Seniman Drama Gong “Patih Anom” Telah Berpulang

KLUNGKUNG – Seniman drama gong yang sangat populer di era tahun 1960 hingga 1990-an A.A Gede Rai Kalam, yang dikenal dengan peran patih anom meninggal pada Senin (20/12).

Kabar duka ini langsung menyebar, setelah ia menghembuskan nafas terakhirnya di rumah duka di Puri Satria Kawan, Desa Paksebali, Kecamatan Dawan, Klungkung. Kepergian seniman legendaris ini mengejutkan masyarakat Bali, khususnya para penggemarnya setelah lama dikabarkan menderita sakit sesak nafas dan diabetes.

Seluruh anak dan keluarganya nampak sudah berkumpul di rumah duka di Puri Satria Kawan. Mereka sedang berkumpul untuk merencanakan prosesi jenazah sang legenda seniman Bali ini.

Rencananya, almarhum akan langsung di palebon. Para kerabat satu per satu datang ke rumah duka dengan mengenakan pakaian adat madya. Suasana kesedihan begitu terasa di rumah duka. Beberapa anaknya nampak masih menangis.

Anak kedua almarhum dari lima bersaudara, A.A Oka Yuniariditemui di rumah duka menyampaikan, Rai Kalam meninggal sekitar pukul 10.00 wita di rumah duka. Terakhir, almarhum sempat dirawat di RSU Bintang selama delapan hari sebelum hari raya Galungan, untuk berjuang melawan penyakit sesak nafas dan diabetesnya.

Saat itu, almarhum sudah sempat sembuh dan diperbolehkan pulang. “Ajik waktu di rumah biasanya sering minta keluar (kamar) kalau mau nonton sepakbola, bulutangkis atau tinju. Ajik suka nonton itu,” kata Oka Yuniari.

Kepergian almarhum meninggalkan banyak kesan mendalam. Oka Yuniari terkenang dengan kebijaksanaan sang ayah. Menurutnya, almarhum selalu menerima dan memperlakukan sama semua keluarganya tanpa memandang status sosialnya. Siapapun yang datang ke rumahnya, selalu dibantu sesuai batas kemampuannya.

“Dulu waktu masih mampu, beliau yang sering turun langsung ketika ada meminta tolong, misalnya mau bikin awig-awig. Setelah sudah sering sakit, sering dijemput juga ke rumah,” kenang Yuniari.

Almarhum meninggalkan lima anak yang semuanya perempuan. Dengan tujuh cucu dan 4 cicit. Uniknya, semua cucu dan cicitnya laki-laki. Menurut Oka Yuniari, ia cukup aktif mengikuti jejak seniman sang ayah, setelah sering diajak ke tempat pentas sejak kecil.

Setelah dewasa tahun 1990an, bahkan sempat ikut pentas bersama dalam sejumlah serial drama gong kala itu. “Yang paling saya ingat, beliau tidak mau anak-anaknya setengah-setengah. Kalau sekolah, sekolah saja. Jangan ikut main drama.

Begitu juga sebaliknya,” kenangnya. Setelah pensiun dari seni peran Almarhum melanjutkan mengembangkan seni Bali dengan membantu warga untuk penulisan awig-awig / atau aturan adat dari sejumlah desa di Bali.

Setelah meninggal, rencananya almarhum langsung dipalebon. Namun, pihak keluarga masih rembug keluarga untuk menentukan waktunya dari petunjuk Sang Sulinggih. Kiprah Rai Kalam akan selalu dikenang sebagai seniman drama gong sejati, yang pernah mengisi dunia hiburan seni di Bali, yang kini mulai redup. (Kanalbali/KR7)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.