Jurus Jitu Nilmaizar Tahan Imbang Bali United Di Kandang

GIANYAR, Kanalbali – Bali United menjamu Persela Lamongan di Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, kamis (31/10) dengan target tiga poin. Sukses menyapu bersih 12 laga kandang sampai pekan ke-25, ditambah kondisi Persela Lamongan yang berantakan berada di papan bawa klasemen, menjadikan mereka favorit untuk memenangi pertandingan.

Faktanya berbeda. Mereka hanya mampu mengamankan satu poin dihadapan ribuan pendukungnya sendiri. Gol cetak oleh Malvin Platje (26) sebelum akhirnya disamakan oleh Arif Staria (66). Bahkan diakhir pertandingan, anak asuh Stefano Cugurra hanya mencatatkan presentase penguasaan bola 47 persen yang kalah dari Persela Lamongan yang punya 53 persen. Dengan presentasi tersebut, jelas ada indikasi kuat bahwa ada yang tidak beres dengan pola serangan Bali United.

“Hasil hari ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, babak pertama kita sudah unggul, tapi sampai akhir pertandingan kita tidak bisa mempertahankan kemenangan. Tapi kita harus melihat kedepan, masih banyak pertandingan dan kita harus fokus,” Ungkap Pelatih Bali United Stefani Cugurra pada sesi Post Match Press Confrence.

Bali United memainkan pola dasar 4-2-3-1 di awal pertadingan. Spasojevic ditempatkan sebagai ujung tombak untuk menggedor pertahanan Persela Lamongan. Namun sepanjang pertandingan, Spaso sapaan akrabnya nampak terisolasi dilini depan. Total tendangan yang dilesatkan Bali United hanya di angka 7 dan setengah diantaranya mampu mengarah ke gawang. Jumlah rata-rata yang sangat minim jika dibandingkan dengan pertadingan sebelumnya.

Pelatih Persela Lamongan Nil Maizar tampaknya paham betul kekuatan Bali United ada di lini tengah yang merupakan jantung permainan. Secara khusus Nil sapaan akrabnya menginstruksikan Kei Hirose untuk merusak permainan Serdadu Tridatu dari lini kedua.

“Memang saya sampaikan secara khsus ke dia (Kei Hirose), saya bilang kalau dia di Persela sebagai pemain asing. pemain asing itu harus menjadi contoh semangat yang baik bagi pemain lokal, dia juga punya banyak pengalaman sebelum main di Persela. itu yang saya tegaskan terus,” ungkap Nil.

Srategi Nil menempatkan gelandang jangkar yang didorong agak kedepan nerlihat jitu. Sepanjang babak pertama saja, BU yang mampu melakukan serangan sebanyak 58 kali, hanya 28 yang terhitung membahayakan. Sebaliknya, Persela melakukan 41 serangan dan 28 yang membahyakan, dan itu lebih efektif.

Kondisi diperparah setelah turun minum. Wiliian Pacheco diganjar kartu merah setelah terlibat duel dengan penyerang Persela Lamongan Alex Dos Santos Goncalves. Dengan kartu merah tersebut, praktis BU tidak memiliki bek tangah murni.

Merespon kekosongan bek tengah, Teco lantas menggeser posisi Ricky Fajrin yang semula bek kiri menjadi bek tengah. Kondisi di kiri ditempati Fadil Sausu yang sebelumnya ada di lini tengah. Dengan situasi tersebut, Prakitis BU hanya memainkan satu gelandang Brwa Nouri.

Kondisi tersebut secara cepat direspon oleh para pemain Persela. pengawalan kepada pemain asal kota soto ketika menguasai bola di lini tengah terlihat minim. Alhasil di menit 66, Arif Satria melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang sukses menembus gawang Wawan Hendrawan. Dan skor bertahan hingga peluit panjang berakhir.

BU mendapatkan pelajaran penting. Persela pasti bukan tim terakhir yang akan menggunakan strategi ini. Teco harus mampu menemukan cara untuk mengatasinya secara lebih nyaman dan meyakinkan jika tak ingin tersusul oleh Madura United yang berada di posisi kedua klasemen.

Namun, diluar permainan yang buruk. Pelatih Bali United juga menyoroti kinerja wasit yang dinilai buruk. “Tadi jelas-jelas terjadi handball di dalam kotak penalti. tapi wasit tidak memberikan penalti kepada kita. ini harus di evaluasi jika sepak bola Indonesia ingin lebih baik,” jelasnya di akhir Post Match Pres Conference. (kanalbali/ACH)