DENPASAR, kanalbali.id – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali kembali menggelar Muspa II Kelompok Siswa Peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN). Kegiatan yang melibatkan pelajar SMP dan SMA/SMK dari 9 kabupaten/kota se-Bali ini digelar sebagai upaya memperkuat edukasi dan pencegahan HIV/AIDS di kalangan remaja.
Muspa II KSPAN dijadwalkan berlangsung pada 29-30 September 2026 di Wisma Nangun Kerti, Pancasari Buleleng. Selain menjadi ajang pertemuan antarpelajar, kegiatan ini juga diisi dengan berbagai lomba dan penguatan kapasitas.
Kepala Sekretariat KPA Provinsi Bali, Anak Agung Ngurah Patria Nugraha, mengatakan Muspa KSPAN merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap dua tahun.
Kanwil Kemenkumham Bali Ikuti Apel Kesiapan Pengamanan Hari Raya Idul Fitri 1445 H Secara Virtual
“Tujuan Muspa ini yaitu mempererat hubungan antar siswa dan remaja dalam isu pengendalian dan pencegahan HIV/AIDS,” kata Patria saat ditemui di Wisma Sabha, Kantor Gubernur Bali, Rabu (26/8/2026).
Menurut Patria, remaja menjadi kelompok penting dalam program pencegahan HIV/AIDS. Sebab, edukasi tidak cukup hanya diberikan kepada kelompok yang dianggap berisiko, tetapi perlu menjangkau generasi muda secara luas.
“Isu HIV/AIDS ini tidak hanya pada orang di tempat kerja. Siapa saja sebetulnya bisa menularkan ataupun terkena HIV/AIDS,” ujarnya.
Karena itu, KPA Bali ingin menjadikan pelajar sebagai garda terdepan dalam menyebarkan informasi mengenai HIV/AIDS kepada teman sebaya.
“Kita targetkan siswa-siswi ini menjadi garda kami untuk meneruskan informasi kepada rekan ataupun sejawatnya,” imbuhnya.
KSPAN Tersebar di 9 Kabupaten/Kota
Patria menyebut KSPAN saat ini telah tersebar di 9 kabupaten/kota di Bali. Namun, bentuk kelembagaan KSPAN di sejumlah sekolah berkembang mengikuti kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Sebagian KSPAN, kata dia, ada yang bergabung dengan kegiatan lain seperti Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), Palang Merah Indonesia (PMI), maupun ekstrakurikuler sekolah.
Meski demikian, edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV/AIDS tetap berjalan.
KPA Bali dalam menjalankan program tersebut juga berkoordinasi dengan KPA kabupaten/kota serta sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas Kesehatan.
“Memang ada beberapa kabupaten yang perlu support dari provinsi untuk membangkitkan kembali semangat anak-anak siswa-siswi ini. Karena semenjak COVID, program ini kurang semangatnya,” ungkap Patria.
Untuk menjaga keberlanjutan program, KPA Bali berkomitmen menggelar Temu Remaja KSPAN setiap dua tahun. Sekolah yang dilibatkan juga akan digilir agar semakin banyak pelajar mendapat kesempatan mengikuti kegiatan.
Edukasi HIV/AIDS Tak Bisa Lagi Cuma Pakai PPT
Menurut Patria, keberadaan KSPAN cukup efektif untuk menyampaikan edukasi kepada remaja. Alasannya, informasi yang disampaikan oleh teman sebaya dinilai lebih mudah diterima.
“Kalau kita memberikan informasi kepada satu atau dua orang yang dipercaya di sekolah, kemudian dia bisa menyebarkan informasi kepada teman-temannya, saya rasa ini akan semakin masif,” katanya.
Namun, cara penyampaian informasi juga harus mengikuti perkembangan zaman. KPA Bali menyadari karakter generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya.
Patria menilai sosialisasi dengan metode konvensional seperti presentasi menggunakan PowerPoint saja tidak lagi cukup.
