Ujian COVID-19 bagi Sang Perawat Senior

Rai Dewi Damayanti Pande, Koordinator Perawat untuk penanganan pasien COVID-19 di RSUP Sanglah - dok.RSUP Sanglah

  Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat bagi menjalani karir sebagai perawat di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah. Ia telah melewati masa-masa sulit ketika terjadi bom Bali pada 2002 dan 2005, wabah SARS dan flu burung. Namun ujian COVID-19  kali ini adalah yang lebih berat lagi.

“Menjadi perawat itu cita-cita saya, jadi saya akan tetap disini, apapun tantangannya,” kata Rai Dewi Damayanti Pande. Perempuan berusia 45 tahun itu kini dipercaya menjadi Koordinator Keperawatan Ruang Rawat Inap Nusa Indah, Mawar, Kamboja dan Lely, yang seluruhnya merawat pasien COVID-19. 

Penanganan pasien COVID-19 sangat berbeda dibandingkan perawatan pasien lain. Maklumlah, selain harus menyembuhkan pasien, mereka harus menyelamatkan nyawa sendiri. Sudah jamak diketahui, penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi hal yang mutlak. Sudah banyak pula cerita, termasuk di RSUP Sanglah, tenaga medis menjadi korban penularan bahkan hingga memeprtaruhkan nyawa.

“Butuh persiapan mental tersendiri sebelum terjun menangani pasien,” sebut Dewi. Perlu waktu 15 menit untuk menggunakan seluruh perangkat APD yang berlapis-lapis.  Selanjutnya, mereka  harus bertahan selama berjam jam, meski keringat bercucuran. “Pakai 15 menit saja sudah betul-betul basah karena keringat. Teman-teman kami itu, rata-rata tiga jam di dalam ruang isolasi. Padahal, pakai dua masker sehingga nafas juga terasa agak sesak,” sebutnya.

Yang jarang terungkap adalah tugas mereka untuk tetap menjaga optimisme dan menghapus kecemasan pasien. Umumnya karena gambaran menakutkan saat dinyatakan positif  COVID-19, pasien masuk ke rumah sakit dalam kondisi mental yang rapuh. Belum lagi mereka harus diiisolasi sepenuhnya dari kunjungan teman dan keluarga serta bertemu perawat serta dokter dengan pakaian yang kesannya menyeramkan.

“Dengan segala keterbatasan kami harus  terus menyemangati mereka agar daya imun mereka membaik,” sebutnya. Komunikasi banyak dilakukan dengan bahasa isyarat. Setiap perkembangan yang menggembirakan selalu disampaikan. Moment khusus pun dirayakan, seperti saat pasien berulang tahun. “Kebahagiaan kami bila, pasien yang masuk dalam kondisi sesak nafas akhirnya bisa pulang dengan senyuman lebar,” ujarnya.

Ada pengalaman khusus yang tak terlupakan, yakni saat menangani pasien hamil yang terinfeksi COVID-19. Akhirnya, pasien itu pun melahirkan bayinya di RSUP Sanglah. Untuk mencegah agar si bayi tak tertular, ibu dan anak itu sementara waktu dipisahkan di ruangan yang berbeda. Setiap pagi,  Dewi atau perawat yang lain, memberikan foto dan informasi perkembangan kondisi si bayi kepada sang ibu. Bayi itu pun serasa menjadi milik bersama para perawat disana.

Kondisi RSUP Sanglah yang kini amat lengang karena pembatasan kunjungan setelah kondisi pandemi COVID-19 – KAD

RSUP Sanglah sendiri pertama kali merawat pasien terkonfirmasi Covid-19 pada tanggal 9 Maret 2020 lalu, yakni dua WN Inggris. Sejak itu, jumlah pasien COVID-19 pun terus bertambah dari hari ke hari.  Hingga 25 Juni 2020, sudah ada sebanyak 468 orang pasien terindikasi COVID-19 dirawat di RSUP Sanglah. Namun berdasarkan pemeriksaan, hanya 138 orang dinyatakan positif COVID-19.

Saat ini , ada sekitar 67 orang pasien yang masih dirawat di RS sanglah. “Menanjak sejak bulan Juni ini,” kata Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Sanglah, dr. Arya WS Duarsa. 

Ruang isolasi untuk penanganan pasien COVID-19 di RSUP Sanglah terus ditambah, seiring terus meningkatnya jumlah kasus. Dari hanya 4 tempat tidur, kini RSUP Sanglah memiliki sedikitnya 71 tempat tidur untuk pasien COVID 19.

Ratusan tenaga medis dan non medis dilibatkan menangani pasien. Rinciannya, 32 dokter spesialis, 79 orang dokter umum atau residen yang sedang menempuh pendidikan, 182 perawat,  32 petugas analis kesehatan yang melakukan pemeriksaan di laboratorium, 4 orang ahli gizi, serta 25 orang radiographer.

Kepala Bagian Hukum dan Hubungan Masyarakat RSUP Sanglah, dr. Arya WS Duarsa – KAD

Terdapat total 142 orang tenaga non kesehatan yang terlibat, mulai dari tenaga kebersihan, sopir ambulans, petugas penguburan jenazah pasien COVID-19, serta petugas kasir dan registrasi khusus COVID-19.

Untuk mencegah penularan ,RSUP Sanglah menerapkan protokol COVID-19 secara ketat. Diantaranya jaga jarak bagi setiap pengunjung, menyiapkan fasilitas cuci tangan di setiap tempat dan pemeriksaan suhu dengan alat thermogun bagi setiap pengunjung yang datang. Jam kunjungan pasien pun kini ditiadakan sehingga rumah sakit terlihat lengang.

Selain itu, juga ada program pendaftaran online dan pendaftaran perjanjian untuk pasien rawat jalan. Seluruh staf di RSUP Sanglah saat ini juga menerapkan aplikasi E- Office. Hal itu, untuk mengurangi interaksi sesama staf rumah sakit. ” Harapannya, semoga COVID -19 cepat selesai. Kuncinya bukan di pihak kami. Tapi ada pada kesadaran kita semua untuk hidup sehat dan mencegah penularan,” tegasnya  ( kanalbali/M Kadafi)