Ibu Membuang Buku, Sebuah Renungan di Hari Saraswati

Ilustrasi buku-buku. (Foto: Rico Flores)
Ilustrasi buku-buku. (Foto: Rico Flores)

Barangkali ibu tidak pernah tahu betapa buku-buku tersebut memiliki arti penting bagiku. Ia mungkin hanya melihat tumpukan barang yang membuat kamar berantakan. Sementara aku melihat kenangan, kebanggaan, dan bagian dari masa kecil yang ingin kusimpan.

Oleh Angga Wijaya*

KULIHAT suatu hari ibu merapikan kamarku. Buku-buku pelajaran dikumpulkannya. Buku-buku yang selama bertahun-tahun menghiasi kamar kecilku. Kami tidak memiliki rak buku. Buku-buku itu hanya ditumpuk di beberapa sudut kamar, sebagian lainnya dimasukkan ke dalam kardus bekas.

Ibu adalah ibu angkatku, sekaligus bibiku. Ia menyukai kerapian. Tidak suka melihat terlalu banyak barang di kamarku, termasuk buku. Padahal, ibu merupakan orang yang paling rajin memberiku uang jika ada buku pelajaran di sekolah yang harus dibeli. Ia mendukungku belajar dengan tekun.

Juara kelas sering kuraih. Kalau tidak juara III, pasti juara II atau I. Aku dikenal sebagai murid cerdas dan berprestasi. Bahkan, ketika kelas IV sekolah dasar, guru-guru mempercayakan posisi ketua kelas kepadaku.

Semula kukira ibu akan memindahkan buku-buku itu ke kamar lain yang lebih luas di rumah kami. Ternyata aku keliru. Ibu membuangnya! Buku-buku itu diletakkan di tempat sampah dekat halaman rumah.

Hatiku sakit melihatnya. Buku-buku tersebut memiliki kenangan tersendiri. Mereka menemani tahun-tahun sekolahku. Ketika malam tiba, aku membaca, mengerjakan tugas, dan menulisinya dengan kegairahan seorang murid yang tekun menuntut ilmu.

Ibu membuangnya seolah-olah kumpulan kertas itu hanyalah sampah belaka. Sesuatu yang tidak lagi memiliki harga. Bagiku, tindakan itu terasa seperti tidak menghargai diriku dan perjalanan belajarku.

Aku diam saja. Sedih menyaksikan buku-buku itu berada di tempat sampah. Aku mengenal ibu sebagai perempuan yang lembut, tetapi sesekali agak pemarah. Rasanya percuma berdebat. Aku memilih menyimpan keberatan itu sendiri.

Barangkali ibu tidak pernah tahu betapa buku-buku tersebut memiliki arti penting bagiku. Ia mungkin hanya melihat tumpukan barang yang membuat kamar berantakan. Sementara aku melihat kenangan, kebanggaan, dan bagian dari masa kecil yang ingin kusimpan.

Bertahun-tahun kemudian, ketika menjadi mahasiswa, aku mulai mengumpulkan buku. Sebagian uang saku yang diberikan keluarga angkat setiap bulan kusisihkan untuk membeli bacaan. Tidak banyak buku yang bisa kubeli sekaligus. Aku harus mengatur pengeluaran dan menunggu kesempatan untuk mendapatkan judul yang kuinginkan.

Ada kebahagiaan tersendiri setiap kali berhasil membawa pulang sebuah buku. Aku mulai membangun koleksi sedikit demi sedikit. Buku-buku itu menjadi teman dalam perjalanan kuliah dan kehidupan sehari-hari. Rasanya menyenangkan memiliki sesuatu yang dahulu pernah hilang dari kamar masa kecilku.o

Kecintaan itu berlanjut ketika aku kembali bekerja di Denpasar pada 2015. Aku mulai mengelola toko buku daring. Awalnya, aku menjadi dropshipper dengan menjual buku-buku dari sejumlah penjual di Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Setelah memiliki modal, aku mulai membeli buku sendiri dengan harga potongan untuk dijual kembali di Denpasar. Buku bekas dan baru sama-sama kujual. Aku menikmati pekerjaan itu. Berurusan dengan buku, mencari judul yang diminati pembaca, menawarkan bacaan, hingga mengirimkannya kepada pembeli memberikan kesenangan tersendiri.

