DENPASAR, kanalbali.id – Musik tidak hanya menjadi ruang untuk mengasah bakat, tetapi juga medium untuk menanamkan toleransi, inklusi, dan keberanian melindungi sesama.
Pesan itu digaungkan dalam Denpasar Youth Music & Character Awards 2026 yang resmi dibuka di Amphitheater Living World Denpasar, 27 Agustus 2026.
Acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar, I Wayan Eka Apriana, S.ST.Par.
Kehadiran pemerintah kota menjadi bentuk dukungan terhadap gerakan anti-perundungan yang digaungkan Sanggar Musik Sunar Sanggita melalui seni musik.
Pembukaan oleh unsur Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar sekaligus memperkuat legitimasi isu anti-perundungan dan pendidikan inklusif yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
Sebelumnya, dukungan juga diberikan Dinas Pendidikan Provinsi Bali melalui surat rekomendasi kegiatan.
Pendiri Sanggar Musik Sunar Sanggita, I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, mengatakan dukungan pemerintah memiliki arti penting bagi perjalanan sanggar yang selama ini tidak hanya berfokus pada kemampuan bermusik.
“Kami ingin bagaimana anak-anak kami yang kami latih bermain musik tidak hanya pintar dalam bermain musik saja, tetapi juga bagaimana mereka kami latih untuk menjadi anak-anak yang positif, anak-anak yang bisa menghargai perbedaan, anak-anak yang bisa saling melindungi dan menjaga di lingkungan sekolah mereka masing-masing,” ujar Wiguna.
Berangkat dari pengalaman perundungan
Gagasan menggaungkan toleransi melalui musik tersebut berangkat dari pengalaman pribadi Wiguna. Saat masih TK, ia pernah mengalami perundungan dari teman-temannya akibat kondisi disabilitas yang dimilikinya.
“Kursi saya ditarik ketika saya mau duduk sehingga saya terjatuh, dan beberapa benda disembunyikan,” kenangnya.
Pengalaman itu kemudian membentuk keyakinannya bahwa penyandang disabilitas merupakan kelompok yang rentan menjadi korban perundungan di lingkungan pendidikan.
Dari sana, Wiguna membangun sanggar yang tidak hanya mengajarkan musik, tetapi juga pendidikan karakter.
“Kami ingin tidak ada lagi pandangan bahwa disabilitas itu orang yang tidak memiliki kemampuan, orang yang lemah, atau orang yang perlu dikasihani. Kami ingin membangun citra bahwa disabilitas itu setara dengan yang lain,” tegas Wiguna.
Mengusung tema “Merdeka dari Perundungan: Gaungkan Toleransi dan Inklusi Melalui Seni Musik”, kegiatan ini melibatkan 74 anak dari jenjang TK hingga SMA bersama 13 pengajar tunanetra Sanggar Musik Sunar Sanggita. Mereka didukung 23 orang panitia penyelenggara.
Peserta tidak hanya berasal dari Denpasar, tetapi juga Ubud, Bangli, hingga Tabanan. Rangkaian acara menghadirkan 11 grup band, ansambel gitar, drum, dan pianika.
Selain pertunjukan musik, acara juga diisi pemutaran perdana film pendek “Nada dalam Gelap”. Film tersebut mengisahkan Bumi, seorang anak tunanetra yang berjuang agar dapat diterima di sebuah sanggar musik.
Ada pula talkshow “Disability Awareness for Children” yang mengajak penonton mempelajari bahasa isyarat dasar.
Disiapkan hanya tiga minggu
Persiapan kegiatan dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan, dengan waktu efektif hanya tiga minggu sejak pengumuman kegiatan pada 15 Juli 2026.
Para peserta menjalani latihan intensif tiga hingga empat kali dalam seminggu. Durasi latihan mencapai satu hingga lima jam setiap sesi.
“Anak-anak ini bagaimana mereka tidak menyerah, terus mengikuti rangkaian kegiatan yang kita selenggarakan,” ujar Wiguna, mengapresiasi konsistensi para peserta di tengah kesibukan sekolah.
Living World Denpasar dipilih sebagai lokasi karena memiliki infrastruktur dan manajemen yang dinilai mendukung kegiatan positif sekaligus kebutuhan pengajar tunanetra.
“Mereka memiliki panggung amfiteater yang sangat besar, kemudian memiliki peralatan yang sangat lengkap, kemudian juga tentunya benar-benar mengakomodasi kawan-kawan pengajar tunanetra dengan sangat baik,” kata Wiguna.
Sanggar Musik Sunar Sanggita sebelumnya juga telah beberapa kali menggelar kegiatan di lokasi tersebut, salah satunya pada Juli 2026.
Ditargetkan menjadi agenda tahunan
Wiguna memastikan kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah konser. Denpasar Youth Music & Character Awards direncanakan menjadi agenda rutin tahunan, dengan kegiatan serupa akan kembali digelar pada Agustus 2027.
“Kami yakin satu anak yang bisa melindungi satu temannya di sekolah akan menular kepada anak-anak lainnya,” ujarnya.
Kegiatan ini turut didukung Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kota Denpasar, Dinas Pendidikan Provinsi Bali, Living World Denpasar, SMP Bali Dharma School, serta Yayasan Pendidikan Musik Lima Nada. SMP Bali Dharma School merupakan tempat para pengajar tunanetra Sunar Sanggita mengajar ekstrakurikuler.
Yayasan Pendidikan Musik Lima Nada, sebagai sanggar musik inklusif lainnya, juga turut menampilkan siswa disabilitas berkolaborasi dengan siswa non-disabilitas Sunar Sanggita.
Sanggar Musik Sunar Sanggita sendiri didirikan Wiguna karena keprihatinannya terhadap teman-teman seperjuangan semasa sekolah di SLB yang memiliki bakat musik luar biasa, tetapi kesulitan mendapatkan pekerjaan yang konsisten. Ia kemudian mengajak dan melatih mereka menjadi pengajar musik.
Meski pada awalnya menghadapi keraguan dari orang tua murid, sanggar tersebut terus berkembang. Kini Sunar Sanggita memiliki cabang di Denpasar dan merencanakan ekspansi ke Tabanan, Bangli, serta kota-kota lain, termasuk Surabaya dan Jakarta. (AWJ)


