TRABASENJA Rilis “Ogar Ogar Ogoh Ogoh”, Rock Bali yang Menghidupkan Tradisi Pengerupukan

Band rock independen Bali, TRABASENJA, - IST
Band rock independen Bali, TRABASENJA, - IST

GIANYAR, kanalbali.ida – Band rock independen Bali, TRABASENJA, memperkenalkan single terbaru mereka berjudul Ogar Ogar Ogoh Ogoh dalam sebuah konferensi pers yang digelar pada Kamis, 12 Maret 2026.

Acara digelar di studio milik gitaris sekaligus penulis lagu mereka, A.A. Eka Paramartha atau yang dikenal sebagai Eka Poglax.

Lagu ini hadir menjelang Hari Raya Nyepi dan mencoba menghadirkan pendekatan musikal yang mempertemukan energi rock modern dengan warna gamelan Bali serta semangat tradisi ogoh-ogoh yang hidup di masyarakat.

TRABASENJA digawangi oleh empat personel, yakni Komang Agus pada vokal, Gung Ngurah pada bass, Cokde Kagawa pada drum, dan Gung Eka Poglax pada gitar. Band ini memiliki latar belakang yang cukup unik.

Mereka tidak lahir dari panggung musik, melainkan dari komunitas motor trail Trail Club Adventure (TCA) yang terbentuk pada 2025. Di antara para rider yang sering menjelajah alam tersebut ternyata terdapat beberapa musisi yang kemudian memutuskan membentuk band dan mulai menulis lagu bersama.

“Awalnya kami hanya membuat lagu untuk komunitas trail kami. Tapi setelah itu kami merasa ternyata seru juga kalau terus berkarya bersama,” ujar Eka Poglax dalam konferensi pers tersebut.

Single terbaru mereka, Ogar Ogar Ogoh Ogoh, menjadi salah satu eksplorasi musikal yang cukup menarik dari band ini. Lagu tersebut mencoba mengangkat semangat tradisi ogoh-ogoh yang setiap tahun menjadi ruang kreativitas anak-anak muda di banjar-banjar Bali menjelang malam Pengerupukan.

Melalui lagu ini, TRABASENJA ingin merayakan tradisi tersebut dengan pendekatan musik rock yang energik.

“Tradisi ogoh-ogoh itu sangat hidup di masyarakat. Kami ingin merespons semangat itu lewat musik yang dekat dengan kami, yaitu rock, tetapi tetap membawa nuansa Bali di dalamnya,” kata Eka.

Secara musikal, lagu ini dibangun dengan struktur yang cukup dinamis. Aransemen dibuka dengan suasana yang relatif minimalis melalui permainan gitar dan vokal yang menciptakan atmosfer gelap dan kontemplatif. Bagian ini menggambarkan kondisi manusia yang sedang berada dalam pengaruh energi Bhuta Kala.

Seiring berjalannya lagu, ritme mulai meningkat. Drum dan bass membangun groove yang lebih kuat sementara gitar elektrik mulai memberi tekanan energi yang lebih besar.

Perpaduan antara riff gitar rock dengan aksen gamelan Bali menjadi salah satu kekuatan utama lagu ini. Unsur gamelan yang diaransemen oleh Tut Nyong hadir tidak sekadar sebagai ornamen, tetapi menjadi bagian dari lapisan ritmis yang memberi karakter ritualistik pada komposisi tersebut.

Pada bagian chorus, lagu ini mencapai puncak energinya melalui chant “Ogar… Ogar… Ogoh Ogoh!” yang terasa seperti seruan kolektif yang mudah diteriakkan bersama.

Struktur semacam ini membuat lagu tersebut memiliki potensi kuat untuk menjadi semacam anthem yang dapat dinyanyikan bersama, terutama dalam suasana arak-arakan ogoh-ogoh di malam pengerupukan.

Proses kreatif lagu ini juga berlangsung relatif cepat. Menurut Eka Poglax, dari penulisan lirik hingga proses rekaman musik, seluruh produksi hanya memakan waktu sekitar satu bulan. Bahkan para personel band sendiri tidak menyangka bahwa proyek tersebut akan berkembang hingga pembuatan video klip dan konferensi pers.

“Kami sebenarnya tidak menyangka akan sampai sejauh ini. Awalnya hanya membuat lagu, lalu berkembang menjadi video klip dan akhirnya ada press conference seperti ini,” ujar Eka.

Bagi drummer TRABASENJA, Cokde Kagawa, proyek ini juga menjadi pengalaman baru yang cukup berkesan bagi band tersebut. Ia menyebut keterlibatan mereka dalam produksi video klip sebagai pengalaman yang sangat menarik.

“Ini pengalaman pertama kami terlibat dalam produksi video klip seperti ini. Prosesnya sangat menyenangkan dan memberi pengalaman baru bagi kami sebagai band,” kata Cokde.

Video klip lagu ini menghadirkan visual yang cukup simbolik dengan menampilkan sosok raksasa sebagai representasi energi Bhuta Kala. Sosok tersebut diperankan oleh seniman penari dari Desa Batuyang, Cokorda Krisna Dwiyoga. Arak-arakan yang muncul dalam video juga melibatkan truna-truni Desa Batuyang serta anggota komunitas Trail Club Adventure, sehingga menghadirkan nuansa kolaborasi komunitas yang kuat.

Konferensi pers peluncuran lagu ini juga dihadiri oleh Bendesa Adat Batuyang Sukawati, Gianyar, Bapak Guru Made Sukarta, yang menyampaikan apresiasinya terhadap karya tersebut. Ia menilai karya-karya kreatif seperti ini dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah generasi muda.

“Kami sangat mendukung karya seperti ini karena dapat ikut menghidupkan kreativitas anak-anak muda di banjar, khususnya dalam tradisi ogoh-ogoh,” ujar Made Sukarta.

Melalui lagu ini, TRABASENJA berharap karya mereka dapat menjadi bagian dari atmosfer menjelang malam Pengerupukan dan ikut meramaikan playlist yang diputar di banjar-banjar saat arak-arakan ogoh-ogoh berlangsung. Bagi band ini, musik bukan sekadar hiburan, tetapi juga ruang untuk merayakan budaya sekaligus memperkuat hubungan antar komunitas.

“Pada akhirnya kami hanya ingin terus berkarya. Walaupun usia kami sudah tidak muda lagi, kami merasa lebih baik tetap berkarya daripada tidak melakukan apa-apa,” kata Eka Poglax.

Dengan perpaduan energi rock, nuansa gamelan Bali, dan semangat komunitas yang kuat, Ogar Ogar Ogoh Ogoh menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal dapat menemukan bentuk ekspresi baru melalui musik kontemporer. (kanalbali/Pra)

Apa Komentar Anda?