Hemat Klakson di Bali

ilustrasi - Lalu lintas di Denpasar - Foto: Angga Wijaya
ilustrasi - Lalu lintas di Denpasar - Foto: Angga Wijaya

Bunyi itu mempunyai konteks. Pengendara dan orang yang mendengarnya sama-sama memahami maksudnya, meskipun tidak pernah membuat kesepakatan resmi. Kita seperti memiliki kamus kecil di kepala tentang kapan sebuah bunyi perlu dikeluarkan dan bagaimana bunyi itu harus dipahami.

Oleh Angga Wijaya*

PAGI itu saya keluar dari kos sedikit lebih lambat dari biasanya. Mesin sepeda motor saya hidupkan, helm saya kenakan, lalu saya menyusuri gang yang masih basah setelah disiram warga. Seorang ibu sedang menyapu halaman. Di depan warung, dua orang lelaki minum kopi sambil berbicara. Jalan belum terlalu ramai, tetapi suara mesin mulai datang dari berbagai arah.

Di ujung gang, seekor anjing berdiri di tengah jalan. Saya mengurangi kecepatan dan menekan klakson sekali. Pendek. Anjing itu menoleh, kemudian berjalan ke pinggir. Saya tidak perlu membunyikan klakson lagi. Kendaraan terus melaju, sementara suara tadi hilang begitu saja di antara suara mesin dan aktivitas pagi.

Beberapa menit kemudian saya sampai di sebuah tikungan yang pandangannya tertutup tembok rumah. Saya tidak bisa melihat kendaraan dari arah berlawanan. Jari saya kembali menekan klakson. Sekali lagi, pendek. Tidak ada kendaraan yang muncul. Saya melanjutkan perjalanan dan baru beberapa meter kemudian melihat seorang pengendara dari arah berlawanan.

Tidak jauh dari sana, saya berpapasan dengan seorang teman. Kami saling mengenali, tetapi tidak berhenti. Ia mengangkat tangan, saya membalas. Saya bisa saja membunyikan klakson, tetapi gerakan tangan sudah cukup. Kadang-kadang klakson memang menjadi salam, tetapi tidak selalu diperlukan. Mungkin inilah yang membuat saya merasa orang Bali cukup hemat menggunakan klakson.

Saya tidak pernah menghitung berapa kali membunyikan klakson dalam sehari. Namun kalau dipikir-pikir, jari saya memang jarang menyentuh tombol itu. Klakson baru berbunyi ketika ada alasan tertentu. Di tikungan, ketika ada anjing, saat hendak menyalip, atau ketika ingin memberi tanda kepada seseorang yang dikenal.

Tentu saja pengalaman setiap orang berbeda. Bali memiliki banyak jenis pengendara. Denpasar tidak sama dengan Jembrana, Buleleng tidak sama dengan Badung, dan jalan di kawasan wisata memiliki karakter berbeda dengan jalan desa. Saya juga tidak bermaksud mengatakan semua orang Bali mempunyai kebiasaan yang sama. Yang saya bicarakan adalah sebuah pengamatan kecil dari perjalanan sehari-hari.

Saya jarang melihat orang membunyikan klakson panjang hanya karena kendaraan di depan berjalan sedikit lambat. Bunyi panjang memang sesekali terdengar, terutama ketika lalu lintas sedang padat. Namun dalam pengalaman saya, klakson lebih sering digunakan seperlunya. Ia seperti kata pendek yang keluar ketika memang ada sesuatu yang perlu disampaikan.

Klakson bahkan bisa menjadi semacam bahasa sosial. Ketika bertemu teman, satu bunyi pendek dapat berarti, “Saya melihat kamu.” Ketika hendak melewati kendaraan lain, bunyi yang sama dapat berarti, “Saya lewat.” Di tikungan, ia berubah menjadi peringatan. Bunyi yang sama dapat memiliki arti berbeda karena situasinya berbeda.

Saya pernah melewati jalan yang menurut cerita warga sekitar memiliki tempat yang dianggap angker. Saya tidak tahu dari mana cerita itu berasal dan tidak merasa perlu membuktikan kebenarannya. Namun saya pernah melihat pengendara membunyikan klakson ketika melewati tempat tersebut. Bunyinya pendek, lalu perjalanan kembali berlangsung seperti biasa.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya kebiasaan. Bagi yang lain, bunyi tersebut dapat dianggap sebagai bentuk permisi ketika melewati ruang tertentu. Saya tidak ingin menyebutnya sebagai ritual karena tidak semua orang memaknainya demikian. Yang menarik justru bagaimana sebuah cerita atau kepercayaan dapat bertahan dalam tindakan yang begitu sederhana.