“Perkembangan zaman ini tidak bisa dipungkiri. Kita tidak mungkin monoton. Jadi sumber daya manusia kita juga perlu di-update, paling tidak pelatihan khusus bagaimana melihat gaya anak sekarang,” jelasnya.
Konsep itu kemudian diterapkan dalam Muspa II KSPAN. Edukasi dikemas lebih beragam dengan pertemuan, penguatan kapasitas, lomba hingga hiburan.
Ada 4 Lomba di Muspa II KSPAN
Dalam Muspa II KSPAN 2026, terdapat dua agenda utama yakni Temu Siswa KSPAN dan Temu Guru Pembina KSPAN.
Temu siswa akan menjadi ruang bagi pelajar untuk bertukar pengalaman, memperkuat kapasitas, sekaligus membangun jejaring antarsiswa KSPAN dari berbagai daerah.
Sementara Temu Guru Pembina menjadi wadah bagi para pembina untuk berbagi pengalaman dan memperkuat koordinasi dalam pembinaan KSPAN di sekolah.
Tak hanya berdiskusi, peserta juga akan mengikuti empat jenis lomba, yakni Tutor Sebaya, Mading, Pembuatan Video Edukasi On The Spot, dan Jejak KSPAN.
Panitia dan tim juri bahkan telah menggelar rapat untuk mematangkan perangkat penilaian lomba. Rapat tersebut berlangsung di Wisma Sabha, Kantor Gubernur Bali, Rabu (26/8).
Instrumen penilaian dibahas agar proses penjurian berjalan objektif, terukur, transparan, adil, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Setelah difinalisasi, kriteria dan mekanisme penilaian akan disosialisasikan kepada calon peserta dari 9 kabupaten/kota se-Bali.
Peserta Berdasarkan Rekomendasi Dinas Pendidikan
Untuk peserta, KPA Bali telah bersurat kepada Dinas Pendidikan sesuai kewenangan masing-masing jenjang pendidikan.
Peserta nantinya merupakan pelajar yang mendapat rekomendasi dari pihak terkait. KPA kabupaten/kota juga akan membantu menentukan sekolah yang dinilai sesuai untuk mengikuti kegiatan.
Patria berharap peserta tidak sekadar pulang membawa pengalaman mengikuti kegiatan. Mereka juga diharapkan membawa pengetahuan baru dan jaringan pertemanan yang lebih luas.
“Yang pertama tentu ilmunya, yang kedua menambah relasi dan pertemanan dari beberapa kabupaten,” ujarnya.
Para peserta juga akan memperoleh sertifikat. Sertifikat tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan untuk mendukung perjalanan pendidikan mereka ke jenjang berikutnya.
KSPAN Disebut Lahir dari Bali
Patria mengatakan KSPAN menjadi salah satu program yang dibanggakan Bali karena program tersebut lahir di Provinsi Bali.
Di daerah lain, terdapat program dengan istilah berbeda, seperti Warga Peduli AIDS (WPA). Sementara di Bali, terdapat KSPAN dan KJPA yang menjadi bagian dari upaya pencegahan HIV/AIDS.
Muspa II KSPAN sendiri merupakan pengembangan dari kegiatan yang sebelumnya dikemas dalam bentuk jambore.
“Dulu sebenarnya sudah pernah, cuma bukan namanya Temu Remaja. Bentuknya jambore, seperti Jambore Pramuka. Kegiatannya dilaksanakan dua atau tiga tahun sekali sekitar 2015” ungkap Patria.
Kini konsep tersebut dikembangkan menjadi Temu Remaja KSPAN. Bukan sekadar berkumpul, kegiatan dirancang menjadi ruang edukasi, diskusi, penguatan kapasitas, sekaligus menyalurkan kreativitas pelajar.
“Keinginan kami memang inilah wadah tempat kita bertukar pikir dan memberikan semangat kepada siswa-siswi melalui kreativitas lomba-lomba,” pungkasnya. (kanalbali/RLS)