Buku perlahan menjadi bagian penting dalam kehidupanku. Ia bukan lagi sekadar perlengkapan sekolah atau benda yang memenuhi kamar. Buku menjadi teman, pekerjaan, sekaligus bagian dari perjalanan intelektualku.

Ibu telah meninggal sebelum aku menerbitkan buku pertama. Ia tidak pernah menyaksikan anak yang dahulu begitu sedih melihat buku-bukunya dibuang itu tumbuh menjadi penulis. Ia tidak pernah melihat buku-buku yang kutulis dan terbitkan. Kadang-kadang aku membayangkan, seandainya ibu masih hidup, mungkin aku akan memperlihatkan buku-buku itu kepadanya.

Hari ini, Sabtu, 31 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Saraswati. Pagi-pagi sekali aku bangun untuk membersihkan koleksi buku di perpustakaan kecil kamar kontrakanku. Debu dan jamur yang menempel kubersihkan menggunakan kuas kecil. Buku-buku kuatur kembali berdasarkan ukuran dan susunannya.

Satu per satu kutata di rak. Pekerjaan kecil itu membutuhkan ketelatenan, tetapi aku menikmatinya. Aku memperhatikan sampul-sampul buku yang mulai kusam, halaman yang menguning, dan debu yang menempel di sela-sela rak.

Sebagian buku sudah lama tidak kubaca. Beberapa lainnya pernah menjadi teman dalam masa-masa tertentu kehidupanku. Ketika membersihkannya, ingatan tentang tempat membeli, alasan membacanya, bahkan suasana ketika pertama kali membuka halaman-halamannya sesekali muncul kembali.

Di Bali, Hari Saraswati diperingati sebagai hari pemujaan Dewi Saraswati, manifestasi Tuhan sebagai simbol ilmu pengetahuan. Buku-buku, lontar, dan berbagai sarana pengetahuan mendapatkan penghormatan. Umat Hindu merayakannya melalui persembahyangan dan berbagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan.

Hari Saraswati mengingatkan kita bahwa pengetahuan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia. Pengetahuan membantu kita mengenali dunia, memahami kehidupan, membedakan yang baik dan buruk, serta mengembangkan kemampuan untuk hidup bersama orang lain.

Namun, perayaan ini juga membuatku memikirkan sesuatu yang lebih luas. Kita memiliki hari khusus untuk menghormati ilmu pengetahuan. Buku dibersihkan, sarana persembahyangan disiapkan, dan Dewi Saraswati dipuja. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, penghargaan terhadap buku belum selalu menjadi kebiasaan.

Ada ironi yang sering kita jumpai dalam kehidupan keluarga. Setiap tahun ajaran baru, orang tua mengeluarkan uang untuk membeli buku pelajaran anak-anaknya. Buku-buku itu digunakan selama satu tahun untuk belajar di sekolah. Ketika kenaikan kelas tiba, sebagian buku dianggap tidak lagi berguna.

Anak-anak mendapatkan buku baru, sementara buku lama mulai disingkirkan. Sebagian disimpan di gudang, ditumpuk dalam kardus, diberikan kepada orang lain, bahkan dibuang. Padahal, buku yang sudah selesai digunakan seorang anak belum tentu kehilangan manfaat bagi anak lainnya.

Aku tidak sedang mengatakan bahwa semua buku harus disimpan selamanya. Ada buku yang memang sudah rusak, tidak layak dibaca, atau tidak lagi memiliki kegunaan. Namun, bukankah banyak buku pelajaran masih bisa dimanfaatkan oleh adik, sepupu, tetangga, atau anak-anak lain yang membutuhkan?

Mengapa setiap tahun kita harus selalu membeli buku baru jika buku-buku sebelumnya masih layak digunakan? Pertanyaan sederhana ini membawa kita pada gagasan tentang pentingnya membangun ruang baca atau perpustakaan kecil di setiap rumah.