Jalan ternyata tidak selalu hanya terdiri atas aspal, marka, lampu lalu lintas, dan rambu. Dalam ingatan masyarakat, jalan juga memiliki cerita. Tikungan tertentu pernah menjadi tempat kecelakaan. Pohon besar di pinggir jalan mungkin memiliki kisah. Sebuah ruas yang sepi pada malam hari dapat diperlakukan berbeda karena pengalaman yang berkembang di sana.

Klakson menjadi salah satu cara manusia memberi tanda ketika melewati ruang semacam itu. Ia tidak menjelaskan apa yang dipercayai seseorang. Namun tindakan tersebut menunjukkan bahwa ruang dapat memiliki makna sosial dan budaya. Pengendara membawa kendaraan modern melewati tempat yang maknanya mungkin telah terbentuk jauh sebelum jalan itu dipenuhi sepeda motor.

Di titik inilah saya mulai melihat klakson bukan lagi sebagai benda teknis pada sepeda motor. Bunyi itu mempunyai konteks. Pengendara dan orang yang mendengarnya sama-sama memahami maksudnya, meskipun tidak pernah membuat kesepakatan resmi. Kita seperti memiliki kamus kecil di kepala tentang kapan sebuah bunyi perlu dikeluarkan dan bagaimana bunyi itu harus dipahami.

Hal-hal kecil semacam ini sebenarnya menarik jika dilihat dari antropologi. Antropologi tidak hanya berbicara tentang upacara besar, pura, simbol sakral, pakaian adat, atau tradisi yang secara sadar disebut sebagai kebudayaan. Ia juga dapat memperhatikan kebiasaan sehari-hari yang dilakukan hampir tanpa dipikirkan, termasuk cara orang berjalan, menyapa, menggunakan ruang, dan membunyikan klakson.

Justru karena tampak sepele, kebiasaan semacam itu sering tidak dicatat. Padahal di dalamnya terdapat pengetahuan sosial. Seseorang tahu bahwa di tikungan tertentu ia perlu memberi tanda. Ia tahu kapan bunyi klakson cukup pendek. Ia tahu siapa yang biasa disapa dengan klakson. Ia juga tahu bahwa ada tempat tertentu yang sejak kecil membuatnya lebih berhati-hati.

Pengetahuan tersebut tidak selalu diajarkan secara langsung. Sebagian mungkin berasal dari orang tua, sebagian dari teman, dan sebagian terbentuk karena melihat perilaku orang lain. Cerita tentang sebuah tempat dapat memperkuat kebiasaan tertentu sampai akhirnya tindakan tersebut terasa alamiah. Orang melakukannya tanpa harus menjelaskan lagi alasan di baliknya.

Karena itu, ketika seseorang membunyikan klakson saat melewati tempat yang dianggap angker, pertanyaan yang menarik bukan hanya apakah ia benar-benar percaya pada sesuatu yang gaib. Kita juga bisa bertanya mengapa kebiasaan itu muncul, bagaimana ia diwariskan, dan mengapa sebagian orang masih merasa perlu melakukannya. Pertanyaan tersebut membawa kita dari bunyi menuju kebudayaan.

Kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Ia bisa bersembunyi dalam perjalanan lima kilometer dari kos menuju tempat kerja. Ia dapat muncul dalam gerakan jari yang berlangsung sepersekian detik. Bahkan ia bisa terdengar melalui bunyi tit yang segera lenyap ditelan suara kendaraan. Hal kecil kadang justru memperlihatkan cara sebuah masyarakat bekerja.

Di Bali, hal tersebut semakin menarik karena jalan bukan ruang yang sepenuhnya netral. Jalan melewati rumah, pura, sawah, pasar, banjar, kuburan, pepohonan tua, dan tempat-tempat yang memiliki cerita. Kendaraan modern bergerak melalui ruang yang sebagian maknanya sudah terbentuk jauh sebelum sepeda motor menjadi kendaraan utama.

