Kesiagaan Warga Bali Hadapi Bencana: Perlu Edukasi Biar Tak Panik dan Berpolemik

DENPASAR – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Denpasar menyelenggarakan webinar bertajuk “Mitigasi Bencana di Destinasi Wisata, Keselamatan atau Keuntungan?” pada Rabu (7/4).

Dalam acara itu, Kepala Sub Bidang Mitigasi Pengamatan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana menyebutkan, kesiap-siagaan suatu daerah dalam menghadapi bencana tergantung dari edukasi soal mitigasi bencana yang diberikan oleh pemerintah setempat. Sebab, kata Devy, jika berkaca pada pengalaman tahun 2017-2018 saat erupsi Gunung Agung, masyarakat di Bali tak cukup siap dalam hal mitigasi bencana.

“Itu tergantung seberapa siap masyarakatnya menghadapi bencana, kalau memang masyarakatnya sudah dilatih oleh pak rentin dan kawan-kawa, sudah siap, pasti mereka tidak akan panik. Kalau tidak siap pasti mereka akan panik. Refleksinya apa ? ternyata kejadian erupsi tahun 2017 lalu, ternyata kita tidak cukup siap untuk melakukan respon. Saat media menyampaikan ada ancaman, respon dari pentahelix lainnya tidak terkait, jadi antara pentahelix lainnya malah berpolemik. Hal seperti ini harusnya tidak terjadi,” kata Devy.

“Sekarang kita tanya dulu, pertama Pak rentin dan teman-teman BPBD yang lain di daerah, misalnya sekarang Gunung Agung naik ke level 4, apa yang sudah disiapkan? Kalau sudah siap mungkin itu tidak akan terjadi lagi kepanikan, karena setiap tahun dan setiap bencana itu relatif sama dan itu berulang, makanya perlu persiapan. Harapannya kedepan kita bisa membangun kesiapan ini, kalau misalnya sekarang sudah siap, maka untuk mengevakuasi tidak sulit, nah kesiapan ini kan pastinya Pak Renting dan unusur BPBD Bali yang lebih bisa memhami,” lanjutnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Bali Made Rentin mengatakan kesiapan Bali dalam mitigasi bencana belum sepenuhnya siap 100%. Menurut dia, hal itu akan menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh BPBD Provinsi Bali agar bisa meminimalisir resiko jika sewaktu-waktu terjadi bencana khusunya erupsi gunung Agung.

“Kalau ditanya siap, siap 100% belum ya, dan itulah tugas kami di pemerintah daerah melalui BPBD, karena salah satu indikator keberhasilan siapapun yang betugas di BPBD adalah bagaimana membuat kesiapan dari masyarakat bisa maksimal,” kata dia.

Kepala BPBD Provinsi Bali Made Rentin – IST

Rentin menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah skema agar kesiapan masyarakat bisa 100%. Salah satunya dengan menjadikan tanggal 26 setiap bulan sebagai hari simulasi bencana, dan menggandeng desa adat. “Gubernur sudah menetapakan simulai bencana, simulasi bencana itu dilakukan oleh kita semua, setiap tanggal 26 setiap bulan. Simulasi itu dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar sampai dengan skup terbesar,” kata dia.

“Kami mulai membangun dan berkolaborasi dengan desa adat, harapan kami kita mulai menggalang teman-teman kami di desa adat untuk mulai bergerak dalam kesiap siagaan becancana, salah satunya adalah mereka mulai melatih diri, melakukan kesiapan becana.

“Bagaimana kalau sampai dalam waktu dekat terjadi bencana di gunung agung? Kami sempat membuat pemetaan evakuasi berbasis banjar dan berbasis desa, kami sempat dipetakan ada 28 desa di lingkar gunung agung, di 28 desa itu tentu ada banjar, dusun, dan kepala dusun, dan disana sudah kami sebar dan proses pendaat sedang berlangsung dan mendekati finalisasi.  Mereka tentu memiliki warga yang berada di kawsan rawan bencana, sehingga evakuasi tertrusktur bisa kami lakukan, dari dusun A ke dusun B bisa kami lakukan dengan baik.  Jadi pemetaan itu sedang kami lakukan,” tutur rentin.

Diluar dari dua pemateri itu, ada hal yang juga harus diperhatikan oleh para wartawan saat meliput bencana alam. Yoyo Raharyo Redaktur Radar Bali, menekankan pentingnya pekerja media untuk menambah pengetahuan agar penyamapaian informasi kepada masyarakat bisa lebih tepat.

“Kalau media untuk terus meningkatkan pengetahuan terkait dengan kebencanaan, dengan adanya pak rentin dan pak devi itu harus menjadi sumber yang dijaga dengan baik. Saya piker teman teman wartawan harus meningkatkan kemampun dan sumber sumber harus diperluas agar berimbang dan tidak berat sebelah,” tuturnya. (kanalbali/RLS)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.