Membangun Kebahagiaan, Karya Noor Sudiyati yang Jadi Metafora Kehidupan Bersama (2)

Dr. Noor Sudiyati bersama salah satu karya keramiknya dalam pameran BECOMING di ARMA Museum, Ubud, Bali. (Foto: Dok. Pribadi)
Dr. Noor Sudiyati bersama salah satu karya keramiknya dalam pameran BECOMING di ARMA Museum, Ubud, Bali. (Foto: Dok. Pribadi)

Di sinilah kualitas penting karya Noor Sudiyati terlihat. Ia tidak menghadirkan keramik sebagai objek yang selesai dipahami dalam sekali pandang. Sebaliknya, ia mengajak penonton memperlambat cara melihat.

Oleh Angga Wijaya

GAGASAN ni sejalan dengan pembacaan kurator Sudjud Dartanto. Dalam catatan kuratorialnya, ia menempatkan karya Noor sebagai upaya membangun kembali hubungan harmonis antara manusia, material, dan kosmos melalui konsep cosmotechnics. Karya ini dipahami sebagai narasi kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat sosial melalui simbol senyum dan energi positif.

Namun, menariknya, kekuatan Membangun Kebahagiaan tidak berhenti pada kerangka filosofis tersebut. Justru karena bahasa visualnya sederhana, karya ini terbuka bagi berbagai kemungkinan tafsir.

Penonton tidak harus memahami istilah-istilah filsafat untuk menangkap makna yang dipancarkannya. Mereka cukup berhadapan dengan bentuk, tekstur, dan komposisi karya. Dari sana, pengalaman estetik perlahan berkembang menjadi pengalaman reflektif.

Di sinilah kualitas penting karya Noor Sudiyati terlihat. Ia tidak menghadirkan keramik sebagai objek yang selesai dipahami dalam sekali pandang. Sebaliknya, ia mengajak penonton memperlambat cara melihat.

Semakin lama karya itu diamati, semakin tampak bahwa bentuk yang sederhana menyimpan hubungan-hubungan yang kompleks. Wadah, kepala-kepala kecil, tekstur tanah, hingga ruang kosong di bagian tengah saling bekerja membangun satu kesatuan makna.

BACA JUGA:Membangun Kebahagiaan, Karya Noor Sudiyati yang Jadi Metafora Kehidupan Bersama (1)

Kesederhanaan semacam ini bukan berarti miskin gagasan. Sebaliknya, ia menunjukkan kepercayaan diri seorang perupa yang memahami bahwa kedalaman tidak selalu lahir dari kerumitan bentuk. Dalam seni, menyederhanakan sering kali jauh lebih sulit daripada menambahkan.

Pandangan tersebut juga tercermin dalam penilaian kurator internasional Binoy Varghese. Dalam refleksinya terhadap praktik artistik Noor Sudiyati, ia menilai karya-karya Noor memiliki kemampuan menghubungkan pengalaman personal, identitas budaya, dan tema-tema universal melalui penguasaan material, tekstur, dan bentuk.

Menurutnya, perpaduan antara keterampilan teknis, kejernihan konseptual, dan kesadaran budaya memberi karya Noor potensi untuk berkembang di ranah seni keramik internasional.

Apresiasi tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan karya Noor tidak semata-mata terletak pada kemampuan mengolah tanah liat. Yang lebih penting adalah kemampuannya menghadirkan pengalaman yang dapat dipahami melampaui konteks budaya tempat karya itu dilahirkan. Senyum, kebersamaan, dan harapan merupakan pengalaman yang dimiliki hampir setiap manusia, apa pun latar belakangnya.

Dalam pengertian itu, Membangun Kebahagiaan berhasil menjadikan medium keramik sebagai bahasa kemanusiaan.

Pada akhirnya, karya ini mengingatkan bahwa rumah tidak selalu berbentuk bangunan. Rumah dapat hadir sebagai rasa diterima, rasa dipercaya, dan rasa memiliki. Rumah adalah ruang tempat manusia tidak harus menjadi sempurna untuk dapat hidup bersama.

Noor Sudiyati tidak membangun rumah melalui bata, kayu, atau beton. Ia membangunnya melalui tanah liat, puluhan wajah yang tersenyum, dan sebuah wadah yang merangkul semuanya.

Di tengah dunia yang semakin menekankan pencapaian individual, Membangun Kebahagiaan menawarkan pandangan yang berbeda. Kebahagiaan bukan sesuatu yang dimiliki sendiri, melainkan sesuatu yang dibangun bersama. Ia tidak lahir dari keberhasilan seorang individu, tetapi dari kualitas hubungan yang mampu dipelihara sebuah komunitas.

Barangkali di situlah kekuatan paling mendasar karya ini. Noor Sudiyati tidak sedang mengajarkan bagaimana menjadi bahagia. Ia mengingatkan bahwa kebahagiaan selalu membutuhkan orang lain. Sebab manusia, pada akhirnya, tidak hanya memerlukan tempat untuk tinggal, tetapi juga sebuah rumah untuk pulang.

Dan rumah itu, sebagaimana ditawarkan Membangun Kebahagiaan, dibangun bukan oleh dinding yang kokoh, melainkan oleh hubungan antarmanusia yang terus dirawat.

