Pasar Hilang Saat Pandemi, Waktunya Petani Putar Haluan

RUMAH kaca untuk sayuran milik Made Gunada di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan - Made Argawa

BERMITRA dengan beberapa gerai makanan cepat saji ternama membuat Made Gunada, 56, berbeda dari petani kebanyakan. Omsetnya bisa mencapai sekitar Rp 5 miliar sebulan.  Tak kurang dari 8 ton sayuran segar dipasoknya ke sekitar 400 gerai makanan cepat saji di seluruh Indonesia setiap hari.

Sejak pandemi COVID-19 melanda, gerai gerai itu mendadak menyetop permintaan sayuran segar. Itu karena omset penjualan mereka yang menurun. “Restoran hanya melayani pesan bawa pulang,” ujar alumni Universitas Udayana Jurusan Ekonomi itu.

Gunada yang bermitra dengan hampir 100 petani di wilayah Bali dan pulau Jawa itu pun terpaksa mengambil langkah taktis. Ia memutus sementara kerjasama dengan petani petani binaannya itu.

MADE Gunada di restoran Bingo yang dikembangkannya – Made Argawa

Ia pun sementara beralih menanam kentang dan daun bawang di lahan miliknya di wilayah Baturiti, Tabanan. Itu karena dua jenis komoditi itu lebih mudah dijual di pasaran lokal. Produksi sayur sayuran seperti lettuce, tomat, mentimun dan bawang bombay yang biasa disalurkan ke gerai gerai makanan cepat saji, distop untuk sementara. .

Padahal menjadi suplayer untuk restoran cepat saji dengan standar internasional, kata Gunada, bukanlah hal mudah.  Ia harus menjamin seluruh proses berdasarkan standar tertentu, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, panen hingga paska produksi. “Memang tidak dibeli dengan harga tinggi, tapi berkesinambungan dan bayaranya tepat waktu,” ujarnya.

BACA JUGA :

Gunada merintis usahanya dengan bermitra dengan  McDonald di tahun 1993. Saat itu, baru ada tiga restoran cepat saji tersebut di Bali.  “Saya tawarkan jeruk lemon pertamakalinya,” kenang Gunada.  Seiring waktu berjalan, Made Gunada juga bermitra dengan beberapa merek tempat makan lainnya seperti Domino’s Pizza, Wendys hingga Burger King. “Kami produksi sayuran organik, langsung bisa konsumsi mentah,” ujarnya.

Kini, di tengah pandemi, Gunada juga memilih lebih serius mengembangkan restoran Bingo di berada di Banjar Pemuteran, Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali. Sekitar setengah hektar area Restoran merupakan kebun sayuran yang disulap menyerupai taman.

Ada juga rumah kaca yang berisi bibit sayuran. Jenis sayuran yang dimiliki ayah dua anak ini mencapai 80 jenis.“Wisatawan bisa datang memetik sayur sendiri dan langsung konsumsi. Ada juga edukasi tentang sayuran,” Gunada berpromosi.“Prinsip saya tetap berkarya saja,” ujarnya.

TABANAN dikenal dengan area pertanian yang sangat luas dan harus dipertahankan – Made Argawa

Dampak pandemi COVID-19 juga dirasakan Made Seriawan, 46 tahun, petani sayuran di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Hampir lima bulan ia tidak bisa menjual sayuran jenis selada keriting ke penyalur untuk dibawa ke hotel di kawasan Bali selatan. Lahan seluas 1,700 meter persegi miliknya kini hanya ditanami bunga.

“Kalau dibandingkan menjual selada, hasilnya jauh sekali dan pembeli bunga tidak tetap. Tapi paling tidak lahan tak terbengkelai,” ujarnya sambil berharap pandemi segera berlalu. Ia mengakui, pasar hasil pertaniannya memang sangat tergantung pada kondisi pariwisata.

Pengamat pertanian dari  Universitas Udayana, Prof Wayan Windia mengatakan, momentum pandemi pandemi COVID-19 mestinya digunakan untuk memaksimalkan pertanian dan merubah strategi pasar. “Jangan hanya pasar lokal Bali saja,” ujarnya.

 Harusnya, hasil pertanian seperti buncis dan ketela bisa menembus pasar ekspor. Ia mencontohkan, Singapura mendatangkan ketela dan buncis dari Sumatera.“Harusnya Bali bisa seperti itu. Petani juga harus didorong membuat kelompok atau koperasi” ujarnya.

Windia menilai, sektor pertanian akan tetap jalan di tempat tanpa dukungan dari pemerintah. “Sama seperti pariwisata Bali yang didukung penuh oleh pemerintah. Banyak pembangunan infrastrukturnya,” kata dia. “Memang mengembangkan pertanian tidak singkat dan mahal, tapi keberlanjutannya sangat penting,” kata Prof Wayan Windia. 

( kanalbali/Made Argawa )