Menurutku, perpustakaan keluarga tidak harus berupa ruangan khusus dengan rak besar, meja baca, dan koleksi ratusan buku. Tidak semua keluarga memiliki rumah luas atau kemampuan ekonomi untuk mewujudkannya. Sebuah sudut kecil di ruang keluarga, kamar, atau bagian rumah yang memungkinkan buku disimpan dengan baik sudah cukup menjadi permulaan.

Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan merawat, menyimpan, membaca, dan mewariskan buku. Buku tidak semestinya hanya dibeli ketika sekolah mewajibkan anak-anak memilikinya. Kehadirannya di rumah perlu menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Bayangkan jika setiap keluarga memiliki kebiasaan menyimpan buku pelajaran anak-anaknya setelah tahun ajaran berakhir. Buku-buku tersebut bisa disusun berdasarkan jenjang pendidikan, mata pelajaran, atau tahun penerbitan. Ketika adik memasuki kelas yang sama, buku-buku itu dapat digunakan kembali selama kurikulum dan materinya masih sesuai.

Dengan cara demikian, buku tidak hanya memiliki satu pemilik dan satu masa penggunaan. Ia bisa berpindah tangan dari seorang kakak kepada adiknya, dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Keluarga tidak harus selalu mengeluarkan biaya untuk membeli buku yang sama, sementara buku-buku yang masih layak digunakan justru terbuang begitu saja.

Kebiasaan ini juga dapat membantu keluarga menghemat pengeluaran pendidikan. Kita tahu bahwa kebutuhan sekolah tidak sedikit. Selain membeli buku, orang tua harus menyediakan uang untuk seragam, alat tulis, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya. Jika sebagian buku masih bisa digunakan kembali, pengeluaran keluarga dapat dikurangi.

Lebih dari persoalan penghematan, kebiasaan tersebut mengajarkan anak-anak untuk menghargai barang dan pengetahuan. Mereka belajar bahwa sesuatu yang sudah selesai digunakan bukan berarti kehilangan seluruh nilainya. Buku yang telah dibaca seorang anak masih bisa memberikan manfaat bagi anak lainnya.

Di sinilah ruang baca keluarga memiliki arti lebih luas. Ia bukan hanya tempat menyimpan koleksi, melainkan ruang pewarisan pengetahuan. Anak-anak dapat melihat buku sebagai bagian dari kehidupan rumah tangga, bukan sekadar benda yang muncul ketika sekolah meminta mereka membelinya.

Aku membayangkan sebuah keluarga yang memiliki rak buku sederhana. Di sana tersimpan buku pelajaran bekas kakak, buku cerita, ensiklopedia, kamus, buku agama, novel, majalah, dan berbagai bacaan lainnya. Setiap anggota keluarga boleh mengambil dan membaca buku-buku tersebut.

Anak-anak juga bisa bertanya kepada orang tua tentang bacaan yang sedang mereka nikmati. Percakapan sederhana mengenai isi buku dapat tumbuh menjadi kebiasaan berbagi pengetahuan. Rumah tidak hanya menjadi tempat mengerjakan pekerjaan sekolah, tetapi juga ruang untuk menemukan kegembiraan melalui bacaan.

Sayangnya, kita sering kali lebih sibuk menyediakan berbagai fasilitas rumah tangga daripada memikirkan ruang untuk buku. Kita berusaha membuat rumah nyaman, membeli perabot, mempercantik ruangan, dan mengisi waktu dengan berbagai hiburan. Semua itu tentu tidak salah. Namun, mengapa menyediakan sedikit ruang untuk buku sering kali belum menjadi prioritas?

Aku memahami bahwa budaya membaca tidak bisa dibangun hanya dengan menyediakan rak buku. Buku yang tersimpan rapi tetapi tidak pernah dibaca tentu belum cukup. Perlu ada keteladanan orang tua. Anak-anak akan lebih mudah mengenal kebiasaan membaca jika melihat orang-orang di sekitarnya juga membaca.

