Selain pembatasan gelaran ogoh-ogoh, untuk meyikapi merebaknya virus Corona, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali juga akan mengatur festival omed-omedan. “Mungkin pelaksanaannya secara simbolis aja dulu. Sekarang kan sedang ada wabah virus Corona,” kata Ketua PHDI Bali, I Gusti Ngurah Sudiana kepada media di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Selasa (17/3).
Pelaksanaan secara simbolis menurut Sudiana merupakan jalan tengah agar festival omed-omedan yang biasa melibatkan orang banyak bisa digelar dengan jumlah orang yang terbatas. “Tentu juga cara itu dilakukan agar tidak melanggar protap dari Dinas Kesehatan, Seruan Presiden dan surat edaran Gubernur Bali untuk tidak menggelar kegiatan yang melibatkan orang banyak,” jelas Sudiana.
Dalam waktu dekat, pihak PHDI menurut Sudiana akan melakukan koordinasi kepada bendesa adat sesetan untuk merealisasikan rencana awal tersebut. “Kita akan segera koordinasikan untuk mencari jalan terbaik,” pungkas Sudiana.
Tradisi omed-omedan sendiri hanya dapat ditemui di Banjar Kaja Sesetan, Desa Sesetan, Denpasar, Bali. Omed-omedan dilakukan setiap tahun, tepatnya sehari setelah Hari Raya Nyepi. Acara ini sangat unik karena pemuda-pemudi di desa memiliki ritual saling peluk dan tarik-menarik secara bergantian.
Omed-omedan berarti tarik-menarik, berasal dari kata Omed yang artinya tarik. Tradisi ini dulunya merupakan wujud kegembiraan dan ungkapan syukur anak muda, karena hasil panen dan rasa persaudaraan. Diikuti oleh seluruh warga berusia 17-30 tahun yang belum menikah,
Diawali dengan sembahyang bersama di Pura, para peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok putra (teruna) dan kelompok putri (teruni). Setelah itu, kelompok teruna dan teruni menuju pelataran Pura dan berdiri berhadap-hadapan.
Sesepuh desa akan memberi aba-aba yang diawali dengan permainan gamelan. Ketika diberi aba-aba, secara bergantian akan dipilih seseorang dari masing-masing kelompok untuk diarak ke posisi terdepan, lalu diangkat.
Saat diangkat, kedua perwakilan harus saling berpelukan dan mencium kening, pipi, atau bibir sementara kelompoknya akan menarik mereka. Jika tidak terlepas, pasangan tersebut akan disiram dengan air hingga basah kuyup. (ACH)


