Dari Wartawan Berbelok Jadi Advokat

Putu Sutha Adnyana (IST)

MENJADI  advokat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Menjalani profesi ini  perlu perjuangan,disiplin, dan kerja keras.  Itu  yang dilakukan  Putu Suta Sadnyana. “Awalnya saya wartawan terus ganti profesi jadi advokat,”tuturnya kepada Supremasi.

Menurut mantan Ketua AAI Denpasar itu, dalam rangka pendidikan, advokat harus memenuhi tiga hal yaitu pengetahuan ( knowledge ), keterampilan( skill ) dan mentaati pedoman perilaku ( kode etik ).

“Dari pengamatan saya berdasarkan pengalaman  praktik lebih dari 33 tahun sejak 1985, advokat mestinya mempunyai kemampuan konsepsional dan kemampuan operasional utk menjalankan profesinya,”ujar alumni FH Universitas Brawijaya Malang ini.

Tapi itu  belumlah cukup agar menjadi seorang  profesional.  Eksistensi kantor advokat  musti mempunyai kemampuan manajemen dan hubungan relasi yang luas.”Itu berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya selama menempuh karir ini ,”terang mantan Ketua Peradi Bali ini.

Perjuangannya  hingga menjadi advokat papan atas di Bali cukup berat karena pada tahun 80-an advokat harus mendapat SK dari Menteri Kehakiman. Sementara pengacara cukup lulus ujian dan disumpah pengadilan tinggi.

Dia sendiri mengawali praktik tanpa kantor. Apabila ada surat-surat dari klien atau korespodensi lainnya, dialamatkan ke kantor tempatnya bekerja di salah satu penerbit koran di Bali. Kala itu, mantan wartawan kampus Unibraw itu masih bekerja sebagai jurnalis. Dia menjadi salah satu editor di koran nasional terbitan Bali paska hijrah dari Malang ke Bali.

“Saya mau sewa kantor belum ada uang, kebetulan diizinkan bos koran pinjam alamat,”kenangnya.

Dia  terjun ke profesi pengacara juga karena ingin memperbaiki hidup karena pendapatannya sebagai wartawan terlalu kecil. Ujian pengacara kala itu dilaksanakan di Unibraw sementara untuk ijin advokatnya harus menunggu cukup lama dari Menteri Kehakiman RI.

Kenangan lain yang menurut Putu Suta sebagai pemacu kualitas sebagai advokat adalah saat menerima klien asing. Dia mengaku cukup bingung. Itu dikarenakan tidak bisa menguasai bahasa asing. Calon klien itu meninggalkan kantor begitu saja sambil berpesan kalau mau jadi pengacara internasional harus menguasai bahasa Inggris. Dalam kondisi gundah,marah, ucapan si bule itu membuat Putu Suta terbuka pikirannys. dia lantas kursus bahasa Inggris di IALF Denpasar

. Bukan itu saja, Putu Suta yang menamatkan SMA nya di Surabaya tahun 1974, itu pernah dihardik oleh klien Jepang. Itu gara garanya Suta sibuk di balik meja kerjanya sementara calon klien menunggu cukup lama di ruang tamu.

“Saya betul betul terpacu dan sadar, dan itu yang membuat saya jadi seperti ini, advokat harus banyak belajar,”tutup Putu Suta.

 Situasi sekarang, menurutnya, memudahkan seseornag untuk menjadi advokat. Sebab, cukup ujian disumpah sudah bisa menjadi advokat. Proses magang sebagaimana diamanatkan undang-undang kadang tidak sepenuhnya dilaksanakan.

Namun, tegas dia, situasi ini harus membuat advokat mawas diri.  Banyaknya kemudahan itu menjadikan kualitas profesi ini  bisa  kurang berbobot. Apalagi dengan keberagaman organisasi saat ini, advokat nakal atau yang melakukan pelanggaran bisa pindah ke organisasi lain tanpa adanya sanksi.

Berkaca dari hal itu muncul beberapa usulan adanya penyatuan Badan Kehormatan atau Kode Etik tunggal guna menjaga nama advokat itu sendiri. “Itu bisa saja asal persetujuan dari organisasi-organisasi  profesi advokat yang akan menggunakannnya,” sambung advokat yang disertasi doktornya soal Antropologi hukum ini. (NAN)