Kejati Bali Terus Sita Aset Mantan Kepala BPN Denpasar

Penyidik Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali Rabu (12/08) kembali melakukan penyitaan terhadap dua aset milik mantan Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Denpasar TN atas perkara dugaan gratifikasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Kali ini, sebidang tanah yang diatanya berdiri sebuah rumah mewah terletak di Jl Baliku I, Kerobokan dan sebidang tanah kosong seluas 250 m² di Jl Beringin, Dalung, kabupaten Badung menjadi sasaran penyitaan.

Rumah dua lantai dan sebidang tanah itu dipasangi plang tanda penyitaan. “Hari ini termasuk kemaren tim penyidik gratifikasi dan Tindak Pidana Penyitaan Uang (TPPU) melaksanakan penyitaan terhadap barang bukti di dua tempat yaitu Kerobokan dan Dalung,”terang Kasipenkum Kejati Bali, A. Luga Harianto.

Masih ada beberapa aset yang belum dilakukan penyitaan, salah satunya adalah sebidang tanah di kawasan Padang Sambian. “Jika ada masyarakat yang menerim atau memiliki info bahwa TN masih memiliki aset, kami harapkan dukungannya, nantinya akan kami telusuri. Hal ini juga untuk memudahkan kami dalam pembubuktian di persidangan,”ujarnya.

“Dengan penyitaan ini menjadi tahap tahap akir pemberkasan. Harapanya jika sudah selesai, kita serahkan ke jaksa peneliti, jika dinyatakan sudah lengkap segera kita limpahkan ke pengadilan Tipikor untuk dibuktikan segala hal yang disangkakan kepada TN,”ungkapnya.

Penetapan TN sebagai  tersangka didasarkan pada surat perintah penyidikan Kajati Bali nomor: PRINT- 03/N.1.1/FDd.1/08/2019 tanggal 15 Agustus 2019 tentang tindak pidana korupsi gratifikasi kepada penyelenggara negara pada Kantor Pertanahan Kota Denpasar.

Dalam perkara dugaan gratifikasi, tersangka Tri Nugroho dijerat Pasal 12B atau Pasal 11 UU Tipikor tentang gratifikasi kepada penyelenggara negara. Kasus gratifikasi itu diduga terjadi saat Tri Nugraha menjabat kepala BPN Denpasar sedari tahun 2007 sampai 2011.

Terlebih, dalam beberapa kasus semisal jual beli tanah senilai hampir Rp150 miliar yang melibatkan mantan wakil gubernur (Wagub) Bali Ketut Sudikerta dengan korbannya Maspion Grup mencuatkan TN. Ia dituding menerima Rp10 miliar dari Sudikerta. Penyidik kemudian melakukan penyidikan dengan dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Hasil pengembangan penyidik menemukan dugaan gratifikasi selama menjabat sebagai Kepala BPN.  ( kanalbali/WIB )

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.