Saat Corona Membuat Bra Batok Kelapa Tak Laku lagi

Meski sepi pembeli, perajin BH dari batok kelapa tetap berproduksi untuk mencari pola produk baru -KAD

BADUNG- Suara mesin dinamo menderu dari dalam sebuah gudang yang pengap dan  berdebu. Di dalam ruangan yang tak begitu luas itu, tampak tumpukan karung berisi batok kelapa, berantakan.

Meski pengap, Abdul Aziz (36) tetap ulet bekerja di depan mesin dinamo usang yang berputar kencang. Kedua tangannya lihai mengampelas batok kelapa hingga mulus untuk dibuat menjadi pakaian dalam wanita, atau bra. “Ini untuk contoh. Baru mau ditawarkan ke pelanggan saya. Siapa tau dia mau order lagi,” kata Aziz, saat ditemui di dalam gudangnya, di Jalan Uluwatu, Desa Kelan, Badung.

Abdul Azis ikut menangani langsung proses produksi BH dari batok kelapa yang bisa dijual di toko souvenir dan pasar seni – KAD

Pria asal  Desa Glingsiran, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur itu sudah 27 tahun menekuni  kerajinan batok kelapa. Berkat keuletannya, bahan batok kelapa disulap menjadi tas bulat, mangkok, sendok celengan dan beragam kerajinan lainnya.

 Namun empat bulan terakhir menjadi masa masa berat buat Aziz. Akibat pandemic COVID-19, ia tak lagi menerima orderan.”Sudah empat bulan, tidak dapat orderan batok kelapa. Ini mau buat contoh baru, siapa tau pelanggan saya mau order lagi. Itupun kalau mau,” ucapnya gelisah.

Di masa masa sebelum pandemi, pesanan kerajinan batok kelapa bisa mencapai ratusan unit tiap bulan. “Kalau dulu sebulan, bisa 500 pcs orderan tas bulat batok kelapa dan juga bra. Kalau saat ini sudah tidak ada lagi. Terpaksa kerja serabutan buat anak dan istri biar bisa makan dan bayar kos-kosan,” ungkapnya. 

Bapak empat anak itu mengaku melakukan pekerjaan apapun demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pernah ikut rekannya bekerja mengecat toko di kawasan Legian, Kuta, Bali. Ia juga bekerja sebagai kuli bangunan. “Iya, apa saja saya kerjakan sekarang yang penting halal. Kebetulan, seminggu yang lalu diajak teman ngecat gedung tokoh di Legian. Iya mau, yang penting ada buat makan,” jelasnya. 

“Kalau dulu, ada orderan tiap bulan cukuplah untuk bayar cicilan, uang sekolah anak-anak dan membeli kebutuhan. Dulu pendapatan Rp 3 juta hingga Rp 4 juta sebulan,” Aziz mengenang masa masa sebelum pandemic.

Pembuat kerajinan dari kulit kerang juga mengalami masalah dengan tertutupnya akses pasar – KAD

Orderan kerajinan batok kelapa-nya biasanya dia kirim ke pelanggannya yang memiliki art shop di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. “Semoga wabah ini cepat selesai dan orderan kembali ada. Sekarang, saya buat makan sehari-hari saja belum tentu ada. Iya buat makan kadang dibantu sama keluarga dan juga anak saya yang masih kerja,” ujar Aziz.

Keadaan yang sama juga dirasakan M. Syafi’i (50) yang merupakan pembuat kerajinan dari kerang. “Kalau sekarang ada sedikit. Iya ada cuma seratusan. Saya buat kotak tisu dari kerang. Tapi sepinya orderan ini sudah empat bulan,” kata Syafi’i, saat ditemui ditempat kerjanya berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai, Desa Suwung, Gang Wijaya lll, Denpasar, Bali. 

Akibat sepinya order, Syafi’i kini hanya mengandalkan sisa tabungannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pun terpaksa memulangkan empat karyawannya ke kampung mereka di Jawa. Kini ia hanya mempekerjakan dua karyawan. “Tidak ada kerjaan. Iya sambil menunggu kapan dibuka (pariwisata). Karyawan hanya tinggal dua orang saja,” imbuhya. 

Pria asal Desa Karopoh, Kecamatan Ra’as, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur ini, sudah 25 tahun menekuni kerajinan kerang. Kerajinan yang dibuatnya beraneka ragam, mulai dari kotak tisu, tempat roti, tempat bumbu serta tempat buah dan lainnya.

Selain menekuni kerajinan kerang, ia juga mengontrak sebuah toko di wilayah Poppies l, Kuta. Di sana, ia menjajakan hasil buah tangannya kepada para turis. Namun, saat ini art shopnya sudah ia tutup akibat sepinya turis. “Mudah-mudahan wabah ini cepat selesai dan tamu kembali ramai lagi dan ada orderan,” ujar Syafi’i. 

Kotak tisu dari kulit kerang, salah-satu produk kerajinan yang sangat diminati – KAD

Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Perdagangan Kabupaten Badung, I Made Widiana, menyebut  hampir semua unit usaha terimbas oleh pandemic COVID-19. “Perajin pernak pernik secara otomatis (terdampak), karena pangsa pasarnya adalah internasional. Order dari mancanegara tentu saja merosot karena tidak adanya pariwisata seperti ini,” kata Widiana,

Di wilayah Kabupaten Badung, tercatat ada sebanyak 20,838 UMKM. Jumlah itu terdiri atas 17,576 usaha mikro, 2,751 usaha kecil, dan 520 usaha menengah. Sebagian besar diantaranya diakui terdampak oleh pandemi COVID-19.

Pemerintah Kabupaten Badung, kata Widiana, sudah menganggarkan dana lebih dari Rp 1.8 miliar untuk UMKM. Meski demikian, dana tersebut akan difokuskan untuk membantu UMKM di obyek obyek wisata.

Sedangkan UMKM di luar obyek wisata, pihaknya mengaku tetap berupaya membantu agar mereka mendapatkan akses bantuan dari Pemerintah Provinsi Bali maupun Pemerintah Pusat. “Kalau kita di Badung, ada anggaran pemberian stimulus kepada UMKM yang ada di obyek wisata. Itu yang kita anggarkan,” ujar Widiana.  ( kanalbali/M Kadafi/Komang Erviani)

Apa Komentar Anda?