Rumah semestinya tidak hanya menjadi tempat anak mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Rumah juga bisa menjadi tempat mereka menemukan pengetahuan secara mandiri. Kebiasaan membaca tidak harus selalu dimulai dengan buku tebal atau bacaan yang sulit. Buku cerita, majalah anak, komik edukatif, dan bacaan sederhana bisa menjadi pintu masuk.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap buku bekas. Buku bekas bukan berarti buku yang tidak berharga. Selama halaman-halamannya masih terbaca, isinya masih relevan, dan kondisinya masih layak, buku tersebut tetap memiliki manfaat. Berbagi buku bekas bahkan dapat menjadi bentuk kepedulian sosial kepada keluarga yang membutuhkan.

Pada Hari Saraswati ini, aku kembali mengingat ibu. Perempuan yang dahulu rajin memberiku uang untuk membeli buku pelajaran, tetapi pernah membuang buku-buku yang begitu kusayangi. Aku tidak lagi ingin memperdebatkan peristiwa itu. Ibu mungkin hanya ingin kamarku terlihat rapi. Sementara aku, sebagai seorang anak, belum memahami bahwa setiap orang memiliki cara berbeda dalam memandang sebuah benda.

Kini ibu sudah tiada. Buku-buku masa kecilku juga tidak lagi ada. Namun, ingatan tentang keduanya masih tinggal dalam diriku. Aku tidak tahu apakah ibu akan menyukai perpustakaan kecil di kamar kontrakanku sekarang. Mungkin ia akan kembali menganggap buku-buku itu terlalu banyak dan membuat kamar terlihat berantakan.

Namun, aku ingin percaya bahwa ada sesuatu yang diwariskan ibu kepadaku, meskipun mungkin tidak pernah disadarinya. Ibu mendukung pendidikanku. Ia membiayai buku-buku pelajaran dan memberiku kesempatan untuk belajar. Dari sana, kecintaanku terhadap pengetahuan tumbuh, meskipun perjalanan itu juga menyimpan sebuah kehilangan.

Barangkali, menghormati Dewi Saraswati tidak cukup hanya dilakukan melalui perayaan setahun sekali. Penghormatan terhadap ilmu pengetahuan semestinya hadir dalam tindakan sehari-hari. Kita merawat buku, menyediakan ruang untuk membaca, mengajarkan anak-anak agar tidak membuang pengetahuan, dan mewariskan bacaan kepada mereka yang datang setelah kita.

Pagi ini, setelah membersihkan buku-buku di rak kecil kamar kontrakanku, aku teringat ibu. Aku teringat buku-buku pelajaran yang dahulu diletakkannya di tempat sampah dekat halaman rumah. Aku juga teringat diriku sendiri, seorang anak yang hanya bisa diam menyaksikan buku-buku kesayangannya dibuang.

Kini aku memahami bahwa buku bukan sekadar benda yang dibeli untuk memenuhi kebutuhan sekolah. Buku menyimpan pengetahuan, pengalaman, ingatan, dan kemungkinan untuk membuka dunia yang lebih luas. Sebuah buku mungkin selesai dibaca seseorang, tetapi belum tentu selesai memberikan manfaat bagi orang lain.

Aku berharap semakin banyak rumah memiliki ruang baca atau perpustakaan kecil. Tidak perlu besar dan mewah. Cukup ada tempat untuk menyimpan buku, merawatnya, dan membiarkan anggota keluarga membacanya. Buku-buku yang kita simpan hari ini mungkin akan menjadi sumber pengetahuan bagi anak-anak kita esok hari.

Mungkin itulah salah satu cara sederhana merayakan Saraswati: tidak membiarkan pengetahuan berhenti pada diri sendiri, melainkan merawat dan mewariskannya kepada orang lain.

Buku-buku yang dahulu dibuang ibu ternyata tidak pernah benar-benar pergi dari kehidupanku.

Tentang Penulis

I Ketut Angga Wijaya adalah penulis dan jurnalis yang tinggal di Denpasar, Bali. Ia menulis puisi, esai, dan artikel jurnalistik. Sejak 2018, ia telah menulis dan menerbitkan 21 buku. Tulisan-tulisannya mengangkat persoalan kebudayaan, kehidupan sosial, sastra, dan pengalaman sehari-hari. Ia juga aktif menulis untuk sejumlah media daring.

Apa Komentar Anda?