjanya di kapal pesiar itu, kata Deni, seharusnya berakhir di bulan Mei 2020. Pandemi COVID-19 membuat kapal pesiar tersebut dilarang beroperasi untuk sementara waktu.  Deni terpaksa dipulangkan oleh perusahannya tanpa pesangon.

“Saya dipulangkan 24 April lalu. Sebenarnya sisa sebulan kontrak saya. Tapi mau apalagi. Ini karena virus corona. Di Amerika kan banyak korban. Jadinya saya rugi gaji sebulan,” keluhnya.

Dewa Kade Sardita Triana Putra (22) kembali menekuni usaha tattoo – KR11

Keputusan perusahannya untuk merumahkan dirinya dan lima rekannya dari Jembrana membuat dirinya terpukul. Terlebih pihak perusahan tidak memberikan pesangon dan hanya berjanji akan memanggil kembali bekerja jika situasi sudah normal.

Saat kembali ke Bali pada April lalu, Deni mengaku sempat menjalani isolasi mandiri selama 14 hari. Ia dipastikan bebas COVID-19 setelah menjalani rapid test dan swab test berulang kali.

“Awalnya begitu tahu saya pulang, teman-teman dan tetangga tidak ada yang berani mendekat. Maklumlah saat itu ada rumor kalau para pekerja migran ulang membawa virus corona. Tapi lama kelamaan, akhirnya mereka bersikap sama seperti sebelum berangkat ke kapal pesiar,” kata dia.

Hal yang sama dialami oleh Dewa Kade Sardita Triana Putra (22), Desa Yehembang,  Jembrana. Pria yang bekerja di kapal pesiar MSC milik perusahan berbasis di Italia itu juga dirumahkan gara-gara COVID-19.

Bahkan nasibnya lebih miris dari Deni. Baru dua bulan bekerja sebagai tukang cuci piring di kapal dengan gaji sekitar Rp 8 juta per bulan, dia harus dirumahkan. Padahal ia merogoh kocek tak kurang dari Rp 35 juta untuk modal berangkat.

“Saya baru bekerja dua bulan, terus ada virus corona. Saya dipulangkan Maret lalu, padahal baru dapat gaji enam belas juta rupiah. Modal keberangkatan belum kembali. Saya tidak tahu kapan lagi dipanggil bekerja,” ujarnya.

Untuk mendapatkan penghasilan, Putra kadang bekerja menjadi tattoo artist. Kadang saat sepi order, ia juga berjualan kue donat.  “Syukur-syukur bisa ngumpulin uang untuk bayar hutang, karena waktu berangkat bapak saya minjam uang ke saudara,” imbuhnya.

Sama dengan Deni, Sardita juga mengaku sempat dikucilkan oleh teman dan tetangganya sekembalinya ke Bali. Padahal, ia telah menjalani 14 hari karantina. Namun ia mengaku beruntung karena kini ia telah diterima lingkungannya.

Ni Made Tampan Yani, 33, mengalami nasib yang tak jauh beda. Ibu dua anak dari Desa Yehembang, Jembrana, ini harus menelan pil pahit. Dia harus pulang dari Turki lebih awal.

Padahal perempuan yang bekerja sebagai spa therapist di sebuah hoteldi Turki itu mendapat penghasilan Rp 8 juta sebulan. “Sekarang saya nyari penghasilan di rumah sebagai tukang pijat panggilan dengan bayaran lima puluh ribu rupiah,” tuturnya.

Dia mengaku dipulangkan karena hotel hotel di Turki terpaksa tutup karena COVID, termasuk hotel tempatnya bekerja. Beruntung, modal keberangkatan dirinya sebesar Rp 15 juta sudah kembali, karena dia mulai sudah bekerja sejak Mei 2019 lalu.

Deni, Sardita, dan Yani hanyalah segelintir ‘burung-burung rantau’ dari Bali yang terpaksa pulang setelah kehilangan pekerjaan selama pandemi COVID 19. Mereka terpaksa menunda dulu mimpi mimpinya. “Tapi kami optimis, semua ini akan ada akhirnya dan semua akan kembali berjalan sebagaimana mestinya,” ucap Deni. (kanalbali/Dewa Darmada)