Media sosial akhirnya bukan sekadar tempat berkomunikasi. Ia menjadi semacam buku harian digital, tempat manusia menyimpan potongan-potongan kehidupannya. Bedanya, buku harian dahulu dibaca sendiri, sedangkan unggahan media sosial bisa menjadi konsumsi orang banyak.
Oleh: Angga Wijaya*
PERISTIWA jatuhnya air dari langit, tampaknya, punya arti khusus bagi manusia modern. Hujan sering direkam dalam video, terutama ketika pagi, sore, atau malam. Kemudian diunggah menjadi postingan yang estetik nan melankolis. Dilengkapi teks atau tulisan singkat yang mendukung, atau sekadar menggambarkan suasana hati pembuatnya.
Workshop Evaluasi Anggaran T.A. 2021 Dan Target Anggaran T.A. 2022 untuk Menunjang Kinerja Dekan
Instagramable, istilah yang cukup populer sekarang, merujuk pada sesuatu yang menarik secara visual, layak difoto, kemudian dibagikan melalui Instagram. Dalam perkembangannya, kebiasaan tersebut meluas ke berbagai platform digital. Instagram, Facebook, Threads, X, hingga fitur story dan status WhatsApp menjadi ruang bagi orang-orang untuk memamerkan potongan pengalaman sehari-hari. Sesuatu yang bukan hanya indah dipandang, tetapi juga dianggap pantas diperlihatkan kepada orang lain melalui layar ponsel.
Jika pada zaman dahulu momen hujan mungkin terlewat begitu saja, kini, sejak hadirnya internet, ponsel pintar, dan media sosial, hujan menjadi peristiwa yang terasa begitu dekat dengan teknologi. Bahkan, sebelum seseorang sempat menikmati suara air yang jatuh di atas genting, ia mungkin sudah lebih dahulu mengeluarkan ponsel untuk merekamnya.
Ada semacam kebiasaan baru dalam kehidupan manusia kota. Kita seperti merasa perlu mengabadikan hampir setiap pengalaman. Makanan yang akan disantap, kopi yang diminum, perjalanan ke suatu tempat, langit sore, bahkan hujan yang turun di depan rumah. Semuanya berpotensi menjadi bahan unggahan. Pengalaman seolah belum lengkap jika belum dibagikan kepada orang lain.
Di media sosial, pengalaman menyaksikan hujan tersimpan rapi sebagai arsip digital. Bukan hanya dalam ingatan, melainkan juga dalam akun masing-masing orang. Rekaman itu bisa dilihat kembali kapan pun kita mau, sepanjang tidak dihapus.
Orang lain dalam lingkaran pertemanan digital kita pun bisa menyaksikannya. Pengalaman yang dahulu hanya menjadi kenangan pribadi kini berubah menjadi arsip yang dapat dibagikan dan dinikmati bersama.
Bayangkan, sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, seseorang membuka kembali akun media sosialnya. Ia menemukan video hujan yang pernah direkam pada suatu sore. Mungkin saat itu ia masih tinggal di rumah kontrakan, bekerja di sebuah kantor, atau sedang jatuh cinta kepada seseorang. Hujan yang sama bisa membawanya kembali pada suasana kehidupan yang sudah lama berlalu.
Media sosial akhirnya bukan sekadar tempat berkomunikasi. Ia menjadi semacam buku harian digital, tempat manusia menyimpan potongan-potongan kehidupannya. Bedanya, buku harian dahulu dibaca sendiri, sedangkan unggahan media sosial bisa menjadi konsumsi orang banyak. Bahkan, kenangan pribadi bisa berubah menjadi tontonan publik.
Dulu, hujan memiliki makna yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Bagi masyarakat agraris, misalnya, hujan adalah kesuburan dan rezeki. Tanaman akhirnya mendapatkan air setelah melewati kemarau panjang. Sawah kembali basah, sumber air terisi, dan harapan akan panen tumbuh lagi.
Bagi petani, hujan bukan sekadar pemandangan indah. Ia berkaitan dengan keberlangsungan hidup. Hujan yang datang tepat waktu bisa berarti keberhasilan panen. Sebaliknya, hujan yang terlalu deras atau kemarau yang berkepanjangan dapat menjadi persoalan serius. Ada hubungan langsung antara langit, tanah, tanaman, dan dapur keluarga.
Kini, hujan sering kali menjadi latar belakang bagi perasaan sendu, kesedihan, atau sekadar melankoli yang absurd. Ia menjadi pemandangan sempurna untuk sebuah unggahan tentang kesepian, kenangan, cinta yang kandas, atau seseorang yang tiba-tiba merasa kehilangan tanpa tahu persis apa yang sedang hilang.
