DENPASAR, kanalbali.id – Menjadi perintis Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Provinsi Bali, Umar Ibnu Alkhattab telah menunjukkan berbgai gebrakan dan aksi nyata. Jejak langkahnya itu terdokumentasi dalam sebuah buku berjudul ‘Kisah Seorang Pionir: Sepuluh Tahun Memandu Omnbudsman’ Bali.
“Disini kata pionir sebenarnya seperti bidak catur. Saya ini cuma pion yang harus berada di garda depan untuk membuat sebuah gerakan,” kata Umar dalam acara bedah buku, Selasa (15/6/2022).
Acara itu menghadirkan narasumber Prof. DR I Nengah Dasi Astawa (Kepala LLDikti Bali), Wahyu Budi Nugroho, S.Sos, M.A (Sosiolog Universitas Udayana Bali),dan Arnoldus Dhae, S.Fil, M.Th (Wartawan) dan dipandu Pemred Kabarnusa.com Rohmat.
Ia menulis, buku tersebut berangkat fakta keseharian apa adanya seperti bagaimana dirinya harus tinggal di kosan layaknya masyarakat biasa hingga tetap enjoy mengendarai sepeda motor ke kantor hingga saat menjalankan tugas-tugas lainnya.
BACA JUGA: Sidang Perdana Kasus Korupsi, Begini Pernyataan Eks Bupati Tabanan Eka Wiryastuti
Meskipun dirinya kerap dilabeli elit karena sering bersama para pejabat dan tokoh masyarakat lainnya dalam banyak kesempatan, namun hal itu tidak lantas mengubah kepribadiannya yang selalu tampil apa adanya, dalam kesederhanaan.
Wahyu Budi Nugroho dalam kesempatan membedah buku terbitan Pustaka Pelajar dengan kata pengantar Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga Prof Dr Purnawan Basundoro, dari sisi perwajahan cover buku secara semiotika, merepresantasikan simbolik bahwa Umar berhasil beradaprasi dengan norma dan nilai budaya lokal. Namun idealisme yang ditawarkan sebagai pionir sebenarnya sudha jauh kelihatan ketika dia mulai mengabdi di daerahnya.
Ketua AMSI Bali Ajak Mahasiswa Manfaatkan Media Online Gaungkan Aspirasi
Masih Kurang Menggigit
Sementara itu, Kepala LLDikti Bali, Prof. DR I Nengah Dasi Astawa melihat sosok Umar Ibnu Alkhattab sebagai individu dan juga sebagai pemimpin sejatinya memiliki ambisi. “Hanya saja, Pak Umar tapi tidak ambisius, memiliki idialisme langka yaitu bisa berbaur tapi tidak larut. Dengan buku ini pak Umar meninggalkan histori, legesi dan imbrio leterasi” kata menegaskan.
Sementara, Arnoldus Dhae wartawan senior, menyatakan buku Kisah Seorang Pioner yang ditulis Umar menggunakan logika terbalik dimana konteks ditarik ke teks dengan kata kata yang menjadi hidup. “Saya melihat Pak Umar ini, tetap bisa menjaga integritas, gampang ditemui dan dimintakan konfirmasi oleh wartawan,” tukas Arnoldus Dhae.
Lanjut dia, meski memiliki kedekatan dengan pejabat namun Umar tidak kehilangan daya kritis terhadap pejabat dan lembaga maupun instansi pemerintahan di Bali jika itu menyangkut kinerja pelayanan publik.
Wartawan senior Rofiqi Hasan menambahkan keberadaan sosok seperti Umar Al Khattab sangat dibutuhkan di lembaga semacam ORI. Namun ke depannya perlu lebih keras lagi bersuara karena kecenderungan politisasi birokratisasi yang makin kuat seperti di masa lalu. “Kalau kemarin, ORI masih hanya menggertak saja, nantinya harus lebih kongkrit menggigitnya, meski memang ada batasan-batasan dari segi kewenangan,” katanya. (kanalbali/RLS/RFH)



Be the first to comment