Peras Pasangan Suami Istri, Polisi Gadungan Diamankan Polres Jembrana

JEMBRANA – Menyamar sebagai anggota polisi, seorang pria berinisial PAG  (46) melakukan aksi pemerasan terhadap sepasang suami istri, Moch Arifin (37) dan Rizki Maharani (39). Akibat ulahnya itu tersangka pun diringkus oleh kepolisian Polres Jembrana dan dijerat pasal 378 KUHP dengan ancaman pidana maksimal empat tahun penjara.

Diungkapkan oleh Kasatreskrim Polres Jembrana, AKP Yogie Pramagita Rabu (03/03/21), motif dari aksi pemerasan itu yaitu upaya damai dengan pencabutan berkas laporan di Korps Bhayangkara Jalan Pahlawan Kabupten Jembrana. “Pada 17 Februari, tersangka diminta oleh seseorang yang berinisial HT untuk membantu menagih hutang kepada korban yang tinggal di Banyuwangi,” ungkapnya..

Namun, tanpa sepengetahuan HT tersangka mengatakan kepada korban bahwa perkara hutang itu telah dilaporkan ke Polres Jembrana sehingga ada biaya pencabutan berkas perkara sejumlah Rp. 10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Korban pun percaya akan hal itu, terlebih tersangka mengaku sebagai sebagai anggota Polri. Korban bersedia membayar pencabutan berkas perkara, namun pada saat itu hanya disanggupi membayar sejumlah tiga juta rupiah.

“Awalnya diberi Rp 3 juta, kemudian tersangka meminta lagi sebesar Rp 2,5 juta. Setelah itu, akhirnya korban mengecek ke satuan dan ternyata tersangka ini tidak terdaftar sebagai anggota dan akhirnya dilakukan penangkapan,” bebernya. Berdasarkan laporan itu, tim opsnal Sat Reskrim Polres Jembrana melakukan penyelidikan dan tidak berselang lama dapat mengamankan tersangka beserta barang bukti untuk kemudian dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. (Kanalbali/WIB)

Oknum polisi gadungan itu  dulunya adalah anggota polisi aktif. Namun karena terlibat berbagai kasus, ia pun diberi sanksi PTDH (Pemberhentian Dengan Tidak Hormat), oleh instansi Polri. Dahulu tersangka ini polisi aktif. Kemudian terkena sanksi PTDH pada tahun 2013 karena banyak kasus,” kata Kapolres.

Sebelum perkara tentang pemerasan ini terkuak, pada tahun 2004 PAG terlibat kasus illegal loging di Kabupaten Jembrana yang membuatnya divonis kasasi pada tahun 2009 pidana selama 6 (enam) bulan penjara. Selain itu, di tahun 2010 dirinya terlibat lagi dengan kasus tindak pidana pencurian, ia pun dihukum selama 1,5 (satu setengah) bulan. Tak hanya itu, pada tahun 2019 pria itu kembali melakukan tindak pidana penipuan, dan akhirnya divonis setahun penjara. (kanalbali/WIB)