Ditahan di Polda Bali, Pemuka Agama Tersangka Pencabulan Tak Diperlakukan Istimewa

DENPASAR – IWM (38) tersangka perkara pencabulan terhadap wanita berinisal KYD (33) saat ritual melukat di Tukad Campuan Pakerisan, Tampak Siring, Gianyar, Selasa (30/03/21) dibesuk oleh tim penasehat hukum dan sang istri di rumah tahanan Polda Bali. Saat dibesuk IWM nampak sehat seperti biasanya. Hal itu diungkapkan oleh anggota penasehat hukum I Komang Darmayasa.

“Beliau dalam keadaan sehat, di dalam tahanan ia diperlakukan dengan baik,” katanya. Dalam sepekan, jadwal kunjungan hanya dapat dilakukan sebanyak dua kali yakni pada hari Selasa dan Kamis. Pun itu hanya boleh dilakukan pada jam-jam tertentu saja. Alasanya, virus corona yang masih mewabah dikhawatirkan menjangkit di areal rutan, sehingga waktu kunjungan di batasi sementara protokol kesehatan juga ditegakan dengan ketat.

Siang itu istri IWM, Ida Istri Bhagawan Ayu Laksmi Sidhimantra membawakan beberapa barang untuk suaminya. Wanita paruh baya itu menitipkan kepada sipir penjara makanan, tirta (air yang telah disucikan) dari guru nabenya, canang, serta bungkak (kelapa) untuk keperluan IWM melakukan persembahyangan sore hari. Petugas pun nampak tak keberatan dengan permintaanya itu, mereka melaksanakan apa yang diminta oleh Ida Istri.

Sebelum peristiwa pencabulan yang diduga terjadi saat gelaram Pengelukatan (pembersihan diri) di Tukad Campuan Pakerisan, Tampak Siring, Gianyar dilaporkan ke pihak berwajib, aktivitas keseharian IWM begitu padat dengan gelaran ritual agama. Ia kerap kali menerima pemadek (umat) yang tangkil (berkunjung) ke griyanya untuk bersembahyang, dan memberi pelayanan secara spiritual kepada orang yang memohon bantuannya. Nyaris semua waktunya ia habiskan dalam gelaran upacara.

Namun sejak ditetapkan menjadi tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Denpasar pada 24 Maret lalu, mau tak mau aktivitas religius IWM pun terganggu. Kini IWM harus fokus menjalani proses hukum dan persidangan untuk membuktikan dirinya bersalah atau tidak dalam perkara itu. “Selama berada di dalam tahanan, klien kami tidak mendapat ada perlakuan kusus, sama seperti tahanan lainya,” ungkap Darmayasa.

Hanya saja, saat aktivitas persembahyangan IWM diberi ruang untuk memimpin ritual. Meski berada di jeruji besi, para tahanan yang beragama Hindu tak lupa beesembahyang. Saat ritual itu, pria berumur 38 tahun itu ditunjuk untuk memimpin gelaran. “Beliau bahkan memimpin upacara persembayangan dan mendapat perlakuan yang baik,” ungkapnya.

Penasehat Hukum Komang Darmayasa – ist

Sementara itu, Penasehat Hukum Komang Darmayasa berharap, masyarakat untuk tidak lupa dengan asas praduga tak bersalah, hingga hakim memberikan vonis bersalah atau tidak. “Menanggapi pihak yang seolah menjustifikasi klien kami telah bersalah, dengan ini kami sampaikan klien kami memaafkan pihak tersebut dan memohon menyisakan lima persen ruang dalam pikiran hati masyarkaat mengenai asas praduga tak bersalah,” ungkapnya.

“Beliau menyampaikan permintaan maaf akibat adanya berita yang berkembang sehingga ada pihak yang tidak nyaman terkait permasalahan yang menimpa klien kami,” ungkapnya. Sejak awal, tegas Damayasa IWM tidak mengakui tuduhan pencabulan yang dituduhkan oleh korban. “Tuduhan pencabulan korban tekait proses pengelukatan, memang benar klien kami membasuh kepala dan punggung korban, namun menurut klien kami itu bukanlah tindak pencabulan,” ungkapnya.

Pihaknya akan berupaya sekuat tenaga untuk melakukan pembuktian di persidangan. “Klien kami meminta doa supaya sidang berjalan lancar dan kami dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah sebagaimana penyangkalan beliau sejak awal,” tandasnya. (Kanalbali/WIB)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.