Membaca Membangun Kebahagiaan pada akhirnya membawa kita pada satu kesadaran sederhana, yaitu, kebahagiaan bukanlah keadaan yang selesai dicapai, melainkan praktik yang terus diusahakan. Ia tidak lahir dari kepemilikan, melainkan dari hubungan. Ia tumbuh ketika manusia bersedia berbagi ruang, waktu, perhatian, dan kepedulian dengan sesamanya.

Di sinilah karya Noor Sudiyati melampaui pembacaan yang semata-mata estetis. Ia tidak hanya menawarkan bentuk yang menarik atau keterampilan mengolah material, tetapi juga mengajukan sebuah cara memandang kehidupan.

Dalam dunia yang semakin menonjolkan kompetisi, kecepatan, dan pencapaian individual, karya ini justru mengingatkan nilai-nilai yang kerap terlupakan: kebersamaan, kesetaraan, dan rasa saling memiliki.

Pilihan menggunakan keramik sebagai medium bukan tanpa makna. Tanah liat merupakan salah satu material paling tua dalam sejarah peradaban manusia. Dari tanah, manusia membangun wadah untuk menyimpan air, makanan, benih, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Keramik hadir jauh sebelum ia diterima sebagai karya seni. Ia lahir dari kebutuhan untuk merawat kehidupan.

Jejak sejarah itulah yang seolah dihidupkan kembali oleh Noor. Ia tidak memutus hubungan keramik dengan akar kulturalnya sebagai medium yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia memperluas maknanya. Wadah yang dahulu menyimpan kebutuhan fisik kini menjadi wadah bagi gagasan tentang kehidupan bersama.

Dengan demikian, Membangun Kebahagiaan tidak hanya berbicara mengenai hubungan antarmanusia, tetapi juga mengingatkan kembali fungsi sosial seni itu sendiri. Seni tidak selalu hadir untuk menawarkan jawaban. Ia juga tidak harus selalu mengejutkan atau mengguncang.

Dalam banyak kesempatan, seni justru bekerja secara perlahan. Ia mengajak orang berhenti sejenak, melihat kembali hal-hal yang selama ini dianggap biasa, lalu menemukan makna baru di dalamnya.

Barangkali karena itulah karya Noor terasa relevan bagi kehidupan hari ini. Ketika masyarakat semakin mudah terpecah oleh perbedaan pandangan, identitas, kepentingan politik, maupun cara hidup, Membangun Kebahagiaan menawarkan bahasa yang jauh lebih mendasar.

Sebelum menjadi warga negara, anggota komunitas, atau pengguna media sosial, manusia terlebih dahulu adalah makhluk yang membutuhkan orang lain untuk bertahan hidup.

Kesadaran tersebut sesungguhnya merupakan fondasi setiap kebudayaan. Tidak ada masyarakat yang lahir dari manusia yang hidup sendirian. Selalu ada ruang bersama yang memungkinkan kepercayaan tumbuh, kerja sama berlangsung, dan nilai-nilai diwariskan.

Dalam konteks itulah, senyum yang berulang pada kepala-kepala kecil dalam karya Noor dapat dibaca bukan sebagai ekspresi emosional belaka, melainkan sebagai simbol keterbukaan terhadap sesama. Senyum menjadi bahasa pertama yang menandai kesediaan manusia menerima kehadiran orang lain.

Itulah sebabnya, kekuatan Membangun Kebahagiaan tidak terletak pada kerumitan bentuknya, melainkan pada kemampuannya mengubah sesuatu yang sederhana menjadi perenungan yang mendalam.

Noor Sudiyati menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak harus berbicara dengan bahasa yang rumit untuk menyampaikan gagasan yang besar. Melalui tanah liat, tekstur yang apa adanya, dan komposisi yang tenang, ia menghadirkan refleksi tentang rumah, komunitas, dan harapan.

Pada akhirnya, karya ini mengingatkan bahwa rumah bukan semata-mata tempat manusia berlindung dari hujan dan panas. Rumah adalah ruang tempat seseorang merasa diterima apa adanya. Ia dibangun bukan hanya oleh tembok dan atap, tetapi oleh hubungan yang saling dirawat dari hari ke hari.

Barangkali itulah makna terdalam yang ditawarkan Noor Sudiyati melalui Membangun Kebahagiaan. Kebahagiaan bukan sesuatu yang dapat dimiliki sendirian. Ia hanya mungkin hadir ketika manusia bersedia membangun ruang hidup bersama, sekecil apa pun ruang itu.

Dan sebagaimana tanah liat yang harus dibentuk dengan kesabaran sebelum menjadi keramik yang kokoh, kehidupan bersama pun hanya dapat bertahan apabila terus dirawat dengan perhatian, empati, dan kepercayaan.

Di tengah dunia yang kian bising oleh perlombaan untuk menjadi lebih unggul daripada orang lain, karya ini mengajak kita mengingat kembali sesuatu yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya mendasar, bahwa, tidak ada kebahagiaan yang benar-benar utuh tanpa kehadiran sesama. Dari tanah yang sama manusia berasal, dan melalui kebersamaan pula, barangkali, manusia belajar menjadi manusia.  (Habis)

Apa Komentar Anda?