DENPASAR, kanalbali.id – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono, menerangkan terkait ekosistem mangrove di Indonesia. Kini, di Indonesia sudah kehilangan 40 persen ekosistem mangrove selama tiga dekade.
Menteri Trenggono mengatakan, populasi atau penduduk dunia diproyeksikan mencapai hampir 10 miliar orang pada tahun 2050. Sementara penduduk Indonesia sekitar 320 juta jiwa, sehingga kebutuhan pangan dan protein akan terus meningkat.
“Dalam konteks ini, Indonesia berperan strategis sebagai salah satu produsen perikanan utama dengan potensi sumber daya kelautan yang besar. Termasuk 23 persen ekosistem mangrove dunia yang menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan,” kata dia, dalam sambutannya di acara Puncak Mangrove Sedunia di Kawasan Taman Hutan Ngurah Rai, Bali, Minggu (26/7).
“Namun demikian, potensi tersebut menghadapi tekanan serius. Dalam tiga dekade terakhir, Indonesia telah kehilangan sekitar 40 persen mangrove dengan laju kerusakan sekitar 52.000 hektar per tahun, dan sekitar 19,2 persen mangrove berada dalam kondisi kritis,” imbuhnya.
Ia menyebutkan, di sisi lain mangrove berperan sebagai pelindung pesisir, habitat berbagai biota, penopang produktivitas perikanan, dan mata pencaharian masyarakat, serta penyimpan karbon biru.
Ini Konten yang Layak Diunggah di Medsos
“Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove tidak boleh berhenti pada kegiatan penanaman semata. Tetapi harus dilakukan berbasis kesesuaian ekologis agar fungsi ekosistem benar-benar pulih,” sebutnya.
Ia juga menyampaikan, penyebab 40 persen mangrove hilang di Indonesia salah satunya karena terjadi degadrasi dan adanya abrasi pantai di Indonesia.
“(Penyebabnya) itu, degradasi karena penurunan, karena abrasi dan sebagainya dan itu terjadi hampir di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan, seperti keluhan warga di Kabupaten Siak, Riau. Saat menanam mangrove diterjang ombak dan juga adanya sedimentasi.
“Kalau mendengar keluhan yang ada di Siak misalnya. Tanam (mangrove) keterjang ombak lagi karena sedimentasi. Dan ini, karena juga pertumbuhan umat manusia kan sangat eksponensial, lalu hutan juga mulai berkurang, sehingga sedimentasi pasti terjadi. Ini upayanya adalah melakukan restorasi,” katanya.
Kemudian, saat ditanya terkait antisipasi alih fungsi lahan di hutan-hutan mangrove apa yang akan dilakukan oleh pemerintah. Ia menegaskan, tentu kedepannya akan melakukan restorasi untuk ekosistem mangrove.
“Hutan mangrove kita akan jaga bersama-sama dengan Menteri Kehutanan, dengan Menteri Lingkungan Hidup. Tpi sisi lain itu tadi, melakukan restorasi, satu-satunya cara harus restorasi,” ujarnya.
Sementara, Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia. Berdasarkan peta mangrove nasional tahun 2025, Indonesia memiliki sekitar 3,45 juta hektar mangrove atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia.
“Untuk 2,73 juta hektarnya atau 80 persennya di antaranya berada di dalam kawasan hutan yang menjadi tanggung jawab Kementerian Kehutanan. Anugerah sumber daya alam ini sekaligus menjadi amanah bagi Indonesia untuk memimpin pengelolaan mangrove secara berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menerangkan, mangrove merupakan benteng alami pesisir dari abrasi dan dampak perubahan iklim, penyimpan karbon yang terbesar dibandingkan dengan hutan di daratan, penyaring polutan, habitat keanekaragaman hayati, serta sumber penghidupan masyarakat pesisir.
” Karena itu, kesadaran akan pentingnya mangrove terus meningkat, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global. Indonesia memiliki peran strategis dalam mendorong praktik terbaik pengelolaan dan rehabilitasi mangrove sebagai upaya pencapaian perlindungan ekosistem pesisir, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyatakan, sejalan dengan Asta Cita misi Presiden Prabowo Subianto, rehabilitasi mangrove menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan iklim, pembangunan ekonomi hijau, pemberdayaan masyarakat pesisir, dan penguatan ekonomi desa.
” Hingga akhir tahun 2025, Kementerian Kehutanan bersama para mitra telah merehabilitasi mangrove seluas 91.678 hektar. Pada tahun 2026, melalui kolaborasi kementerian kehutanan dengan para mitra pembangunan akan melakukan rehabilitasi pada lebih dari 17.000 hektar di beberapa lokasi di Indonesia,” katanya. (kanalbali/KAD)


