Minikino Film Week 11: Kompetisi Film Pendek, Juri Internasional dan Tren Baru Sinema Indonesia

Malam penghargaan di Minikino Film Week - Dok MFW
Malam penghargaan di Minikino Film Week - Dok MFW

DENPASAR, kanalbali.id – Kompetisi selalu menjadi jantung dari Minikino Film Week. Memasuki edisi ke-11, Minikino Film Week 11 (MFW11) yang berlangsung 12–19 September 2025 kembali menghadirkan kompetisi film pendek internasional dan nasional yang menampilkan ragam perspektif baru.

Dari ratusan film yang masuk, sebanyak 254 film dari 59 negara dipilih untuk ditayangkan, dengan 12 film pendek Indonesia bersaing di kategori National Competition Award.

Edo Wulia, Direktur Festival MFW11, menegaskan bahwa kompetisi memiliki arti lebih dari sekadar penghargaan.“Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang menang, tetapi bagaimana film-film ini membuka percakapan.

Juri, penonton, dan pembuat film bertemu dalam ruang yang sama, saling memengaruhi, dan menemukan nilai dari keberagaman perspektif. Inilah yang membuat kompetisi film pendek di MFW selalu hidup,” ujarnya.

Tahun ini, jajaran Juri Internasional menghadirkan tiga nama penting: Ben Thompson, VP of Shorts Programming di Tribeca Film Festival (Amerika Serikat); Mary Stephen, editor film kelahiran Hong Kong yang berbasis di Prancis dan dikenal melalui kolaborasinya dengan Éric Rohmer; serta Rudolf Dethu, penulis dan pegiat budaya asal Indonesia.

Mereka akan menilai enam penghargaan utama: Best Children Short Award, Best Fiction Short Award, Best Documentary Short Award, Best Animation Short Award, Best Experimental Short Award, dan Best Short Film of the Year Award 2025.

Sementara itu, National Jury Board terdiri dari tiga figur lintas latar: Ladya Cheryl, aktris dan pembuat film asal Indonesia; Matt Lloyd, programmer dan Direktur Glasgow Short Film Festival (Skotlandia); serta Shoko Takegasa, Direktur Short Shorts Film Festival & Asia (Jepang).

Mereka bertugas memilih pemenang National Competition Award dan menilai karya yang lahir dari Begadang Filmmaking Competition 2025.

Kompetisi nasional tahun ini menampilkan beragam cerita dari pembuat film muda hingga nama yang telah lebih dahulu dikenal. 12 judul yang terpilih mencerminkan vitalitas film pendek Indonesia hari ini, antara lain Little Rebels Cinema Club (Khozy Rizal), My Therapist Said, I Am Full of Sadness (Monica Vanesa Tedja), Fish, Please! (Pelabuhan Berkabut) (Haris Yuliyanto & Jovan Ardiansyah), Dengarlah Nyanyian Ping Pong (Andrew Kose), I Am A Flower (Ariel Victor Arthanto), My Paws Are Soft, My Bones Are Heavy (Garry Christian & Ezra Cecio), Tutaha Subang (A Tale for My Daughter) (Wulan Putri), When The Blues Goes Marching In (Beny Kristia dkk.), Yongky’s First Heartbeats (Giovanni Rustanto dkk.), Kontapati (M. Raflie Maulana dkk.), How to be A Man (William Karko), serta Urip Mung Mampir Ngombe (Rizqullah Panggabean).

Menurut Fransiska Prihadi, Direktur Program MFW11, karya-karya ini menunjukkan keragaman tema dan pendekatan yang semakin kaya.

“Film pendek Indonesia bergerak di antara yang personal dan yang sosial. Ada cerita-cerita intim yang lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, tapi juga ada karya yang menyoroti isu-isu besar seperti lingkungan, gender, dan identitas. Bagi kami, keberagaman inilah yang merefleksikan vitalitas film pendek Indonesia hari ini,” jelasnya.

Selain kompetisi nasional, perhatian juga tertuju pada Begadang Filmmaking Competition, laboratorium kreatif yang menantang pembuat film untuk menciptakan karya baru dalam waktu hanya 34 jam.

Empat finalis tahun ini adalah 9entayan9an (Salman Maulana & Jovan Ardiansyah), Imam and His 9 Friends (Deru Ibnu Ghifari), Judecca (Laurent Sindhu & Rae Fadillah), serta The First 9 Months of Loving You (Azalia Muchransyah). Penilaian pemenang dilakukan oleh National Jury Board bersama Syakir Mardhatillah, pemenang Begadang 2024, sehingga menciptakan kesinambungan antar generasi pembuat film.

I Made Suarbawa, Ketua Yayasan Kino Media, melihat kompetisi sebagai bagian penting dari strategi festival untuk menjaga ekosistem film pendek tetap tumbuh.

“Kompetisi adalah ruang bagi filmmaker muda untuk diuji, dinilai, dan diapresiasi di level yang sama dengan senior mereka. Dari sini akan tumbuk kepercayaan diri, jejaring baru, dan mendorong pertumbuhan ekosistem yang lebih sehat. Inilah mengapa kompetisi di MFW punya arti strategis bagi perkembangan film pendek Indonesia yang semakin baik.” ujarnya.

Dengan menghadirkan kompetisi nasional dan internasional, MFW11 tidak sekadar menempatkan film dalam bingkai penghargaan, melainkan juga menciptakan ruang belajar dan percakapan. Bagi pembuat film, ini adalah ajang untuk menguji karya mereka dan memperluas jejaring profesional.

Bagi penonton, nominasi dan kompetisi menawarkan peta sinema pendek terbaru — baik di Indonesia maupun dunia.

Edo Wulia menutup dengan penekanan pada arti penting kompetisi dalam ekosistem festival. “Setiap film yang masuk kompetisi adalah sebuah kontribusi. Pemenang hanyalah simbol, tetapi yang lebih penting adalah percakapan dan pertemuan yang tercipta. Dari situlah ekosistem film pendek akan terus hidup,” pungkasnya. ( kanalbali/RLS )

Apa Komentar Anda?