Sepeda motor menjadi titik pertemuan antara Bali yang modern dan Bali yang diwarisi dari masa sebelumnya. Kendaraannya modern, kecepatannya modern, kebutuhan mobilitasnya juga berubah. Namun perilaku pengendaranya tidak selalu terlepas dari ingatan, kebiasaan, dan cara masyarakat memaknai ruang. Klakson menjadi contoh kecil dari pertemuan tersebut.

Saya kemudian memikirkan hubungan antara kebiasaan itu dengan posisi sepeda motor dalam kehidupan Bali hari ini. Kendaraan roda dua bukan lagi sekadar alat untuk bepergian. Ia sudah menjadi bagian dari rutinitas. Pagi hari digunakan menuju kantor, sekolah, atau pasar. Siang hari untuk membeli makan. Sore hari menjemput anak. Malam hari menuju warung, rumah keluarga, tempat sembahyang, atau sekadar mencari udara.

Satu sepeda motor dapat digunakan untuk begitu banyak keperluan. Kendaraan itu mengikuti ritme hidup pemiliknya. Ketika ingin pergi, tinggal mengambil kunci. Ketika ingin berhenti, cukup mencari tempat yang memungkinkan. Tidak ada jadwal keberangkatan yang harus dikejar. Kebebasan semacam itu membuat sepeda motor menjadi pilihan yang sangat praktis.

Jalan kecil dapat dilalui. Gang sempit bukan persoalan besar. Jarak beberapa kilometer tidak perlu dipikirkan terlalu lama. Dalam banyak situasi, sepeda motor terasa seperti bagian dari tubuh yang membawa seseorang ke mana pun ia perlu pergi. Ia membuat perjalanan lebih fleksibel, tetapi juga membuat mobilitas semakin individual.

Bali sebenarnya tidak selalu bergantung sebesar sekarang pada kendaraan pribadi. Generasi sebelumnya masih akrab dengan bemo. Bus antarkota juga pernah menjadi bagian penting dari perjalanan antarwilayah. Naik kendaraan umum berarti berbagi ruang dengan orang lain dan mengikuti jalur yang telah ditentukan. Perjalanan menjadi pengalaman bersama.

Saya masih bisa membayangkan suasana bemo dari cerita orang-orang yang lebih tua. Kendaraan itu berhenti menunggu penumpang. Orang naik dengan barang bawaan masing-masing. Percakapan berlangsung di dalam kendaraan. Sopir mengenali beberapa penumpang tetap. Perjalanan bukan hanya perpindahan dari satu titik ke titik lain, tetapi juga perjumpaan dengan orang-orang.

Kini pengalaman tersebut semakin jarang menjadi bagian utama mobilitas masyarakat. Angkutan umum masih tersedia di sejumlah wilayah, tetapi tidak lagi mendominasi perjalanan sehari-hari seperti kendaraan pribadi. Layanan transportasi berbasis aplikasi juga membawa perubahan baru dalam cara orang bergerak. Mobilitas menjadi lebih mudah dipesan, tetapi pengalaman perjalanan semakin individual.

Dalam penelitian mengenai pilihan moda perjalanan di Bali, sepeda motor menunjukkan proporsi yang sangat besar dibandingkan angkutan umum. Salah satu penelitian mencatat penggunaan sepeda motor mencapai 85,40 persen dalam surveinya, sementara angkutan umum 0,73 persen. Angka tersebut harus dibaca sesuai konteks penelitian dan tidak dianggap sebagai persentase mutakhir untuk seluruh perjalanan di Bali.

Namun kita tidak selalu membutuhkan angka untuk melihat perubahan tersebut. Cukup berdiri di tepi jalan pada pagi hari. Sepeda motor datang satu demi satu. Orang tua mengantar anak, pekerja berangkat ke kantor, mahasiswa menuju kampus, dan pedagang membawa barang. Jalan seperti dialiri kendaraan roda dua menuju berbagai arah.

Menariknya, kepadatan kendaraan itu tidak selalu menghasilkan kepadatan suara klakson. Mesin terdengar hampir sepanjang waktu, tetapi klakson digunakan lebih selektif. Ketika seseorang membunyikannya, saya sering ingin mengetahui alasannya. Mungkin ada tikungan, mungkin ada anjing, mungkin hendak menyalip, mungkin seorang teman sedang lewat.

