Eco Enzyme Saat Pandemi: Olah Sampah Sambil Menghemat Belanja

Putri Witama, Luh Ade Laksmis Deswita yang masih berusia 10 tahun pun kini sudah bisa membuat eco enzyme untuk kebutuhan rumah - EPA

JAM menunjukkan pukul 15.30 WITA. Bel panjang tanda pulang kantor berbunyi. Ketut Witama, 35, segera menggeber sepeda motor matik miliknya membelah Kota Singaraja hinga ke jalur perlintasan Jalan Raya Singaraja-Denpasar.

Sesekali dia mampir di pedagang atau toko buah. Bukan untuk membeli, tapi untuk mengambil sampah atau buah yang sudah busuk. Seperti pada sore itu, Selasa (14/07/2020), ia mengawalinya dengan mendatangi mini market di bilangan Jalan Ahmad Yani, Singaraja. Di sana ia mendapatkan beberapa buah yang sudah busuk.

Ia pun bergegas mengendarai sepeda motornya ke arah barat kota. Kali ini ia mendatangi lapak pedagang nanas madu di depan konter jasa ekspedisi. Di sana ia mendapat satu boks besar sampah berupa kulit nanas. “Wah tumben banyak sekali ini mas. Tolong bantu saya taruh di jok belakang,” pinta pegawai di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Buleleng itu.

Witama saat mengambil sampah dari penjual buah – EPA

Ia kembali berkendara ke arah barat. Kali ini seorang pedagang buah jeruk di wilayah Desa Anturan didatangi. Di sana ia mengambil satu kantong plastik sampah berupa daun jeruk dan buah jeruk busuk. Sampah-sampah yang didapat langsung dibawa ke rumahnya, di Perumahan Taman Wira Lovina.

Begitu sampai di rumah, ia bergegas mengolah sampah-sampah itu. Tong-tong besar berukuran 35 liter disiapkan. Tong itu kemudian diisi air, sampah buah, dan molase. Semuanya diisi dengan takaran tertentu. Sampah-sampah basah itu, hendak diolah Witama menjadi eco enzyme, yakni cairan alami yang dapat digunakan sebagai cairan pembersih maupun disinfektan organik.

Ia mulai menggeluti pembuatan eco enzyme sejak bulan April lalu. Awalnya ia mengikuti pelatihan pembuatan eco enzyme yang dimotori oleh Ferry Tanaya, Ketua Komunitas Eco Enzyme di Kabupaten Buleleng.“Karena saya sudah pernah buat kompos, buat olahan sampah organik yang lain juga sudah pernah. Jadi saya waktu itu merasa biasa saja,” cerita Witama.

Pedagang buah merasa terbantu karena sampah yang dihasilkan sudah ada yang menampungnya – EPA

Perubahan terjadi, saat pandemi melanda, ia sempat mengalami kejenuhan. Karena itu, dipermaknya interior rumah sedemikian rupa dan plafon di garase dicat agar menyerupai awan dan langit. Semua hanya untuk mengisi waktu kosong di rumah.

Belakangan, dia ingin menjajal pengetahuan yang didapat saat pelatihan eco enzyme. Diawali dengan satu tong besar berukuran 35 liter. Satu tong ia isi dengan 3,5 kilogram molase, ditambah 10,5 kilogram sampah basah.

Sisanya diisi dengan air bersih. Tong kemudian ditutup rapat. Cairan yang dicampur dibiarkan mengalami proses fermentasi. Baru tiga bulan kemudian cairan itu difermentasi.“Saya sudah sempat panen satu tong. Itu langsung saya manfaatkan,” ungkapnya.

Hasilnya panen eco enzyme itu pun langsung dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan. Mulai dari mencuci kendaraan bermotor, mencuci perabot rumah tangga, membersihkan kaca, dan mengepel lantai. Bahkan sejak beberapa pekan terakhir, cairan eco enzyme ia manfaatkan untuk sabun pembersih badan, shampoo, hingga menggosok gigi. Otomatis, pengeluaran rumah tanggapun bisa dihemat.

Eco enzyme yang sudah dikemas dalam botol dan siap dimanfaatkan – EPA

Sang istri, I Gusti Ayu Wiwik awalnya tak percaya dengan khasiat eco enzyme. Ia baru percaya setelah panci presto kesayangannya yang telah berwarna hitam bisa cling kembali setelah dicuci dengan eco enzyme.“Akhirnya saya ikut nyari-nyari sampah dan buah,” cerita Wiwik.

Selain untuk mencuci perabotan, Wiwik juga memanfaatkan cairan eco enzyme untuk menggosok gigi. Ia mulai menggunakan saat ia hamil tua. “Waktu itu dokter kandungan menyarankan saya ke dokter gigi untuk mengurangi karang gigi tapi saya takut karena sedang pandemi. Lalu disarankan sama suami pakai eco enzyme dan ternyata lumayan berkurang karang giginya. Lumayan bisa menghemat ongkos ke dokter gigi Rp300 ribu. ,” katanya lagi.

Istri Wirama, I Gusti Ayu Wiwik, yang awalnya tak peduli kini ikut membantu pembuatan eco enzyme setelah merasakan manfaatnya – EPA

Kini dengan dukungan keluarga, Witama terus membuat cairan ‘ajaib’ itu. Setiap hari Witama dibantu putri sulungnya, Luh Ade Laksmi Deswita, 10, membuat dalam skala kecil. Sampah basah yang dihasilkan dari dapur keluarga, dimanfaatkan lalu hasilnya dikemas dalam botol air mineral kemasan 1,5 liter.

Kepala DLH Buleleng Putu Ariadi Pribadi mengatakan, eco enzyme ditemukan oleh Dr. Rosukon Pooompanvong, pakar lingkungan asal Thailand dan kemudian menyebar luas. “Kami ingin supaya di tiap rumah tangga bisa membuatnya seperti Witama,” ujarnya. Karena belum banyak yang mau, pihaknya melakukan uji coba dulu di Tempat Pengelolaan Sampah sambil menggencarkan sosialisasinya. ( Kanalbali/EPA)