Dalam berbagai kebudayaan di dunia, manusia dahulu percaya bahwa ada kekuatan agung yang mengatur cuaca. Dalam mitologi dan kepercayaan tradisional Cina, misalnya, dikenal sejumlah dewa yang memiliki tugas berkaitan dengan fenomena alam. Ada Yu Shi, Sang Penguasa Hujan; Feng Bo, Dewa Angin; Lei Gong, Dewa Guntur; dan Dian Mu, Dewi Kilat.
Mereka digambarkan memiliki kewenangan masing-masing. Yu Shi bertugas menurunkan hujan, Feng Bo mengendalikan angin, Lei Gong menghasilkan suara guntur, sedangkan Dian Mu menghadirkan kilatan petir. Dalam sejumlah kisah mitologi, mereka bahkan digambarkan bekerja bersama sebagai bagian dari pemerintahan langit. Ada semacam pembagian tugas untuk mengatur peristiwa alam di bumi.
Selain itu, dikenal pula Long Wang atau Raja Naga yang memiliki kekuasaan atas perairan, termasuk laut, sungai, dan hujan. Dalam tradisi masyarakat Cina, Raja Naga kerap dihubungkan dengan permohonan hujan ketika kemarau panjang melanda.
Pun di Bali. Dalam tradisi Hindu, masyarakat mengenal Dewa Indra sebagai dewata yang berkaitan dengan hujan, petir, dan kekuatan langit. Dalam sejumlah kisah dan tradisi, Dewa Indra digambarkan sebagai penguasa hujan yang membawa kesuburan bagi bumi. Ia memiliki senjata bajra atau vajra yang diasosiasikan dengan petir.
Ada pula Dewa Baruna, penguasa air dan lautan. Sementara itu, Dewa Bayu berkaitan dengan angin. Ketiganya memperlihatkan bagaimana unsur-unsur alam memiliki tempat tersendiri dalam kosmologi dan imajinasi religius masyarakat.
Kini, kepercayaan semacam itu mungkin dianggap sebagian orang sebagai mitologi, bahkan sekadar dongeng karangan manusia zaman dahulu. Kemajuan teknologi, selain memberikan banyak manfaat, perlahan mengubah cara kita memahami alam dan hubungannya dengan kekuatan yang dianggap gaib.
Hujan bisa diprediksi oleh badan atau lembaga negara yang bertugas melakukan pengamatan, penelitian, dan penyampaian informasi meteorologi. Di Indonesia, ada BMKG. Bahkan, manusia telah mengembangkan teknologi modifikasi cuaca untuk tujuan tertentu, misalnya mengurangi risiko bencana atau membantu mengisi waduk dan bendungan.
Seakan-akan kita tidak perlu lagi terlalu yakin pada keberadaan dewa-dewa pengatur cuaca. Dengan segala kecerdasannya, manusia modern merasa telah mampu mengambil alih sebagian peran yang dahulu dibayangkan sebagai kewenangan para penghuni langit.
Cuaca menjadi perkara yang bisa dihitung, dipetakan, diprediksi, dan diumumkan melalui aplikasi. Kita tinggal membuka ponsel untuk mengetahui apakah sore nanti akan turun hujan. Bahkan, ada pemberitahuan ketika hujan diperkirakan mengguyur wilayah sekitar kita.
Namun, manusia tetaplah makhluk yang terbatas. Teknologi secanggih apa pun tidak membuat kita menjadi penguasa mutlak atas alam semesta. Di atas langit masih ada langit, jika meminjam ungkapan yang akrab dalam kehidupan beragama.
Hujan bisa berubah menjadi bencana dahsyat yang sulit diperkirakan secara tepat. Banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem mengingatkan kita bahwa alam tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia. Perubahan iklim global juga membuat pola musim mengalami pergeseran.
Musim panas bisa diselingi hujan yang tidak biasa, sementara periode yang dahulu dikenal sebagai musim hujan justru dapat mengalami kekeringan berkepanjangan. Rupanya, kita belum sepenuhnya memahami alam yang setiap hari ditempati.
Dan hujan, ketika akhirnya turun, membuat manusia yang rewel menjadi amat senang. Bagai anak kecil yang terkaget-kaget mendapatkan hadiah mainan baru dari seorang ayah yang pulang bekerja pada sore hari.
Bagi manusia kota, hujan bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda-beda. Ada pekerja yang mengeluh karena harus menembus kemacetan. Pengendara sepeda motor buru-buru mencari tempat berteduh. Pedagang kaki lima sibuk menyelamatkan barang dagangannya.
Sementara seseorang yang sedang duduk di balik jendela kafe mungkin justru merasa mendapatkan suasana yang menyenangkan. Hujan yang sama ternyata bisa melahirkan pengalaman yang berbeda. Ada yang menganggapnya sebagai gangguan, ada pula yang melihatnya sebagai hiburan.
Bagi sebagian orang, hujan berarti pekerjaan tertunda. Bagi yang lain, ia menjadi alasan untuk tinggal lebih lama di rumah, menikmati kopi, membaca buku, atau sekadar memandangi jalanan yang basah.