Atau mungkin pengendara sedang melewati sebuah tempat yang sejak kecil ia dengar memiliki cerita tertentu. Di situlah klakson menjadi menarik jika dilihat sebagai bagian dari kebudayaan. Kita sering membayangkan kebudayaan melalui upacara, pura, pakaian adat, tarian, gamelan, atau makanan. Padahal kebudayaan juga hidup dalam kebiasaan yang hampir tidak pernah kita pikirkan.

Tidak ada buku pelajaran yang mengajarkan bahwa klakson bisa menjadi sapaan. Tidak ada peraturan lalu lintas yang mengatakan seseorang perlu membunyikannya ketika berpapasan dengan kerabat. Namun kebiasaan itu dipelajari melalui kehidupan sehari-hari. Anak yang dibonceng orang tuanya mendengar bunyi klakson berkali-kali dan perlahan memahami perbedaan konteksnya.

Jalan menjadi ruang belajar yang tidak memiliki ruang kelas. Kita belajar membaca gerakan kendaraan, memahami jarak, mengurangi kecepatan, memberi tanda, dan memperkirakan tindakan orang lain. Klakson hanya salah satu bagian dari pengetahuan tersebut. Ia bekerja bersama tatapan, gerakan tangan, posisi kendaraan, dan perubahan kecepatan.

Karena itu, hemat klakson bagi saya bukan sekadar persoalan kebisingan. Ia juga berkaitan dengan cara seseorang memperlakukan pengguna jalan lain. Tidak semua gerakan harus dibalas dengan suara. Tidak semua kendaraan yang lambat perlu didesak. Tidak setiap orang yang berada di depan kita harus segera menyingkir.

Kadang cukup menunggu. Kadang cukup memperlambat kendaraan. Kadang cukup memberi satu bunyi pendek. Dalam lalu lintas yang semakin padat, kemampuan menggunakan klakson seperlunya terasa seperti bentuk kecil dari kesadaran terhadap orang lain. Kita tetap bergerak, tetapi tidak harus selalu meminta ruang dengan suara keras.

Bali sendiri terus berubah. Jalan bertambah ramai. Sepeda motor semakin mudah ditemui. Transportasi publik menghadapi tantangannya sendiri. Mobilitas menjadi semakin cepat dan individual. Namun di tengah perubahan tersebut, beberapa kebiasaan kecil masih bertahan. Salah satunya adalah bunyi klakson yang pendek.

Saya kembali mengingat perjalanan pagi tadi. Anjing di depan rumah sudah bergeser dari jalan. Tikungan telah saya lewati. Teman yang berpapasan mungkin sudah sampai di tempat tujuannya. Masing-masing kembali pada kesibukannya. Tidak ada percakapan panjang, tidak ada pertemuan yang direncanakan, hanya beberapa tanda kecil yang sempat terjadi di sepanjang perjalanan.

Mungkin begitulah cara jalan mengajarkan kita tentang kebudayaan. Sesuatu yang tampak sepele ternyata menyimpan banyak hubungan. Dengan sesama manusia, dengan hewan, dengan tempat, dengan ingatan, bahkan dengan perubahan cara sebuah masyarakat bergerak. Kita hanya perlu memperhatikan lebih lama untuk melihatnya.

Di Bali, jalan mungkin semakin ramai. Sepeda motor terus bertambah, transportasi publik terus mencari bentuk, dan perjalanan semakin individual. Namun di antara suara mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti, masih ada bunyi-bunyi pendek yang muncul seperlunya. Klakson berbunyi sekali, lalu menghilang.

Mungkin itu cukup. Bukan karena jalan tidak membutuhkan suara, tetapi karena tidak semua hal harus disampaikan dengan suara keras. Di antara kendaraan yang terus bergerak, satu bunyi pendek kadang sudah mampu menjadi peringatan, sapaan, permisi, atau tanda kehadiran. Setelah itu, kita kembali melanjutkan perjalanan.

 

*) I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Menulis sejak 2001, ia telah menerbitkan 20 buku, terdiri atas kumpulan puisi, esai, dan karya nonfiksi. Tulisannya terbit di sejumlah media di Indonesia. Ia banyak menulis tentang Bali, kebudayaan, masyarakat, sastra, seni, dan pengalaman sehari-hari.

 

Apa Komentar Anda?