Kemampuan Literasi Digital untuk Guru Generasi Alfa

pixabay by Pexels

GENERASI Alfa tumbuh dalam masyarakat yang beragam sehingga mereka lebih toleran dan berpikiran terbuka. Generasi Alfa adalah anak-anak yang lahir dari tahun 2013-2025. Saat ini, rentang usia generasi Alfa masih berada di kategori anak usia 0-7 tahun.

Lekatnya generasi Alfa dan internet menjadikan mereka memiliki akses informasi yang begitu cepat dan lebih banyak. Secara spesifik, generasi alfa memiliki beberapa karakteristik. Di antaranya melek digital atau digital native, pembelajaran yang lebih personal, menggunakan media sosial sebagai alat interaksi, tidak suka mengikuti aturan, serta memiliki masa kecil yang berbeda dari generasi terdahulunya.

“Zaman telah berubah, pendekatan belajar mengajar sudah jauh berbeda. Misalnya, guru killer sudah tidak berlaku dan relevan di zaman ini. Jadi para guru harus fleksibel dan lebih friendly,” ungkap Alaika Abdullah seorang Virtual Assistant dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Tolikara, Papua, Senin (11/10/2021).

Karena modal belajar yang berbeda, generasi ini pun seakan memiliki cara baru dalam belajar dan guru-guru harus memilikinya. Di antaranya, kreativitas, open minded, berkolaborasi, mampu berpikir kritis, dan memiliki budaya.

Ia memaparkan, guru generasi Alfa perlu memiliki kemampuan public speaking dan tidak bersikap ‘kaku’. Dalam artian, pengajar mampu mencairkan suasana dan membuatnya menyenangkan untuk kegiatan belajar mengajar. Kemudian, inovatif dalam mendesain kelas kelas pembelajaran serta teleconference seperti Zoom unutk pertemuan online. Selain itu, guru generasi ini perlu memahami parenting dan menjunjung tinggi sikap saling menghargai antara guru dan murid. Di era ini, apresiasi guru kepada murid sangat penting. Guru juga harus mempu untuk menjadi teman bagi murid.

Begini Peran Orangtua Jadikan Generasi Alfa Native Digital yang Unggul

Menurut Alaika, guru perlu memiliki kemampuan manajemen informasi dalam hal mengakses, memahami, menyeleksi, menganalisa, dan memverifikasi konten digital. Kemudian, kemampuan LMS (Learning Management System) pada sekolah tempat guru mengajar dan memperdalamnya. Lalu, mampu berkolaborasi dan berpartisipasi dalam produksi konten dengan peserta didik.

“Anak-anak akan mudah diraih partisipasi dan minatnya dengan memiliki guru-guru yang mampu berkolaborasi dalam sebuah project atau pembelajaran,” tuturnya.

Di samping itu, guru perlu memahami etika digital. Karena guru untuk generasi Alfa berperan penting dalam membentuk peserta didiknya agar menjadi warga digital yang baik, santun, dan bermoral. Jadi, kontribusi guru untuk menciptakan warga digital yang cakap itu sangat penting. Sebab itulah guru harus memiliki kemampuan literasi digital yang mumpuni.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Tolikara, Papua, Senin (11/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Rizky Rahmawati (Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associate), Jackson Yumame (Dosen FISIP Universitas Cenderawasih), dan Bayu Eka Sari (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (kanalbali/RLS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.