Curahan air dalam jumlah banyak ataupun sekadar rintik-rintik menjadi momen yang segera diabadikan menggunakan ponsel pintar. Benda yang sekarang hampir selalu berada dalam genggaman, terselip di saku celana, dan menjadi salah satu barang kesayangan manusia yang selalu ingin update.
Media sosial ibarat rumah kedua. Tempat orang-orang berumah dalam candu yang teramat mengasyikkan, bahkan semakin hari terasa semakin memabukkan. Kita membawa kehidupan ke dalamnya. Memamerkan kebahagiaan, menyembunyikan kesedihan, menyampaikan sindiran, mengirim kode kepada seseorang, atau sekadar menunjukkan bahwa kita masih ada.
Hujan pun menjadi bagian dari kehidupan digital tersebut.
Hujan, orang senang. Cuaca panas, orang menggerutu. Ketika hujan turun terlalu lama, kita merindukan matahari. Saat kemarau datang, orang menginginkan hujan. Mungkin dewa-dewa pengatur cuaca akan kebingungan melihat perangai manusia. Bukankah semesta juga diatur oleh hukum dan keteraturan, seperti segala sesuatu di dunia ini?
Kita sepertinya tidak pernah benar-benar bersabar. Media sosial mengabarkan hujan bahkan sebelum ia selesai mengguyur bumi. Kadang-kadang, seseorang lebih sibuk merekamnya daripada menikmati kehadirannya.
Ia sibuk mencari sudut pengambilan gambar, mengatur pencahayaan, memilih musik latar, dan memikirkan kalimat yang cocok untuk menyertai unggahannya.
Teknologi kadang membuat kita jumawa, sekaligus menyadarkan betapa rapuhnya manusia. Hujan justru mengingatkan kita pada kebutuhan psikologis akan kehangatan, cinta, dan kasih sayang. Ia membawa kenangan masa lalu bersama orang terkasih, mantan kekasih, istri, suami, atau seseorang yang mungkin sudah lama tidak kita temui.
Semua itu tentu tidak disampaikan secara terang-terangan di media sosial. Manusia modern amat pandai menyembunyikan perasaan. Mereka bisa mengunggah video hujan dengan tulisan pendek yang terdengar filosofis, padahal mungkin sedang merindukan seseorang.
Mereka bisa menambahkan lagu sedih, padahal tidak sedang bersedih. Atau sebaliknya, terlihat baik-baik saja meskipun ada sesuatu yang diam-diam sedang berantakan di dalam dirinya.
Mungkin hanya para penyair yang berani jujur tentang perasaannya. Ketika hujan tiba, mereka termenung. Lalu bait-bait kata seperti berhamburan datang untuk dituliskan menjadi puisi. Ah, begitu romantis!
Namun, penyair modern juga tidak bisa lepas dari teknologi. Mereka mengunggah puisi di media sosial. Tentang hujan, cinta yang kandas, atau sebaliknya, cinta yang penuh gelora dan harapan.
Puisi yang dahulu mungkin hanya dibacakan di ruang-ruang kecil kini bisa menjangkau ribuan orang hanya melalui satu kali sentuhan layar.
Hujan, di media sosial, adalah puisi modernitas.
Dahulu manusia berdoa agar hujan turun. Sekarang manusia merekam hujan agar orang lain tahu bahwa hujan sedang turun. Di antara dua kebiasaan itu, ada perubahan besar dalam sejarah kebudayaan manusia.
Barangkali, pada akhirnya, manusia tidak benar-benar kehilangan kepercayaannya kepada alam. Kita hanya mengubah cara berhubungan dengannya. Dahulu, hujan disambut dengan doa, ritual, dan rasa syukur. Sekarang, ia disambut dengan kamera, musik latar, filter, dan sejumlah tagar.
Kita merekam hujan agar tidak kehilangan momen. Padahal, hujan sendiri tidak pernah meminta untuk diabadikan. Ia datang, membasahi bumi, lalu pergi. Sementara manusia sibuk memastikan bahwa orang lain tahu dirinya sedang menikmati hujan.
Ah, manusia modern. Bahkan hujan pun kini membutuhkan penonton.
Salam!
Badung, 2 November 2026
Tentang Penulis
*) I Ketut Angga Wijaya adalah penyair, penulis, dan jurnalis yang tinggal di Bali. Ia pernah menempuh pendidikan Antropologi Budaya di Universitas Udayana (UNUD). Ketertarikannya pada antropologi turut membentuk cara pandangnya dalam mengamati kehidupan manusia, terutama dinamika masyarakat dan kehidupan manusia kota.
Baginya, kehidupan sehari-hari selalu menyimpan cerita, gejala kebudayaan, dan berbagai ironi yang menarik untuk ditulis. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku, baik puisi, esai, maupun memoar.


